Abstract:Peningkatan kasus kekerasan seksual di kalangan remaja saat ini semakin meningkat, hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan. Di Indonesia sendiri khususnya di Kota Baubau, terdapat 251 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan…
empuan dan anak. Sepanjang tahun 2024, kasus kekerasan seksual terhadap anak tercatat sebagai kasus paling dominan di kota Baubau dengan jumlah mencapai 29 kasus. Melihat tingginya angka tersebut serta rentannya remaja menjadi korban, sehingga diperlukan intervensi edukatif yang dapat membekali siswa dengan keterampilan perlindungan diri. Kegiatan psikoedukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya pendidikan keselamatan pribadi dalam menghadapi tindakan kekerasan seksual. Psikoedukasi dilaksanakan di SMPN 1 dan SMPN 9 Baubau dengan melibatkan 58 siswa. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain pre-test dan post-test untuk mengevaluasi efektivitas intervensi. Materi disampaikan secara interaktif melalui ceramah, diskusi, refleksi diri, dan ice breaking. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang signifikan berdasarkan hasil uji Wilcoxon (p = 0.003). Temuan ini menunjukkan bahwa psikoedukasi efektif dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan siswa mengenai kekerasan seksual serta pentingnya perlindungan diri. Dengan meningkatnya pemahaman siswa, diharapkan mereka mampu mengambil sikap preventif dan berani melaporkan jika mengalami atau menyaksikan kekerasan seksual. Oleh karena itu, psikoedukasi sangat direkomendasikan untuk diintegrasikan ke dalam program pendidikan di sekolah sebagai langkah pencegahan yang berkelanjutan.
Abstract:Minimnya pemahaman serta tingginya tekanan dari lingkungan akademik dan sosial membuat remaja rentan mengalami gangguan mental seperti stres, kecemasan, hingga depresi. Oleh karena itu, intervensi berupa psikoedukasi menjadi…
jadi strategi preventif yang penting untuk meningkatkan literasi kesehatan mental di kalangan pelajar. Kegiatan psikoedukasi bertema Kesehatan Mental Remaja yang dilaksanakan di SMAN 23 Makassar pada tanggal 23 April 2025 bertujuan untuk memberikan pemahaman menyeluruh kepada siswa mengenai dinamika perkembangan remaja dan pentingnya menjaga kesehatan mental. Kegiatan ini mencakup penyampaian materi mengenai perubahan fisik, kognitif, emosi, dan sosial pada masa remaja, mitos dan fakta terkait generasi Z, serta strategi menjadi remaja yang sehat mental. Selain itu, sesi role play juga dilakukan untuk meningkatkan empati dan keterampilan sosial siswa dalam menghadapi situasi perundungan. Hasil dari kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran siswa terhadap pentingnya kesehatan mental dan keaktifan mereka dalam berdiskusi serta mengekspresikan pandangan pribadi. Psikoedukasi ini diharapkan dapat menjadi model penguatan karakter dan kesejahteraan psikologis remaja melalui pendekatan yang edukatif, interaktif, dan aplikatif di lingkungan sekolah.
Abstract:Penelitian ini didasari oleh keterbatasan akses pendidikan pada anak-anak dari keluarga miskin dan kelompok rentan, serta pentingnya dukungan pendidikan melalui rehabilitasi sosial seperti yang dilakukan di Sentra Wirajaya…
ya Makassar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian berjumlah dua orang AMPK yang belum pernah mengenyam pendidikan formal. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara dengan pendamping sosial (Pensos), serta dokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran program CALISTUNG (membaca, menulis, dan berhitung) dalam menstimulasi kemampuan kognitif Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK) di Sentra Wirajaya Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program CALISTUNG memiliki kontribusi signifikan dalam meningkatkan aspek kognitif anak, terutama dalam hal pengenalan huruf, angka, serta kemampuan dasar membaca dan menulis. Program ini juga membantu meningkatkan kepercayaan diri anak dan keterampilan sosial dasar.
