Search Articles & Publications

Showing 39 articles found for "Kepulauan"

Analisis Sistem Pengendalian Internal Persediaan Obat Dalam  Meningkatkan Kinerja Pelayanan Fasilitas Kesehatan Di RSUD Kabupaten Konawe Kepulauan

Narto Asep Deni, La Ode Anto, Nitri Mirosea
Abstract: Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui sistem pengendalian internal atas persediaan dan pengelolaan obat di Rumah sakit Umum Daerah Kabupaten Konawe Kepulauan. Metode penelitian yang digunakan dalam… alam penelitian ini adalah metode penelitian Deskriptif kualitatif. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan verifikasi/kesimpulan. Hasil dari analisis menunjukan bahwa Rumah sakit Umum Daerah Kabupaten Konawe Kepulauan sudah menerapkan standar pengendalian Internal. Dalam penerapan sistem pengendalian internal (SPI) Rumah sakit Umum daerah Kab. Konawe kepulauan sudah sangat efektif dalam penerapannya. Mulai dari: 1. Lingkungan pengendalian yang memiliki persentase rata-rata 96,94%, 2. Penilaian risiko yang memiliki nilai rata-rata 95,26%. 3. Aktivtas pengendalian memiliki nilai rata-rata 96,11%, 4. Informasi dan komunikasi memiliki nilai rata-rata 97,48%, 5. Pemantauan memiliki nilai rata-rata 96,67%, dengan angka rata-rata yang dimiliki sehingga penerapan sistem pengendalian internal pada rumah sakit umum daerah kab. Konawe kepulauan sudah sangat efektif.

Identifikasi Jenis-Jenis Tumbuhan Mangrove Yang Ada Di Indonesia

Britney Liayanti Windewani, Galuh P. W. Utami
Abstract: Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas 17.508 pulau dan memiliki iklim tropis menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara yang sebagian besar daerahnya ditumbuhi oleh hutan mangrove.  Mangrove yang di… i temukan di beberapa daerah di Indonesia di identifikasi ada 24 jenis mangrove. Kawasan hutan mangrove selain berfungsi secara fisik sebagai penahan abrasi pantai, sebagai fungsi biologinya mangrove menjadi penyedia bahan makanan bagi kehidupan manusia terutama ikan, udang, kerang dan kepiting, serta sumber energi bagi kehidupan di pantai seperti plankton, nekton dan algae. 24 jenis mangrove yang identifikasi yaitu: Bruguiera parviflora, Bruguiera  cylindrica, Rhizophora mucronata, Sonneratia caseolaris, Bruguiear gymnorrhiza, Avicennia officinalis, Lumnitzera recemosa, Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, Rhizophora stylosa, Ceriops tagal, Avicennia alba, Avicennia marina, Avicennia lanata, Xylocarpus granatum, Aegiceras floridum, Lumnitzera littorea, Ceriops decandra, Kandelia candel, Aegiceras corniculatum, Xylocarpus mulluccensis, Avicennia germinans, Exoicaria agallocha, Aegiceras corniculatum.

Keadaan Nusantara Sebelum Masuknya Islam

Ika Pernamasari, Djumar Sumbayak, Alya Putri Dania, Hertati Sitanggang, Ocha Primalia Tondang
Abstract: Artikel ini membahas tentang kondisi politik, sosial, dan keagamaan di nusantara sebelum masuknya Islam. Kepulauan nusantara yang termasuk kepulauan Indonesia saat ini mengalami berbagai dinamika budaya dan agama sebelum… pengaruh Islam menyebar pada abad ke-13. Kajian ini meliputi kehidupan masyarakat, kerajaan yang berkuasa, dan sistem kepercayaan yang dianut sebelum era Islamisasi. Selain itu, artikel ini memuat tentang kepercayaan apa saja yang dianut oleh orang-orang nusantara sebelum masuknya agama ke nusantara itu sendiri, dan apakah ada agama yang ada sebelum masuknya Islam ke nusantara dan peninggalan apa saja yang ditemukan pada abad tersebut.

