Abstract:Hypertension is a chronic condition characterized by increased blood pressure on the artery walls, which can lead to serious complications such as stroke, kidney failure, and heart disease. This study aimed to determine…
the effect of deep breathing relaxation techniques on lowering blood pressure in elderly people in Bate Linteng and Lambunot Villages, Aceh Besar. This quantitative study used a pre-experimental design using a one-group pretest-posttest. The study was conducted from August 26 to August 31, 2024, with a population and sample of 16 elderly respondents with a history of hypertension. Data collection was conducted through observation using an observation sheet and the provision of deep breathing relaxation techniques. The results showed that the average blood pressure before the intervention was 148/90 mmHg with a standard deviation of 9.674, while after the intervention, it decreased to 143/87 mmHg with a standard deviation of 9.050. The statistical test results using the Paired Sample t-Test showed a significance value of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant effect between deep breathing relaxation techniques and blood pressure reduction. The results of this study are expected to provide information for hypertension sufferers and their families that deep breathing relaxation techniques are a form of non-pharmacological therapy that can be performed independently to control blood pressure.
Abstract:Background: Diabetes mellitus is a chronic metabolic disorder caused by high levels of physical activity, high sugar consumption, reduced insulin production, and impaired insulin response or other hormones that inhibit insulin…
nsulin action. Based on IDF data, the prevalence of diabetes mellitus in Indonesia in 2024 is estimated to reach 11.3% of the population (approximately 20.4 million people). In addition, the Ministry of Health shows that in 2023, cases of diabetes mellitus will reach 11.7% and are predicted to continue to increase. High blood glucose levels, if left untreated, can cause various complications such as heart disease, stroke, nerve damage, and wound infections that can lead to amputation. One non-pharmacological treatment that can be given is by giving boiled moringa leaves, because moringa leaves contain antioxidants such as flavonoids, vitamins A, C, and E which can lower blood glucose levels. Objective: To determine the effect of Moringa leaf decoction on reducing blood glucose levels in diabetes mellitus patients in Sikampuh Village, Kroya District, Cilacap Regency. Method: The method used was a qualitative descriptive method with a case study approach. Results: Based on the research results, administering Moringa leaf decoction to blood glucose levels in diabetes mellitus patients for 7 days was proven to be effective in lowering blood glucose levels. Conclusion: Administering Moringa leaf decoction to diabetes mellitus patients for 7 days can lower blood glucose levels.
Abstract:Stroke is a condition in which brain function is rapidly disrupted and lasts for more than 24 hours due to an interruption of blood flow to the brain. Globally, the incidence and morbidity rates of stroke continue to increase.…
rease. The quality of life of acute and chronic stroke patients is influenced by post-stroke depression. Community resources (CR) and spiritual religious coping (SRC) factors are also related to the coping adaptation strategies of family caregivers for members who have experienced a stroke. Patients who experience post-stroke depression show a lower quality of life one year after stroke compared to those who do not experience it. This study is a quantitative research with an observational study design. The study was conducted from January to March 2024 in Kotamobagu City. The total population of stroke patients distributed across seven community health centers in Tomohon City is 200 patients. The sample was taken using total sampling method consisting of 200 family caregivers. The results were then analyzed using the Chi Square test with SPSS. All variables were significantly related to the coping adaptation strategies of family caregivers for members who had a stroke. Community resources (CR) were significantly related to caregiver coping strategies (p = 0.025), and spiritual religious coping (SRC) was also significantly related to coping strategies (p = 0.032). Community resources and spiritual religious coping among family caregivers of post-stroke patients are needed to increase motivation and reduce caregiver stress..