Abstract:Korban kekerasan, baik perempuan maupun anak-anak, sering mengalami dampak psikologis yang memerlukan penanganan awal sebelum intervensi lanjutan. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah Psychological First Aid…
d (PFA) atau pertolongan pertama psikologis. Kegiatan ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pelatihan PFA dalam meningkatkan pemahaman petugas layanan di UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Provinsi Sulawesi Selatan terkait penanganan awal kondisi psikologis korban. Kegiatan pelatihan dilakukan melalui metode ceramah dan roleplay. Sebanyak 10 petugas layanan UPT PPA mengikuti pelatihan PFA, dan efektivitasnya diukur melalui hasil pre-test dan post-test. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi (2-tailed) sebesar 0.005 < 0.05. Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara pengetahuan peserta sebelum dan sesudah pelatihan. Temuan ini membuktikan bahwa pelatihan PFA dapat meningkatkan pemahaman peserta terhadap prinsip dan langkah-langkah dalam memberikan dukungan psikologis awal. Pelatihan ini diharapkan memperkuat keterampilan dasar petugas layanan dalam merespons kondisi psikologis korban secara cepat dan tepat. Implikasi kegiatan ini menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di lembaga layanan kekerasan melalui pelatihan berbasis kompetensi psikologis seperti PFA.
Abstract:Dalam sebuah perusahaan, terdapat berbagai instrumen yang digunakan untuk mencapai tujuan perusahaan, seperti bahan baku, tenaga kerja, teknologi, dan modal. Keberhasilan dalam pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan…
dasan intelektual, tetapi juga sangat bergantung pada kemampuan seseorang dalam mengelola emosi. Mengelola emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, dan mengendalikan perasaan atau respon emosionalnya secara efektif dan sehat. Kegiatan workshop ini bertujuan untuk memberikan pelatihan dan meningkatkan pemahaman karyawan mengenai pentingnya kecerdasan emosional dan memberikan keterampilan dasar dalam mengenali serta mengelola emosi di tempat kerja. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini adalah pemahaman dan kepuasan peserta terhadap materi serta pembawaan yang baik dari narasumber.
Abstract:Permasalahan manajemen waktu di lingkungan kerja masih menjadi tantangan yang berdampak signifikan terhadap kualitas kehidupan kerja karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan psikoedukasi sebagai metode intervensi…
rvensi guna meningkatkan pemahaman dan keterampilan karyawan dalam mengelola waktu secara efektif. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain pre-test dan post-test. Peserta dalam kegiatan ini adalah 25 orang karyawan PT Pos Indonesia (Persero) Regional VI Makassar 90004. Hasil analisis data menggunakan uji non-parametrik Wilcoxon Signed Rank menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman peserta mengenai manajemen waktu setelah diberikan materi psikoedukasi, dengan skor rata-rata pre-test sebesar 80.2 meningkat menjadi 92.2 pada post-test. Nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar <.001 menunjukkan bahwa program psikoedukasi ini efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mengenai manajemen waktu sebagai sarana untuk memperbaiki kualitas hidup. Seminar psikoedukasi ini juga mendapatkan respons positif dari para peserta, yang menilai kegiatan ini bermanfaat dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif, seimbang, dan memuaskan.
Abstract:Karyawan merupakan aset penting dalam organisasi yang memilikih kebutuhan psikologis termauk kemampuan mengelolah emosi dan berkomunikasi secara efektif dilingkungan kerja. Berdasrkan need assessment dan observasi terhadap…
ap karyawan PT. Primafood Internasional, ditemukan bahwa sebagian besar mengalami kesulitan dalm regulasi emosi yang berdampak pada efektifitas komunikasi. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan psikoedukasi mengenai regulasi emosi untuk meningkatkan komunikasi efektifitas di lingkungan kerja. Metode yang digunakan adalah seminar psikoedukatif dengan pendekatan non pelatihan yang dilengkapi pre-test dan post-test pada peserta sebanyak 16 orang karyawan. Kegiatan dilaksanakan dalam beberapa tahapan yang dimulai dari identifikasi masalah hingga pelaksanaan seminar. Hasil analisis data menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada rata-rata skor pre-test adalah 0,00 menjadi 8,50 pada skor post-test dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara pemahaman peserta sebelum dan sesudah pelatihan.Temuan ini menunjukkan bahwa seminar psikoedukatif efektif dalam meningkatkan pemahaman karyawan mengenai strategi regulasi emosi dan keterampilan komunikasi.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas program psikoedukasi dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang tekanan teman sebaya (peer pressure) pada remaja, khususnya anggota Pusat Informasi dan Konseling…