Efektivitas Budaya Wayang Kulit dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara oleh Wali Songo

Firman, Ade, Muhammad Hafidz Nasri, Syamsir
Abstract: Wayang kulit, pertunjukan wayang kulit tradisional Jawa, memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Nusantara (kepulauan Indonesia) selama abad ke-15, khususnya melalui upaya Wali Songo (Sembilan Orang Suci). Penelitian… litian ini menggunakan metode studi literatur untuk menganalisis efektivitas wayang kulit sebagai media dakwah Islam oleh Wali Songo dan relevansinya di masa kini. Temuan menunjukkan bahwa wayang kulit sangat efektif karena popularitasnya di kalangan masyarakat Jawa, sehingga memungkinkan ajaran Islam diintegrasikan secara damai tanpa paksaan. Strategi akulturasi budaya yang dilakukan Wali Songo dengan memodifikasi tokoh dan cerita wayang agar mengandung nilai-nilai Islam, menunjukkan penghormatan terhadap budaya lokal dan selaras dengan karakter Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Namun di zaman modern, keefektifan wayang menghadapi tantangan seperti menurunnya minat generasi muda, kurangnya pemahaman terhadap simbolisme wayang, dan beragamnya kualifikasi dalang (dalang). Terlepas dari tantangan-tantangan tersebut, studi ini menegaskan potensi wayang sebagai media dakwah kontemporer jika direvitalisasi melalui integrasi teknologi, peningkatan pengetahuan keislaman para dalang, dan kolaborasi dengan lembaga pendidikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan Wali Songo dalam membudayakan Islam dengan budaya lokal melalui wayang memberikan pembelajaran berharga bagi strategi dakwah masa kini. Pendekatan mereka mencontohkan bagaimana dakwah Islam dapat dilakukan secara damai, kontekstual, dan penuh hormat terhadap keragaman budaya, memberikan wawasan bagi para pendakwah modern untuk beradaptasi dan memanfaatkan platform media populer secara efektif sambil tetap menjaga kedalaman ajaran Islam.

Mewujudkan Visi Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia

Muhamad Irfan Rama, Eliyanti Agus Mokodompit
Abstract: Poros Maritim Dunia merupakan konsep strategis yang mengakui peran penting yang dimainkan oleh laut dan kelautan dalam perekonomian global serta hubungan antarnegara. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia… memiliki potensi besar untuk menjadi bagian integral dari Poros Maritim Dunia. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Indonesia dalam menuju Poros Maritim Dunia, dengan fokus pada penguatan sumber daya maritim dan kerja sama internasional. Melalui peninjauan literatur dan analisis kebijakan terkini, artikel ini juga mengidentifikasi tantangan yang dihadapi oleh Indonesia dalam mencapai tujuan ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber primer dan sekunder, termasuk dokumen kebijakan, laporan penelitian, dan artikel akademik terkait. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi langkah-langkah konkret yang telah diambil oleh pemerintah Indonesia untuk memperkuat sumber daya maritim dan memperluas kerja sama internasional di sektor maritim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia telah mengambil langkah-langkah penting dalam mewujudkan visi Poros Maritim Dunia. Penguatan sumber daya maritim dilakukan melalui pengembangan infrastruktur maritim, peningkatan keamanan maritim, dan pengelolaan yang berkelanjutan terhadap sumber daya alam dan lingkungan laut. Selain itu, Indonesia juga aktif dalam mengembangkan kerja sama internasional melalui kemitraan regional dan bilateral, serta melalui partisipasinya dalam organisasi maritim internasional. Meskipun demikian, Indonesia juga menghadapi tantangan dalam mencapai tujuan Poros Maritim Dunia. Beberapa tantangan tersebut meliputi pembiayaan yang cukup untuk pembangunan infrastruktur maritim, harmonisasi kebijakan di antara berbagai sektor terkait, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor maritim. Kesimpulannya, Indonesia telah melakukan langkah-langkah signifikan dalam mengarahkan dirinya menuju Poros Maritim Dunia. Namun, masih diperlukan upaya yang lebih besar untuk mengatasi tantangan yang dihadapi. Dalam konteks global yang semakin terhubung melalui laut, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat perannya sebagai poros maritim dunia yang berkelanjutan dan berkontribusi secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Studi Eksprimental Kekuatan Tekan Beton Material Pasir Laut Sebagai Bahan Penyusun Beton Di Daerah Pesisir Dan Pulau-Pulau Terisolir

