Abstract:Abstract: Introducing the maritime world to early childhood is an approach to developing awareness and knowledge of the role of the sea as a natural resource in Indonesia. This can be accomplished, for instance, by introducing…
ducing different types of ships and using coloring pages and images as an engaging way to learn. The activity was carried out in one of the day care located in Surabaya, with the par-ticipation of young children between the ages of 1 to 3 years old. The method applied in this community service activity is an educational method using a participatory approach. The activity was carried out in a number of phases, including preliminary observation and partner coordination, the creation of educational materials in the form of illustrations of various ship types, brief explanation of ship introduction, and ship coloring activities. Based on the activities that have been done, the children gave a positive response to learning and coloring activities. Using pictures and hands-on activities, the children tend to remember the shape and name of the ship that has been explained previously more easily. Coloring activities encourage fine-motor skills development and children's creativity.
Keywords: coloring; early childhood; maritime; ship
Abstrak: Pengenalan dunia maritim pada anak usia dini penting untuk menumbuhkan pengetahuan tentang peran laut sebagai sumber daya alam di Indonesia. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui pengenalan jenis kapal dengan memanfaatkan media gambar dan aktivitas mewarnai sebagai bentuk pembelajaran visual yang menarik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di taman penitipan anak yang berlokasi di Surabaya dengan melibatkan anak usia dini berusia 1–3 tahun. Metode yang digunakan adalah metode edukatif dengan pendekatan partisipatif. Pelaksanaan kegiatan meliputi beberapa tahapan, yaitu observasi awal dan koordinasi dengan mitra, persiapan media pembelajaran berupa gambar jenis-jenis kapal, penyampaian materi pengenalan kapal secara singkat, serta aktivitas mewarnai gambar kapal. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa anak-anak memberikan respons positif terhadap kegiatan yang dilakukan. Dengan bantuan media visual dan aktivitas langsung, anak-anak lebih mudah mengenali bentuk dan nama kapal. Selain itu, kegiatan mewarnai juga mendukung perkembangan motorik halus serta kreativitas anak.
Kata kunci: anak usia dini; kapal; maritime; mewarnai
Abstract:Abstract: Pregnancy and toddlerhood are crucial periods that determine a child’s future growth and development. In Wonosari Village, the nutritional intake of pregnant women and toddlers is below the recommended dietary…
y allowance. One of the specific nutritional interventions that can be implemented is the provision of supplementary food (PMT) based on local food. This community service activity aimed to improve the knowledge and skills of posyandu cadres regarding the PMT based on local food for toddlers and pregnant women. The program involved training 40 cadres in the working area of Dalu Sepuluh Health Center, Tanjung Morawa District, Deli Serdang Regency, on May 28, 2025. The training consisted of delivering material on the concept of local food-based PMT and hands-on practice in processing supplementary food. Knowledge was evaluated through pre- and post-tests. Skills were evaluated through observation during processing practices. The results indicated an increase in cadres’ knowledge, with the average score rising from 95.4 to 99.4. Skills also improved, particularly in the accuracy of ingredient measurement and appropriate portion determination. These findings imply that local food-based PMT training can enhance the capacity of posyandu cadres and contribute to strengthening community-based efforts in improving maternal and child nutrition.
Keywords: cadres; PMT; pregnant women; toddlers
Abstrak: Masa kehamilan dan balita merupakan fase penting yang menentukan kualitas tumbuh kembang anak. Di Desa Wonosari, asupan gizi ibu hamil dan balita di bawah angka kecukupan gizi yang dianjurkan, sehingga diperlukan intervensi gizi spesifik melalui PMT berbasis pangan lokal. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu mengenai pengolahan makanan tambahan berbasis pangan lokal untuk balita dan ibu hamil. Metode yang digunakan adalah pelatihan dengan sasaran 40 orang kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Dalu Sepuluh, Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang. Pelatihan dilaksanakan pada 28 Mei 2025, terdiri dari penyampaian materi tentang PMT berbasis pangan lokal dan praktik pengolahan makanan tambahan untuk balita dan ibu hamil. Evaluasi pengetahuan melalui pre-test dan post-test menggunakan kuesioner. Keterampilan dievaluasi dengan observasi pada saat praktik pengolahan. Pelatihan menghasilkan peningkatan skor pengetahuan kader posyandu dari 95,4 menjadi 99,4, dan peningkatan keterampilan tentang ketepatan penggunaan jumlah bahan pangan dan porsi PMT untuk ibu hamil dan balita.