Abstract:Latar belakang : Hipertensi merupakan suatu kondisi yang meningkatkan risiko penyakit tergantung pada peningkatan nilai sistolik dan diastolik yang merupakan pemicu utama terjadinya gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal.…
jal. Penderita tekanan darah tinggi sering kali tidak memperlihatkan tanda apa pun sehingga “Silent Killer” menjadi sebutan untuk tekanan darah tinggi. Jus mentimun dengan kandungan kalium, kalsium, magnesium, fosfor dan air yang tinggi sehingga mampu menurunkan tekanan darah Tujuan : Untuk meningkatkan pengetahuan tentang Gambaran Pemberian Jus Mentimun Dalam Menurunkan Tekanan Darah Pada Hipertensi Grade I Di Wilayah Puskesmas Kejobong”. Metode Penelitian : Rancangan penelitian pada karya tulis ilmiah ini yaitu menggunakan rancangan penelitian studi kasus. Pada karya tulis ilmiah ini menggunakan metode penelitian deskriptif yaitu mendeskripsikan gambaran pemberian jus mentimun dalam menurukan tekanan darah pada penderita hipertensi grade I di wilayah puskesmas Kejobong. Hasil :Selama pemberian jus mentimun 1x7 hari rata-rata tekanan darah awal 147/90mmHg turun menjadi 145/88mmHg. Kesimpulan : Pemberian jus mentimun setiap harinya dengan dosis pemberian 200cc/hari mampu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.
Abstract: Proses menua merupakan proses alami kehidupan manusia serta penurunan kondisi fisik, psikologis, dan interaksi terhadap sesama. Masalah kesehatan pada lansia umumnya seperti hipertensi, stroke, penyakit jantung, diabetes…
betes mellitus, dan lain-lain. Lansia dengan Diabetes Mellitus lebih cenderung mengalami masalah psikologis seperti kecemasan. Dalam menangani masalah psikososial seperti kecemasan pada lansia dengan diabetes mellitus dapat diberikan intervensi teknik relaksasi dan distraksi yaitu terapi hipnosis 5 jari.
Tujuan dari pengabdian ini untuk meningkatkan pengetahuan diabetes mellitus, serta melatih keterampilan untuk menurunkan kecemasan lansia. Kegiatan ini dilakukan selama 2 kali pertemuan dan diikuti oleh 24 lansia. Metode yang digunakan adalah pendidikan kesehatan dengan ceramah dan video demonstrasi. Evaluasi peningkatan pengetahuan dan tingkat kecemasan menggunakan kuesioner pre test dan post test, sedangkan evaluasi keterampilan hipnosis 5 jari dengan cara observasi demonstrasi gerakan. Hasil dari kegiatan ini terdapat peningkatan pengetahuan tinggi 20 lansia (83,3%) dan tingkat kecemasan berat 1 lansia (4,2 %). Kesimpulan kegiatan ini terdapat peningkatan pengetahuan dengan pendidikan kesehatan dan penurunan tingkat kecemasan dengan keterampilan terapi hipnosis 5 jari.
Abstract:Abstract: Stroke is one of the leading causes of death and disability in various parts of the world, including in Indonesia. Along with the development of digital technology, the use of Machine Learning in the health sector…
tor is growing, one of which is in an effort to predict the occurrence of stroke. This study aims to implement the Logistic Regression algorithm in predicting the likelihood of a person having a stroke based on data from the Brain Stroke dataset. The research process includes data preprocessing (missing value handling, normalization, and label encoding), dividing the data into 80% training data and 20% test data, as well as model training. The model was then evaluated using several measures such as accuracy, precision, recall, F1-score, and ROC-AUC, as well as a confusion matrix. The results of the study showed that Logistic Regression was able to provide stroke classification results with an accuracy of 82.4%, precision of 80.1%, recall of 78.6%, F1-score of 79.3%, and a ROC-AUC value of 0.87. Then, the model is integrated into applications that use Streamlit, so it can be used interactively to predict stroke risk in new data. The results of this study show that the combination of Machine Learning and web-based applications has the potential to support efforts to detect early stroke risk.
Keywords: logistic regression; machine learning; prediction; streamlit; stroke.
Abstrak: Stroke adalah salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Seiring perkembangan teknologi digital, penggunaan Machine Learning dalam bidang kesehatan semakin berkembang, salah satunya dalam upaya memprediksi terjadinya penyakit stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan algoritma Logistic Regression dalam memprediksi kemungkinan seseorang mengalami stroke berdasarkan data dari dataset Brain Stroke. Proses penelitian meliputi preprocessing data (penanganan missing value, normalisasi, dan label encoding), membagi data menjadi 80% data latih dan 20% data uji, serta pelatihan model. Model kemudian dievaluasi menggunakan beberapa ukuran seperti akurasi, precision, recall, F1-score, dan ROC-AUC, serta confusion matrix. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Logistic Regression mampu memberikan hasil klasifikasi penyakit stroke dengan akurasi sebesar 82,4%, precision 80,1%, recall 78,6%, F1-score 79,3%, dan nilai ROC-AUC sebesar 0,87. Kemudian, model tersebut diintegrasikan ke dalam aplikasi yang menggunakan Streamlit, sehingga dapat digunakan secara interaktif untuk memprediksi risiko stroke pada data baru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi Machine Learning dan aplikasi berbasis web berpotensi mendukung upaya deteksi dini risiko stroke.