Adnan, M. Jabir M, Rusvita, Miswar T
Abstract: Negara Indonesia merupakan negara kepulauan, yang sering kita temukan bangunan-bangunan sesuai kebutuhan masyarakat. Dalam kondisi seperti ini tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan pasir laut sebagai material penyusun… sun beton, melihat potensi sumber pasir laut yang begitu melimpah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kuat tekan dan kuat tarik belah beton pasir laut terhadap pasir sungai untuk dijadikan alternatif penggunaan material penyusun beton didaerah pesisir dan pulau-pulau terisolir. Hasil pengujian kuat tekan beton dengan curing rendam air laut selama 28 hari dengan faktor air semen (fas) 0,4 menunjukkan hasil kuat tekan rata rata pada beton pasir sungai sebesar 35,00 Mpa dan hasil kuat tekan rata rata pada beton pasir laut sebesar 34.84 MPa. Hasil ini memenuhi standar sebesar 30 ± 5 (MPa). Sedangkan perbedaan hasil pengujian kuat tekan pada pasir laut terhadap pasir sungai menunjukkan perbedaan yang tidak terlalu signifikan. Pengujian kuat tarik belah mengacu pada SNI 03-2491-2002, mutu beton yang digunakan sudah baik dan sesuai dengan perencanaan yang dilakukan pada umur 7 dan 28 hari dengan menggunakan silinder berukuran 10 cm x 20 cm dan nilai kuat tarik belah rata-rata pada umur perendaman 7 hari sebesar 1,8 MPa dan nilai kuat tarik belah rata-rata pada umur perendaman 28 hari sebesar 2,02 MPa. Kuat tarik belah meningkat seiring dengan penambahan umur. Peningkatan kuat tarik belah beton ini meningkatkan kemampuan beton untuk menahan beban yang lebih besar.

Analisis Peranan Dakwah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Dalam Pembinaan Agama Masyarakat Kecamatan Pangkajene Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan

Khaerunnas, Dahlan Lama Bawa, Yakub, Syahruddin, Muhammad
Abstract: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu bertujuan untuk mengetahui Peranan Dakwah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dalam Pembinaan Agama Masyarakat Kecamatan Pangkajene Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Hasil… sil penelitian disimpulkan: 1) Peranan dakwah Pimpinan Cabang Muhammadiyah adalah kegiatan pembinaan akidah, akhlak dan ibadah melalui pengajian tafsir dan tarjih, pelatihan pupuk kocor dan dakwah struktural dengan membentuk Ranting-ranting Muhammadiyah. 2) Dakwah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pangkajene memiliki dampak positif, yaitu masyarakat meninggalkan perilaku yang tidak dibolehkan dalam Islam, membangkitkan semangat beribadah, menambah pengetahuan keislaman serta mengetahui praktik ibadah sesuai tuntunan Rasulullah Saw. 3) Dakwah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pangkajene memiliki faktor pendukung, di antaranya Muhammadiyah memiliki banyak sumber daya manusia (SDM) karena di Muhammadiyah ada beberapa Organisasi Otonomi, yaitu `Aisyiyah, Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul `Aisyiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah, serta dukungan pemerintah setempat sehingga dakwah Muhammadiyah berjalan baik, dan tingginya dukungan masyarakat dalam menerima dakwah Muhammadiyah. Adapun faktor penghambatnya adalah kurangnya koordinasi dan komunikasi antar pimpinan sehingga menyulitkan mengadakan kegiatan, sulitnya menjangkau lokasi pengajian sehingga menyulitkan masyarakat hadir di pengajian, dan minimnya dai Muhammadiyah yang mengakibatkan Pengajian Tarjih dan Tafsir terhenti.