Kata kunci: balita; ibu hamil; kader; PMT
Abstract:Abstract: Developing tourism villages is a crucial strategy for strengthening local economies, reducing urbanization, and maintaining cultural and environmental sustainability. This concept is increasingly relevant in the…
e era of digital transformation, when tourism villages are required to adapt through technology-based smart tourism approaches, digital promotion, and information services. One area with significant potential is Lembar Selatan Village in West Lombok Regency, West Nusa Tenggara. Surrounded by 70 hectares of mangrove forest, a coastline, marine life, and well-preserved local traditions, the village has the potential to be developed into a coastal ecotourism destination. The Lembar Selatan Ecotourism Awareness Group (Pokdarwis) has begun managing tourism based on conservation and environmental education. However, obstacles remain, such as low digital literacy, the lack of an online promotion and reservation system, and limited destination management training. These conditions impact market reach and low tourist visits. Therefore, Community Service (PKM) activities are designed to increase Pokdarwis capacity, strengthen tourism digitalization through websites and promotional media, and encourage local community empowerment. This program is expected to realize inclusive, participatory, and sustainable coastal ecotourism, as well as strengthen the competitiveness and branding of Lembar Selatan Tourism Village.
Keyword: stourism village; tourism digitalization; coastal ecotourism; tourism group (pokdarwis); tourism digitalization; smart tourism; website.
Abstrak: Pengembangan desa wisata merupakan strategi penting untuk memperkuat ekonomi lokal, mengurangi urbanisasi, serta menjaga keberlanjutan budaya dan lingkungan. Konsep ini semakin relevan di era transformasi digital, ketika desa wisata dituntut beradaptasi melalui pendekatan smart tourism berbasis teknologi, promosi digital, dan layanan informasi. Salah satu wilayah yang memiliki potensi besar adalah Desa Lembar Selatan di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Desa ini dikelilingi hutan mangrove seluas 70 hektare, garis pantai, biota laut, serta tradisi lokal yang masih terjaga, sehingga potensial dikembangkan menjadi destinasi ekowisata pesisir. Tahapan Metode pelaksanaan PKM dilakukan melalui identifikasi kebutuhan Pokdarwis, pengembangan website sistem informasi wisata, penguatan ekowisata mangrove, pemasangan lampu tenaga surya, penyediaan fasilitas kebersihan, penempatan papan informasi berbasis QR, serta pelatihan penggunaan megaphone untuk mendukung pelayanan wisata serta pelatihan manajement wisata. Kondisi ini berdampak pada rendahnya jangkauan pasar dan kunjungan wisatawan. Untuk itu, kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dirancang guna meningkatkan kapasitas Pokdarwis, memperkuat digitalisasi pariwisata melalui website dan media promosi, serta mendorong pemberdayaan masyarakat lokal. Program ini diharapkan mewujudkan ekowisata pesisir yang inklusif, partisipatif, berkelanjutan, serta memperkuat daya saing dan branding Desa Wisata Lembar Selatan.
Kata kunci: desa wisata; digitaisasi pariwisata; ekowisata pesisir; pokdarwis; digitalisasi pariwisata; smart tourism; website
Abstract:Abstract: The literacy and numeracy achievements of elementary school students in Indonesia still face various challenges, despite showing an upward trend based on the results of the National Assessment. One cause is the…
implementation of conventional and less interactive learning models. This community service activity aims to develop and train the use of the interactive Learning Management System (LMS) kelaspetualang.com integrated with Scratch-based educational games to support literacy and numeracy learning at SD Negeri 067240 Medan. The implementation method used an interactive workshop based on practice-based learning that included needs analysis, material development, training, implementation, mentoring, and evaluation. The activity participants consisted of 20 teachers. The evaluation was conducted using a 1–5 Likert scale questionnaire to measure understanding, interest, and effectiveness of the activity. The results of the activity showed that 18 teachers successfully developed and uploaded game-based teaching materials to the LMS, while two teachers experienced technical difficulties with the device. The evaluation results showed a very good level of understanding and enthusiasm, especially regarding interest in developing game-based learning media, although further mentoring is still needed on technical aspects. This activity has been proven to improve teachers' digital competence and literacy and has the potential to enrich literacy and numeracy learning in an innovative way.