Kata kunci: logistic regression; machine learning; prediksi; streamlit; stroke.
Abstract:Hypertension is a non-communicable disease that is a global problem in both developed and developing countries and is the cause of stroke as the second death and third disability. Efforts are needed to reduce and control…
the prevalence of hypertension by utilizing nonpharmacological therapies, such as consuming young coconut water consumption. Therefore, this study aims to evaluate the effect of young coconut water consumption on reducing high blood pressure in menopausal women. A nonrandomized controlled trial study with a pretest-posttest control group design was chosen as the design of this study, which was conducted at the Community Health Center of Pekalongan, East Lampung Regency. A consecutive sampling technique was used to select eligible participants among menopausal women diagnosed with mild and moderate hypertension by medical personnel, totalling 16 treatment groups and 16 control groups. The treatment group was given the intervention of consuming young coconut water 300 ml morning and evening for seven days and taking standard hypertension medication. Meanwhile, the control group took standard hypertension medication. Participants had their blood pressure checked using an aneroid tensimeter before and after treatment. Data were analysed using a paired t-test with a confidence level (α) of 0.05 to prove the treatment effect on blood pressure reduction. The results found that the treatment of drinking young coconut water affected reducing systole blood pressure (p-value 0.016) and diastole (p-value 0.007). The average decrease in systolic and diastolic blood pressure pre and post-treatment was 11.25 mmHg and 9.87 mmHg after participants were controlled by taking standard hypertension medications. Drinking young coconut water can be used as a companion option for hypertension treatment by the community.
Abstract:Stroke merupakan penyakit neurologis yang dapat menyebabkan penurunan tingkat kesadaran. Pasien stroke dengan penurunan kesadaran dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) dan memerlukan intervensi yang tepat untuk membantu…
antu meningkatkan kesadaran. Terapi familiar auditory sensory training (FAST) dapat digunakan sebagai terapi stimulasi untuk merangsang aktivitas otak dan meningkatkan tingkat kesadaran menggunakan rekaman suara familiar bagi pasien. Mengetahui pengaruh terapi familiar auditory sensory training (FAST) terhadap tingkat kesadaran pasien stroke di ruang ICU RSUP Surakarta. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif pre-experimental pretest - posttest design one group without control group. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan responden sebanyak 21 pasien stroke. Instrumen penelitian menggunakan Glascow Coma’s Scale. Pengukuran tingkat kesadaran dilakukan sebelum dan setelah diberikan intervensi terapi familiar auditory sensory training (FAST). Analisa data menggunakan analisis univariat meliputi distribusi frekuensi dan tendensi sentral serta dilakukan analisis bivariat menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank. Hasil uji wilcoxon signed rank test didapatkan nilai p-value sebesar 0,041 < α 0,05 sehingga disimpulkan ada pengaruh terapi familiar auditory sensory training (FAST) terhadap tingkat kesadaran pasien stroke. Terapi familiar auditory sensory training (FAST) dapat meningkatkan tingkat kesadaran pasien stroke di ruang ICU RSUP Surakarta.
