Abstract:The paradigm shift in science education necessitates the development of critical thinking skills as a foundation for improving students’ problem-solving abilities; however, empirical conditions indicate that both competencies…
tencies remain low and have not been optimally developed. This study aims to examine the relationship between critical thinking skills and problem-solving abilities among eighth-grade students of SMP Negeri 2 Serui and to determine the degree of their empirical association. The study employed a quantitative approach with a correlational design, utilizing essay-based test instruments analyzed through simple linear regression. The findings reveal that students’ critical thinking and problem-solving abilities are in the low to moderate categories, with mean scores of 14.56 and 28.72, respectively. The linearity test indicates a significant relationship, while regression analysis produces the equation Y = 21.682 + 0.484X with a significance value of 0.009. The correlation coefficient of 0.487 indicates a moderate positive relationship, and the coefficient of determination of 23.7% shows that critical thinking contributes to problem-solving ability. The results confirm that improvements in critical thinking skills directly influence the enhancement of students’ problem-solving abilities, although other factors also contribute. The novelty of this study lies in the presentation of a quantitative relationship model that remains significant despite non-normally distributed data, as well as in establishing critical thinking as a significant yet partial predictor of problem-solving, thereby providing a foundation for developing more structured, contextual, and higher-order thinking-based instructional strategies.
Abstract:This study aims to comprehensively analyze the capacity of educational institution leaders in managing institutional problem-solving processes through a qualitative literature review approach that focuses on integrating…
theoretical concepts and contemporary educational leadership practices. The study highlights critical stages of leadership, including problem identification and diagnosis, the design of contextually relevant solution strategies, the implementation of adaptive actions, and reflection-based evaluation to ensure continuous improvement. The synthesis of the literature reveals that successful problem-solving is significantly influenced by leaders’ ability to integrate transformational, instructional, and adaptive leadership styles that foster collective participation, professional collaboration, and the establishment of a progressive learning culture. Effective leadership is characterized by reflective capacity, data-driven decision-making, and the ability to create a supportive work climate for innovation and change. Conversely, recurring challenges include limited resources, resistance to transformation, misaligned external policies, and administrative burdens that constrain managerial flexibility. Based on these findings, this study emphasizes the importance of developing context-based leadership models that position problem-solving as a core competency through enhanced data literacy, emotional intelligence, and continuous reflective learning. The main contribution of this article lies in strengthening the theoretical foundation of 21st-century educational leadership and providing practical recommendations for school leaders, policymakers, and leadership training developers to build resilient, adaptive, and continuously improving educational organizations.
Abstract:Penelitian ini bertujuan mengkaji secara ekspositori perikop 2 Raja-raja 6:8-9 untuk memahami strategi Kristen dalam menghadapi konflik. Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana umat Kristen dapat menyusun strategi…
egi yang berlandaskan pewahyuan dan hikmat ilahi, bukan hanya pada pertimbangan rasional manusia. Teks ini menampilkan dua pendekatan yang kontras: strategi Raja Aram yang mengandalkan perencanaan manusiawi dan strategi Raja Israel yang bertumpu pada pewahyuan Tuhan melalui nabi Elisa. Penelitian ini menggunakan metode ekspositori dengan analisis teologis-kontekstual, memperhatikan struktur teks, latar belakang historis, dan pesan teologis yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi Kristen lahir dari relasi intim dengan Tuhan, kepekaan terhadap suara-Nya, serta ketaatan dalam melaksanakan kehendak-Nya. Strategi ini bukan sekadar respons taktis, melainkan tindakan yang dipimpin oleh hikmat ilahi untuk menghadapi tantangan rohani maupun praktis. Penelitian ini menegaskan relevansi teks 2 Raja-raja 6:8-9 bagi kepemimpinan dan pelayanan Kristen kontemporer, khususnya dalam merespons konflik internal, membangun visi pelayanan, serta mengintegrasikan pewahyuan ilahi dalam pengambilan keputusan strategis. Kebaruan kajian ini terletak pada pendekatan ekspositori yang memadukan dimensi biblika, teologis, dan praktis dalam merumuskan paradigma strategis Kristen yang transformatif.