Keywords: educational; games; scratch; literacy; numeracy
Abstrak: Capaian literasi dan numerasi siswa sekolah dasar di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, meskipun menunjukkan tren peningkatan berdasarkan hasil Asesmen Nasional. Salah satu penyebabnya adalah penerapan model pembelajaran yang masih konvensional dan kurang interaktif. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan dan melatih pemanfaatan Learning Management System (LMS) interaktif kelaspetualang.com yang terintegrasi dengan game edukatif berbasis Scratch guna mendukung pembelajaran literasi dan numerasi di SD Negeri 067240 Medan. Metode pelaksanaan menggunakan workshop interaktif berbasis practice-based learning yang meliputi analisis kebutuhan, pengembangan materi, pelatihan, implementasi, pendampingan, dan evaluasi. Peserta kegiatan terdiri atas 20 guru. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner skala Likert 1–5 untuk mengukur pemahaman, minat, dan efektivitas kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa 18 guru berhasil mengembangkan dan mengunggah materi ajar berbasis game ke dalam LMS, sementara dua guru mengalami kendala teknis perangkat. Hasil evaluasi menunjukkan tingkat pemahaman dan antusiasme yang sangat baik, terutama pada minat pengembangan media pembelajaran berbasis game, meskipun masih diperlukan pendampingan lanjutan pada aspek teknis. Kegiatan ini terbukti meningkatkan kompetensi dan literasi digital guru serta berpotensi memperkaya pembelajaran literasi dan numerasi secara inovatif.
Kata kunci: pendidikan; permainan; Scratch; literasi; numerasi.
Abstract:Abstract: Digitalization 5.0 has opened wide opportunities for students to build digital-based startups. However, many student startups face challenges in financial management, developing a Minimum Viable Product (MVP),…
and ensuring business sustainability. This program aims to implement Digital Business Incubation as a strategy for developing student digital startups. The methods used include observation, tenant selection, interviews, and intensive mentoring for incubation program participants. As a result of the selection process, 14 businesses were chosen to be incubated, consisting of service-based and product-based ventures. The program is designed to provide entrepreneurship training, financial management workshops, business legality assistance, investor networking opportunities, and technological support. The outcomes of the program indicate that through digital incubation, average 77,91% of the participating students were able to enhance their digital entrepreneurship skills, strengthen their business models, and optimize the potential for business sustainability. Therefore, Digital Business Incubation has proven to be an effective mechanism for fostering the growth of student digital startups that are adaptive, innovative, and competitive in the digital economy era.
Keywords: bussiness digital, enterprise, student, service
Abstrak: Digitalisasi 5.0 telah membuka peluang luas bagi mahasiswa untuk membangun usaha rintisan (startup) berbasis digital. Namun, banyak startup mahasiswa menghadapi tantangan dalam hal pengelolaan keuangan, Minimum Viable Product, dan keberlanjutan usaha. Program ini bertujuan untuk mengimplementasikan program Digital Business Incubation sebagai strategi pengembangan startup digital mahasiswa. Metode yang digunakan meliputi observasi, seleksi tenant, wawancara, serta pendampingan intensif terhadap peserta program inkubasi. Dari hasil seleksi terpilih 14 usaha yang akan diinkubasi yang terdiri dari usaha yang bergerak dibidang jasa dan produk. Program ini dirancang untuk memberikan pembinaan kewirausahaan, pelatihan keuangan, pendampingan legalitas usaha, akses bersama investor, serta dukungan teknologi. Hasil program ini menunjukkan bahwa melalui inkubasi digital, rata rata 77,91% mahasiswa mampu meningkatkan keterampilan wirausaha digital, memperkuat model bisnis, serta mengoptimalkan potensi keberlanjutan usaha. Dengan demikian, Inkubasi bisnis digital terbukti menjadi mekanisme efektif dalam mendorong lahirnya startup digital mahasiswa yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing di era ekonomi digital.