Abstract:Hipertensi merupakan penyebab utama komplikasi serius seperti stroke dan gagal ginjal yang banyak menyerang lansia. Salah satu strategi pencegahan adalah penerapan perilaku CERDIK (Cek kesehatan, Enyahkan asap rokok, Rajin…
in aktivitas fisik, Diet sehat, Istirahat cukup, dan Kelola stres), belum semua lansia menerapkan perilaku CERDIK secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku CERDIK dalam upaya pencegahan hipertensi pada lansia di Puskesmas Lubuk Buaya Kota Padang. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi adalah seluruh lansia yang berumur 60-74 tahun yang berkunjung ke Puskesmas Lubuk Buaya Kota Padang dengan sampel sebanyak 96 orang dipilih secara accidental sampling. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-Agustus, pengumpulan data pada tanggal 26 Mei - 5 Juni 2025. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner melalui wawancara langsung dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 45,8% lansia memiliki perilaku CERDIK kurang baik, 37,5% lansia memiliki tingkat pengetahuan rendah, 47,9% lansia memiliki akses informasi yang kurang baik dan 37,5% lansia memiliki dukungan keluarga yang kurang baik. Hasil uji statistik didapatkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan (p = 0,00) dan akses informasi (p = 0,026) dengan perilaku CERDIK. Namun, tidak terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku CERDIK (p = 0,669).
Tingkat pengetahuan dan akses informasi merupakan faktor yang berhubungan dengan perilaku CERDIK dalam upaya pencegahan hipertensi pada lansia. Diperlukan peningkatan edukasi dan penyediaan informasi kesehatan yang mudah diakses bagi keluarga lansia sebagai bagian dari intervensi promotif di tingkat puskesmas.
Kata Kunci : Hipertensi, lansia, perilaku CERDIK
Abstract
Hypertension is a non-communicable disease that often attacks the elderly and is the main cause of serious complications such as stroke and kidney failure. One of the prevention strategies recommended by the government is the implementation of CERDIK behavior (Check health, Eliminate cigarette smoke, Be diligent in physical activity, Healthy diet, Get enough rest, and Manage stress). However, not all elderly people implement this behavior optimally. This study aims to determine the factors related to CERDIK behavior in efforts to prevent hypertension in the elderly at the Lubuk Buaya Health Center, Padang City.This research is a quantitative study with a cross sectional design. The population was all elderly people aged 60-74 years and over who visited the Lubuk Buaya Health Center, Padang City with a sample of 96 elderly people selected by accidental sampling. The research was conducted in March-August. Data collection was carried out on 25 Mei – 6 Juni 2025. Data were collected using a questionnaire through direct interviews and analyzed using univariate and bivariate analysis with the chi-square test.The results of the study showed that 45.8% of elderly people had poor CERDIK behavior, 37.5% of elderly people had low levels of knowledge, 47.9% of elderly people had poor access to information and 37.5% of elderly people had poor family support. The results of statistical tests showed that there was a relationship between the level of knowledge (p = 0.000) and access to information (p = 0.026) with CERDIK behavior. However, there was no relationship between family support and CERDIK behavior (p = 0.669). Knowledge and access to information are factors associated with CERDIK behaviors in preventing hypertension in the elderly. Improved education and the provision of easily accessible health information for families of the elderly are needed as part of promotive interventions at the community health center level.
Abstract:Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang dikenal sebagai “silent killer” karena sering tidak menimbulkan gejala, namun berdampak serius terhadap kesehatan seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal.…
l ginjal. Prevalensi hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia sehingga kelompok lanjut usia (lansia) menjadi yang paling rentan. Data Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2023 menunjukkan Puskesmas Belimbing memiliki jumlah kasus hipertensi tertinggi, yaitu 12.755 orang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada lansia di Puskesmas Belimbing tahun 2025. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret–September 2025 dengan sampel 95 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat untuk melihat distribusi frekuensi, dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian didapatkan dari 95 responden, sebanyak 61,1% responden mengalami hipertensi, sebanyak 46,3% memiliki aktivitas fisik kurang, sebanyak 55,8% memiliki perilaku merokok berat, dan 64,2% mengalami keluhan stress berat. Hasil uji chi-square menunjukkan adanya hubungan aktivitas fisik (p=0,000) dan perilaku merokok (p=0,009) dengan kejadian hipertensi pada lansia, sedangkan keluhan stress (p=0,153) tidak terdapat hubungan dengan kejadian hipertensi pada lansia. Aktivitas fisik dan perilaku merokok merupakan faktor yang dapat berhubungan dengan kejadian hipertensi pada lansia. Diharapkan agar tenaga kesehatan meningkatkan penyuluhan mengenai pencegahan dan penanganan hipertensi pada lansia dengan mendorong perubahan gaya hidup sehat.