Abstract:Penelitian ini menguraikan peran penting pendeta dalam pertumbuhan gereja secara kualitas dan kuantitas. Gereja-gereja seringkali menghadapi berbagai tantangan, baik internal maupun eksternal, yang memerlukan pemahaman yang…
ang mendalam tentang identitas gereja dan tujuannya. Kesadaran akan masalah-masalah tersebut dan kemampuan menghadapinya adalah faktor kunci dalam mengalami pertumbuhan gereja. Pembinaan dan pemuridan anggota gereja memainkan peran fundamental dalam membangun fondasi yang kokoh untuk pertumbuhan gereja tersebut. Peran pendeta dalam konteks gereja sangatlah penting karena mereka dipanggil dan ditetapkan oleh Allah untuk memimpin dan menggembalakan jemaat. Dengan kata lain, Allah mengangkat gembala untuk menggembalakan gereja (Efesus 4:11). Di era modern, peran pendeta semakin kompleks karena gereja-gereja sering berada di tengah masyarakat yang beragam, terutama di kota-kota besar, dengan perbedaan suku, status sosial, dan latar belakang pendidikan yang beragam. Pendeta harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang peran mereka dalam pertumbuhan gereja. Mereka bertanggung jawab melayani, mengajar, melawat, membina, dan memuridkan anggota gereja agar mereka dapat tumbuh dan berperan aktif dalam pelayanan gereja. Selain itu, pendeta juga mengorganisir pertemuan kelompok distrik, mendelegrasikan tugas melalui kelompok kecil, dan menyelenggarakan ibadah kebangunan rohani untuk membawa jiwa-jiwa baru atau orang-orang yang bertobat kepada Tuhan Yesus agar menjadi anggota gereja-Nya.
Abstract:Penelitian ini mengulas perjalanan dan transformasi kepemimpinan Raja Salomo, yang awalnya dikenal sebagai pemimpin yang paling bijaksana dalam sejarah, namun kemudian menjadi pemimpin yang lalim. Penelitian ini menganalisis…
isis peran teologis dalam narasi Kisah Raja Salomo, dengan fokus pada aspek kebanggaan dan kemakmuran yang berkontribusi pada akar kejatuhan Salomo. Dalam konteks ini, penelitian ini menjelaskan bagaimana kebijaksanaan awal Salomo digantikan oleh kemewahan dan pengaruh negatif kekayaan, sehingga dia terjerumus ke dalam berbagai dosa terhadap rakyatnya dan Tuhannya. Serta semua kesalahan yang dilakukannya berkaitan dengan perubahan paradigma kepemimpinan. Hasil penelitian ini memberikan wawasan tentang pentingnya moralitas dan nilai-nilai spiritual dalam menjaga kualitas kepemimpinan, serta mengilustrasikan bagaimana kejatuhan seorang pemimpin dapat menjadi pelajaran berharga dalam konteks teologis.
Abstract:This study examines the resolution of non-performing financing in Islamic financial institutions, which have experienced significant growth but are confronted with increasing risks of non-performing financing (NPF) that…
may undermine institutional stability and public trust. The research problem focuses on the suboptimal mechanisms for resolving problematic financing, the existence of a gap between legal norms and their practical implementation, and the lack of integration of philosophical approaches within the framework of Islamic economic law. This study aims to analyze resolution mechanisms from the perspective of Islamic economic law, identify the factors contributing to the normative–practical gap, and formulate a more comprehensive and equitable resolution model. The method employed is normative juridical, utilizing statutory and case approaches, with secondary data analyzed qualitatively through deductive reasoning. The findings indicate that the resolution of non-performing financing is still predominantly characterized by restructuring measures that are administrative in nature and fail to address root causes, while litigation pathways remain relatively ineffective due to procedural and substantive constraints. The disparity between legal norms and practice suggests that legal implementation has not fully reflected the principles of substantive justice. The study concludes by emphasizing the necessity of reconstructing resolution mechanisms through the integration of normative, empirical, and philosophical dimensions. The novelty of this research lies in the development of a maqāṣid al-sharī‘ah-based resolution model that offers a holistic approach oriented toward justice, public welfare, and the balance of interests, thereby providing more effective, contextual, and sustainable solutions within the Islamic financial system in Indonesia.
Abstract:Perbaikan faktor daya sangat penting bagi industri dan salah satunya adalah Rumah Sakit, Pada RSUD I.A. MOEIS kebanyakan beban bersifat induktif yang menyebabkan timbulnya daya reaktif, untuk itu diperlukan perbaikan faktor…
aktor daya (cos φ) guna memperbaiki efisiensi pemakaian daya pada Rumah Sakit tersebut. Langkah untuk memperbaiki faktor tersebut antara lain mengetahui beban total Rumah Sakit, nilai cos φ, rangkaian distribusi instalasi, dan menghiting konpensasi daya reaktif pada Rumah Sakit. Total beban puncak yang dipakai adalah 169.81 kVA, 70.67 kW dan 153,78 kVAR dengan cosphi 0,42, dan setelah dilakukan perbaikan faktor daya dengan pemasangan kapasitor Bank menggunakan metode pemasangan Global Conpensation dengan julah kapasitor yang digunakan Type CLMD43 - 3phase 10x20 kVAR dengan Power Factor Regulator RCV10 – 10 Step. Dan di dapatkan hasil yaitu 73,28 kVA, 70,67 kW dan 19,41 kVAR dengan nilai cosphi 0,96.