Kata kunci: bisnis, mahasiswa, jasa, startup digital
Abstract:Abstract: The development of artificial intelligence (AI) technology presents new opportunities in education, particularly in lesson planning. However, most vocational high school teachers in Palembang City, including those…
ose at SMK PGRI 2, still have limited knowledge and skills in utilizing AI. This problem is the background to the implementation of community service activities (PkM) with the aim of improving teacher competency in using Large Language Models (LLM) such as Gemini and ChatGPT to develop Lesson Implementation Plans (RPP). The methods used included needs surveys, interactive workshops, hands-on practice, and evaluation through post-tests and participant feedback. The results of the activity showed a significant increase, where teacher knowledge increased from 20% to 80% and the application of AI in lesson plans increased from 10% to 65%. The contribution of this activity lies in improving teachers' ability to utilize AI to develop lesson plans more effectively and providing a scientific basis for the application of LLM in lesson planning in vocational education.
Keywords: artificial intelligence, lesson planning, vocational school teachers
Abstrak: Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) menghadirkan peluang baru dalam dunia pendidikan, khususnya dalam perencanaan pembelajaran. Namun, sebagian besar guru SMK di Kota Palembang, termasuk di SMK PGRI 2, masih memiliki keterbatasan dalam pengetahuan dan keterampilan pemanfaatan AI. Permasalahan ini melatarbelakangi dilaksanakannya kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) dengan tujuan meningkatkan kompetensi guru dalam menggunakan Large Language Models (LLM) seperti Gemini dan ChatGPT untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Metode yang digunakan meliputi survei kebutuhan, workshop interaktif, praktik langsung, serta evaluasi melalui post-test dan umpan balik peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan, di mana pengetahuan guru meningkat dari 20% menjadi 80% dan penerapan AI dalam RPP naik dari 10% menjadi 65%. Kontribusi kegiatan ini terletak pada peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan AI untuk menyusun RPP secara lebih efektif serta penyediaan dasar ilmiah bagi penerapan LLM dalam perencanaan pembelajaran di pendidikan vokasi.
Kata kunci: artificial intelligence, guru SMK, perencanaan pembelajaran
Abstract:Abstract: This community service activity was motivated by the drying problems of emping melinjo in Perbaungan District, Serdang Bedagai Regency, which still relies on sunlight. This traditional method has many limitations…
ns as it depends on weather conditions, requires 2–3 days, and produces products that are less hygienic and inconsistent in quality. The purpose of this activity is to provide a solution through mentoring and training in the use of the electric emping melinjo dryer (KEPINGJO) so that partners are able to operate the equipment and increase production capacity. The implementation method includes several stages: preparation, technology socialization, training, trials, evaluation, and mentoring. The results show that the partners actively participated and were able to operate the equipment independently. The use of the electric dryer resulted in a reduction from 1 kg to 0.64 kg within 1 hour at a temperature of 55 °C, which is much faster than the traditional drying method that takes 2–3 days. In addition, the moisture content of emping melinjo, initially 29% in the wet condition, decreased to 9.5% after the drying process using the electric dryer. The final product is more hygienic, evenly dried, and has a longer shelf life. The application of the KEPINGJO electric dryer has proven to increase productivity, product quality, and household income while strengthening the role of universities in delivering appropriate technological innovations.
Keywords: dryer; melinjo; empowerment; training; food self-sufficiency
Abstrak: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh permasalahan pengeringan emping melinjo di Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, yang masih mengandalkan sinar matahari. Metode tersebut memiliki banyak keterbatasan karena bergantung pada cuaca, membutuhkan waktu 2–3 hari, serta menghasilkan produk yang kurang higienis dan tidak seragam. Tujuan kegiatan adalah memberikan solusi melalui pendampingan dan pelatihan penggunaan alat pengering elektrik emping melinjo (KEPINGJO) agar mitra mampu mengoperasikan dan meningkatkan kapasitas produksi. Metode pelaksanaan meliputi tahap persiapan, sosialisasi teknologi, pelatihan, uji coba, serta evaluasi dan pendampingan. Hasil kegiatan menunjukkan mitra aktif berpartisipasi dan mampu menggunakan alat secara mandiri. Penggunaan alat pengering elektrik memperlihatkan penyusutan dari 1 kg menjadi 0,64 kg dalam waktu 1 jam pada suhu 55 °C, jauh lebih cepat dibanding metode tradisional 2–3 hari. Selain itu, kadar air emping melinjo yang semula sebesar 29% pada kondisi basah menurun menjadi 9,5% setelah proses pengeringan menggunakan alat pengering elektrik. Produk yang dihasilkan lebih higienis, kering merata, dan memiliki daya simpan lebih lama. Penerapan pengering elektrik KEPINGJO terbukti meningkatkan produktivitas, kualitas, serta pendapatan rumah tangga, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi tepat guna.