ISLAM TANPA PENAKLUKAN: MEMBACA ULANG PROSES ISLAMISASI NUSANTARA

Karyadi, Jusni Ramadhani, Idrus L
Abstract: Alih-alih menggunakan kekerasan untuk menaklukkan kepulauan Indonesia, bukti sejarah menunjukkan bahwa Islam tiba di sana secara damai dan melalui proses akulturasi. Dengan menggunakan metode sejarah sosio-religius, penelitian… litian ini berupaya menelaah kembali proses Islamisasi di kepulauan Indonesia dengan penekanan pada jalur-jalur yang berkelanjutan, adaptif, dan damai. Analisis literatur kualitatif terhadap karya sastra, publikasi ilmiah, dan penelitian terkini mengenai Islam di Nusantara merupakan metodologi yang digunakan. Kesimpulan utama membuktikan bahwa Islamisasi Nusantara terjadi melalui perdagangan, perkawinan, pendidikan, tasawuf, seni, dan lembaga keagamaan yang berfokus pada akulturasi budaya; penyebarannya berlangsung secara bertahap, damai, adaptif, dan terhubung melalui pusat-pusat peradaban seperti pelabuhan, kerajaan pesisir, pesantren, dan jaringan ulama. Dengan implikasi bagi studi peradaban Islam yang lebih inklusif dan kontekstual, kontribusi tematik artikel ini adalah mengemukakan kembali kerangka konseptual “Islam Tanpa Penaklukan” sebagai narasi global alternatif mengenai penyebaran agama. Kesimpulannya, mengingat dinamika pluralitas sosial-keagamaan, pendekatan damai dan akulturatif tidak hanya memudahkan penerimaan awal tetapi juga mengubah wajah Islam Nusantara, menjadikannya moderat, toleran, dan berkelanjutan.

Optimalisasi MPLS Berbasis Outdoor Learning untuk Penguatan Nilai Sosial Siswa Pulau Terpencil

Rozaq, Dawamur
Abstract: Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) merupakan tahapan penting guna mendukung siswa baru mengenal lingkungan sekolah sekaligus mengembangkan kemampuan sosial pada tahap awal pendidikan dasar. Namun, pelaksanaan MPLS… di wilayah kepulauan dan pulau terpencil sering menghadapi keterbatasan sarana serta pendekatan pembelajaran yang kurang kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendekatan outdoor learning dalam kegiatan MPLS sebagai upaya meningkatkan kepercayaan diri dan interaksi sosial siswa di SDN 12 Kapoposang. Metode dan pendekatan yang digunakan adalah campuran (mix method) dan deksriptif dengan cara mengukur sebelum dan sesudah MPLS berbasis outdoor learning. Subjek penelitian adalah siswa kelas I yang mengikuti kegiatan MPLS selama satu minggu dengan pengamatan lanjutan selama tiga minggu. Penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan pada seluruh aspek yang diteliti, yaitu kepercayaan diri, interaksi sosial, partisipasi kegiatan, dan adaptasi sekolah. Skor rata-rata kelas meningkat dari 1,57 sebelum kegiatan menjadi 3,78 setelah kegiatan dengan selisih peningkatan sebesar 2,21 poin. Selain itu, secara kualitatif siswa menunjukkan perubahan perilaku yang lebih aktif, berani berinteraksi, serta lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan outdoor learning dapat menjadi strategi pembelajaran kontekstual yang efektif dalam mendukung proses adaptasi serta pengembangan kemampuan sosial siswa, khususnya pada sekolah dasar di wilayah pulau terpencil.

Faktor Determinan Kejadian Overweight Dan Obesitas Anak Usia 24 -59 Bulan Di Provinsi Bangka Belitung

Afifa Naura Harahap, Sumardiyono, Nur Hafidha Hikmayani
Abstract: Overweight dan obesitas pada anak usia 24–59 bulan merupakan masalah gizi yang terus meningkat dan berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tercatat sebagai salah satu daerah&#8230; daerah dengan prevalensi overweight dan obesitas balita tertinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan kejadian overweight dan obesitas pada anak usia 24–59 bulan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional dan memanfaatkan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023. Sampel penelitian berjumlah 584 anak usia 24–59 bulan. Variabel independen meliputi jenis kelamin, riwayat berat badan lahir, kelengkapan imunisasi, serta konsumsi makanan manis, minuman manis, dan makanan berlemak. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik sederhana untuk memperoleh nilai Odds Ratio (OR) dan interval kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi overweight dan obesitas sebesar 11,8%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki berhubungan signifikan dengan kejadian overweight dan obesitas (OR=1,78; IK 95%=1,06–2,98; p<0,05). Sementara itu, riwayat berat badan lahir, kelengkapan imunisasi, serta konsumsi makanan manis, minuman manis, dan makanan berlemak tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki merupakan faktor determinan utama kejadian overweight dan obesitas pada anak usia 24–59 bulan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Diperlukan intervensi gizi preventif sejak dini yang terintegrasi dengan pemantauan pertumbuhan balita.