eling Remaja (PIK-R) di MAN 2 Makassar. Permasalahan tekanan teman sebaya diidentifikasi sebagai isu utama berdasarkan hasil survei data awal yang dilakukan terhadap anggota PIK-R. Penelitian ini menggunakan metode pemberian psikoedukasi yang disertai dengan pengambilan data melalui pre-test dan post-test. Sebanyak 50 peserta berusia 15–17 tahun mengikuti kegiatan yang terdiri atas pre-test, penyampaian materi psikoedukasi, diskusi interaktif, dan post-test. Materi yang disampaikan mencakup konsep dasar peer pressure, aspek dan jenisnya, bentuk bentuk peer pressure serta faktor faktor yang memengaruhi terjadinya peer pressure. Hasil analisis data menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan signifikan antara skor pre-test 3,1 dan post-test 9,2, dengan nilai p < 0,05. Temuan ini mengindikasikan bahwa kegiatan psikoedukasi yang dilakukan mampu meningkatkan pemahaman peserta terhadap dinamika tekanan teman sebaya (Peer pressure). Dengan demikian, kegiatan psikoedukasi ini terbukti efektif dalam membekali remaja dengan keterampilan untuk mengenali, mengevaluasi, dan mengatasi pengaruh negatif dari lingkungan sosialnya. Kegiatan ini juga mendorong terbentuknya peran aktif remaja sebagai agen perubahan positif di lingkungan sekolah.
Abstract:Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) kerap menunjukkan perilaku agresif, khususnya dalam bentuk verbal, yang berdampak negatif terhadap proses rehabilitasi dan dinamika sosial di lingkungan pembinaan seperti Sentra Wirajaya…
a Makassar. Perilaku agresivitas yang tinggi dipengaruhi oleh lemahnya kemampuan regulasi emosi. Pengabdian ini bertujuan untuk menurunkan tingkat agresivitas ABH melalui psikoedukasi pengelolaan emosi. Kegiatan dilaksanakan secara luring dengan metode ceramah interaktif dan diskusi kelompok, melibatkan 11 peserta berusia 16–19 tahun. Pendekatan kuasi-eksperimen digunakan dengan desain one group pre-test post-test menggunakan kuesioner Buss and Perry Aggression Questionnaire (BPAQ). Hasil menunjukkan adanya penurunan skor agresivitas dari rata-rata 53,8 menjadi 50,2 setelah intervensi. Uji Wilcoxon menghasilkan nilai signifikansi p = 0,008 (p < 0,05), menunjukkan bahwa psikoedukasi secara statistik efektif dalam menurunkan tingkat agresivitas. Program ini memberikan pemahaman dan keterampilan praktis kepada peserta dalam mengenali dan mengelola emosi secara sehat, seperti teknik relaksasi dan komunikasi asertif. Temuan ini memperkuat pentingnya psikoedukasi dalam mendukung proses rehabilitasi sosial ABH dan mencegah perilaku agresif di masa mendatang.
Abstract:Komunikasi interpersonal memainkan peran strategis dalam menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif, terbuka, dan produktif, khususnya dalam instansi pemerintahan yang dituntut mencapai visi dan misi institusional secara…
ara kolektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas permainan Silent Voice sebagai bentuk intervensi psikologis dalam meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal pegawai UPT Penilaian Potensi dan Kompetensi BKD Provinsi Sulawesi Selatan. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one-group pretest-posttest, sebanyak 20 pegawai menjadi partisipan dalam kegiatan ini. Intervensi terdiri atas serangkaian aktivitas penulisan pengalaman emosional secara anonim, pemberian tanggapan empatik, serta diskusi reflektif yang memfasilitasi keterbukaan, empati, dan sikap positif antarpegawai. Hasil uji paired sample t-test menunjukkan peningkatan skor komunikasi interpersonal secara signifikan (p = 0,000), dari rata-rata pretest sebesar 34,70 menjadi 55,00 pada posttest. Temuan ini menunjukkan bahwa permainan Silent Voice efektif dalam menumbuhkan kualitas komunikasi interpersonal, memperkuat hubungan antarpegawai, serta mendukung terciptanya budaya kerja yang suportif.