Kata kunci: alat pengering; melinjo; pemberdayaan; pelatihan; kemandirian pangan
Abstract:Abstract: English is a universal language used in many countries around the world. SDN Bicorong II is located in Bicorong Village, Pamekasan Regency. Students often struggle with English and are reluctant to learn it. As…
a means to improve their English communication skills, a tutoring program offers basic English instruction to SDN Bicorong II students. A total of 29 students participated in the community service program for basic English tutoring. Each session lasted 90 minutes and was conducted over two days. Socialization, instruction, mentoring, and assessment were part of the approach implemented to provide basic English tutoring to students. Only 17.24% of students who completed the test passed, while 82.76% of the other students failed, based on the learning outcomes of elementary school students before the tutoring program. The overall average score was 62. The results after the basic English tutoring program showed that of the 29 elementary school students who took the test, 86.21% passed and 13.79% failed. The data shows that students who did not pass the test got a score range of 55-69 while students who passed the test got a score range of 70-100. The average score of 29 students was 76. Thus, basic English tutoring can improve the abilities and learning outcomes of students at SDN Bicorong II.
Keywords: basic english; communicative approach; evaluation; learning; training
Abstrak: Bahasa Inggris merupakan bahasa universal yang digunakan di banyak negara di seluruh dunia. SDN Bicorong II terletak di Desa Bicorong Kabupaten Pamekasan. Para siswa biasanya kesulitan berbahasa Inggris dan enggan mempelajarinya. Sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan komunikasi bahasa Inggris mereka, program bimbingan belajar menawarkan pengajaran bahasa Inggris dasar kepada siswa SDN Bicorong II. Sebanyak 29 siswa berpartisipasi dalam program pengabdian masyarakat bimbingan belajar bahasa Inggris dasar. Setiap sesi berdurasi 90 menit selama dua hari. Sosialisasi, instruksi, pendampingan, dan penilaian merupakan bagian dari pendekatan yang diterapkan untuk memberikan bimbingan belajar bahasa Inggris dasar kepada siswa. Hanya 17,24% siswa yang menyelesaikan tes lulus, sementara 82,76% siswa lainnya tidak lulus, berdasarkan hasil belajar siswa sekolah dasar sebelum program bimbingan belajar. Skor rata-rata keseluruhan adalah 62. Hasil setelah dilakukan bimbingan belajar bahasa Inggris dasar menunjukan bahwa dari 29 siswa SD yang ikut tes 86,21% siswa lulus tes dan 13,79% siswa tidak lulus. Data menunjukan bahwa siswa tidak lulus tes mendapat rentang nilai 55-69 sedangkan siswa yang lulus tes mendapat rentang nilai 70-100. Hasil nilai rata-rata dari 29 siswa adalah 76. Dengan demikian bimbingan belajar bahasa Inggris dasar dapat meningkatkan kemampuan dan hasil belajar siswa SDN Bicorong II.
Kata kunci: bahasa inggris dasar; evaluasi; pelatihan; pembelajaran, pendekatan komunikatif
Abstract:Abstract: The community service program in Nangewer Village, Darangdan District, Purwakarta Regency, aims to empower local MSME actors and strengthen the village's economic independence post-pandemic through the development…
ent of a participatory weekly market model. This activity involved 25 MSME actors, village officials, and Youth Organizations in planning, training, and implementing weekly markets combined with social activities such as mass gymnastics, local culinary, and children's games. The results of the evaluation showed an increase in the daily income of business actors from IDR 6.23 million to IDR 11.52 million, or an increase of 85%, with income stability of 40%. In addition to having an economic impact, this activity increases social interaction across hamlets and strengthens the role of women in household businesses. The main obstacles in the form of limited facilities and waste management are overcome through synergy with BUMDes and the support of the Village Fund. This activity shows good practices of collaboration between the community, village government, and universities in developing sustainable micromarkets, which can be replicated as a model of economic empowerment in other villages.