Abstract:Lembaga Pemasyarakatan Cilegon merupakan lembaga pelatihan penjara sekaligus sarana pelatihan yang melakukan pengawasan terhadap narapidana dengan membekali mereka dengan keterampilan untuk kehidupan di masa depan setelah…
lah menjalani hukuman penjara.
Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana program Lapas memberikan kegiatan orientasi kepada narapidana, (2) Faktor-faktor apa saja yang menghambat dan mendukung Lapas dalam memberikan orientasi kepada narapidana, (3) Solusi apa yang diterapkan Lapas untuk mengatasi kendala dalam melakukan orientasi terhadap narapidana? proses perkembangan narapidana? Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini menggunakan wawancara tidak terstruktur dan wawancara tatap muka dengan petugas dan narapidana atau mantan narapidana Lapas Cilegon. Tujuan peneliti menggunakan wawancara tidak terstruktur, terutama untuk mengenal sumber informasi. Kesimpulan penelitian ini adalah pelaksanaan pelatihan di Lapas Cilegon sudah sesuai dengan UU No. Undang-undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pelayanan Pemasyarakatan merupakan peraturan perundang-undangan yang positif dan harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan pemasyarakatan. Faktor pendukung upaya Lembaga Pemasyarakatan Cilegon dalam mengembangkan keterampilan narapidana antara lain kondisi penjara yang baik, pelatihan narapidana yang bersifat bottom-up, sarana dan prasarana yang memadai, serta pelatihan berbasis keluarga dan pemberian gaji. . Faktor-faktor yang menghambat upaya Lembaga Pemasyarakatan Cilegon untuk mengembangkan keterampilan narapidana antara lain kurangnya keterampilan penjaga penjara, terbatasnya pemasaran produk keterampilan dan populasi penjara yang kelebihan kapasitas.
Abstract:Bimbingan dan konseling adalah sebuah layanan yang ada di sekolah dimana tugasnya membantu siswa menemukan karakter dan identitas dalam mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan. Selain itu layanan bimbingan dan konseling…
nseling juga membantu siswa dalam mengoptimalkan pegembangan dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan meneliti terkait permasalahan siswa yang sering ditangani guru bimbingan dan konseling di sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA). Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif Penelitian ini menggunakan wawancara, wawancara yang digunakan yakni wawancara semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur mengacu pada inti bahasan yang sudah ditentukan oleh peneliti untuk semua responden dalam penelitian. Hasil, a) Siswa SMP memililki beberapa masalah pribadi yakni, masalah pribadi dan sosial yang meliputi: kepercayaan diri rendah dan memiliki kecenderungan memilih kelompok pertemanan. Di sekolah lain ditemukan masalah terkait keluarga, dimana siswa berasal dari keluarga yang broken home. Selanjutnya di SMP terakhir ditemukan masalah terkait kurangnya kemampuan bersosialisasi pada siswa. b). Siswa SMA memiliki beberapa masalah yakni, masalah pribadi dan sosial meliputi, gaya berpacaran yang kurang pantas, siswa dengan kasus broken home, dan masalah pengaturan emosi.
Abstract:Seiring berjalannya waktu, individu bertumbuh melalui fase penyelesaian tantangan hidup dan pembentukan jati dirinya. Proses ini disebut dengan pertumbuhan pribadi (personal growth). Pertumbuhan pribadi mengacu pada keterampilan…
rampilan seseorang secara aktif untuk terlibat dalam proses perubahan kognitif, afektif, maupun perilaku. Pertumbuhan pribadi salah satunya dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan individu. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah individu dengan latar belakang yang sama melalui proses pertumbuhan diri yang sama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan grounded theory. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap individu memiliki karakteristik masing-masing dalam bertumbuh namun dapat ditinjau dari aspek yang sama. Hal ini dikarenakan perbedaan latar belakang budaya dan rentang kehidupan (usia) masing-masing individu. Aspek pertumbuhan personal antara lain: 1) pengenalan terhadap diri sendiri (intrapersonal); 2) sosialisasi dengan orang lain (interpersonal); dan 3) pembentukan prioritas. Ketiga aspek ini memiliki indikator masing-masing yang dapat meninjau proses pertumbuhan pribadi seorang individu. Individu yang bertumbuh dengan baik dan positif akan memfasilitasi pencapaian kesejahteraan psikologis.