Keywords: MSME; Community Empowerment; Weekly Market; Village Economy
Abstrak: Program pengabdian masyarakat di Desa Nangewer, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, bertujuan memberdayakan pelaku UMKM lokal dan memperkuat kemandirian ekonomi desa pasca-pandemi melalui pengembangan model pasar mingguan partisipatif. Kegiatan ini melibatkan 25 pelaku UMKM, perangkat desa, dan Karang Taruna dalam perencanaan, pelatihan, dan pelaksanaan pasar mingguan yang dikombinasikan dengan kegiatan sosial seperti senam massal, kuliner lokal, dan permainan anak. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pendapatan harian pelaku usaha dari Rp6,23 juta menjadi Rp11,52 juta, atau naik 85%, dengan stabilitas pendapatan 40%. Selain memberikan dampak ekonomi, kegiatan ini meningkatkan interaksi sosial lintas dusun dan memperkuat peran perempuan dalam usaha rumah tangga. Hambatan utama berupa keterbatasan fasilitas dan pengelolaan sampah diatasi melalui sinergi dengan BUMDes dan dukungan Dana Desa. Kegiatan ini menunjukkan praktik baik kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan perguruan tinggi dalam mengembangkan pasar mikro yang berkelanjutan, yang dapat direplikasi sebagai model pemberdayaan ekonomi di desa lain.
Kata kunci: UMKM; Pemberdayaan Masyarakat; Pasar Mingguan; Ekonomi Desa
Abstract:Abstract: The village of Sumberjaya has considerable local economic potential through the management of the Bagjawaluya Village-Owned Enterprise (BumDes), particularly in the Mini Soccer, Campground, Kiosk Rental, Water…
Supply, and Village Internet business units. However, limitations in the use of digital technology and promotional media have resulted in low effectiveness of services to the community. This community service activity aims to support the optimization of company profile creation and online booking systems for existing business units at BumDes Bagjawaluya. The target partners in this activity are BumDes managers, with 15 participants involved. To measure the effectiveness of the activity, an evaluation method consisting of a pre-test and post-test was used to assess the increase in participants' understanding, as well as a questionnaire to explore their perceptions and readiness to adopt digital technology. The results of the activity showed an increase in understanding of company profile management by 86.67% and business unit ordering applications by 93.33%. These results indicate that the community service activity had a positive impact on improving the digital literacy of BumDes managers.
Keyword: BumDes; Company Profile; Digitalization; Ordering; Optimization
Abstrak: Desa Sumberjaya memiliki potensi ekonomi lokal yang cukup besar melalui pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BumDes) Bagjawaluya, khususnya pada unit usaha Mini Soccer, Bumi Perkemahan,Sewa Kios, Air weslik, Internet Desa. Namun, keterbatasan dalam pemanfaatan teknologi digital dan media promosi menyebabkan rendahnya efektivitas layanan kepada masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mendukung optimalisasi pembuatan company profile, dan sistem pemesanan online untuk unit usaha yang ada pada BumDes Bagjawaluya. Mitra sasaran dalam kegiatan ini adalah pengelola BumDes dengan jumlah peserta yang terlibat sebanyak 15 orang. Untuk mengukur efektivitas kegiatan, digunakan metode evaluasi berupa pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pemahaman peserta, serta kuisioner untuk menggali persepsi dan kesiapan mereka dalam mengadopsi teknologi digital. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman untuk pengelolaan Company Profile 86,67%, aplikasi pemesanan unit usaha 93,33%. .Hasil ini menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian memberikan dampak positif terhadap peningkatan literasi digital pengelola BumDes.
Kata Kunci: BumDes; Company Profile; Digitalisasi; Pemesanan; Optimalisasi