Abstract:Penelitian ini menganalisis peluang dan ancaman yang dihadapi sektor furnitur Indonesia dalam perdagangan internasional, dengan fokus pada Vietnam sebagai mitra dagang utama di kawasan ASEAN pada tahun 2025. Dengan menggunakan…
unakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif, penelitian ini bersumber dari data primer Badan Pusat Statistik (BPS) serta data sekunder dari jurnal ilmiah dan laporan pemerintah. Data primer menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025, total nilai ekspor furnitur Indonesia ke Vietnam mencapai $ 8.380.442,83, sedangkan nilai impor dari Vietnam mencapai $ 66.740.816,14. Hal ini mencerminkan defisit perdagangan sebesar sekitar $ 58,36 juta. Meskipun demikian, Indonesia memiliki keunggulan kompetitif berupa ketersediaan kayu tropis berkualitas tinggi, tradisi desain budaya yang kaya, dan dukungan pemerintah yang terus meningkat. Ancaman utama meliputi persaingan ketat dari produsen Vietnam, inefisiensi logistik, dan hambatan birokrasi perdagangan. Penelitian ini merekomendasikan agar Indonesia melakukan diversifikasi pasar di kawasan ASEAN, meningkatkan nilai tambah produk, dan memperkuat diplomasi ekonomi bilateral dengan Vietnam.
Abstract:Kerajinan bambu merupakan produk ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal yang memiliki potensi ekspor tinggi, khususnya ke pasar India. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peluang, tantangan, dan strategi pengembangan…
embangan ekspor kerajinan bambu Indonesia ke India pada tahun 2025. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur (library research) menggunakan data sekunder dari BPS, FAO, UNCTAD, IBEF, IMARC Group, dan berbagai literatur ilmiah terkait. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diperkuat dengan analisis SWOT untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi daya saing ekspor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume ekspor kerajinan bambu Indonesia ke India pada tahun 2025 mencapai 70.541 kg dan memiliki prospek yang positif seiring meningkatnya permintaan produk ramah lingkungan. Kekuatan utama terletak pada keunikan desain, nilai budaya, dan bahan berkelanjutan, sedangkan tantangan utama meliputi persaingan dengan produsen lokal India, konsistensi kualitas produk, keterbatasan teknologi, dan hambatan perdagangan. Strategi yang direkomendasikan mencakup peningkatan kualitas produk, inovasi desain, penguatan pemasaran digital, serta dukungan kebijakan ekspor. Penelitian ini menegaskan bahwa kerajinan bambu berpotensi menjadi komoditas unggulan dalam meningkatkan daya saing ekspor Indonesia di pasar India.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh minat beli konsumen terhadap pembelian produk halal di Swalayan Roli Kota Binjai. Label halal menjadi faktor krusial yang membentuk kepercayaan konsumen dan keputusan…
pembelian, khususnya di kalangan konsumen Muslim. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam terhadap dua orang konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua responden memiliki kesadaran yang tinggi terhadap produk halal dan secara konsisten menjadikan label halal sebagai pertimbangan utama dalam keputusan pembelian. Kepercayaan konsumen, kepatuhan agama, serta rasa aman yang dihadirkan oleh produk berlabel halal diidentifikasi sebagai faktor pendorong utama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa label halal berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen dan bahwa ketersediaan produk halal yang lebih luas di toko ritel sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Financing to Deposit Ratio (FDR) dan Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Non Performing Financing (NPF) pada PT Bank Muamalat Indonesia periode 2021–2025. NPF merupakan…
pakan indikator penting dalam menilai kualitas pembiayaan dan tingkat kesehatan bank syariah, sehingga perlu diketahui faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan asosiatif berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan PT Bank Muamalat Indonesia periode 2021–2025. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda yang diawali dengan uji asumsi klasik dan dilanjutkan dengan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial FDR tidak berpengaruh signifikan terhadap NPF dengan nilai signifikansi sebesar 0,823, sedangkan CAR juga tidak berpengaruh signifikan terhadap NPF dengan nilai signifikansi sebesar 0,980. Secara simultan, FDR dan CAR tidak berpengaruh signifikan terhadap NPF dengan nilai signifikansi sebesar 0,965. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 3,5% menunjukkan bahwa variasi NPF lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan NPF pada PT Bank Muamalat Indonesia periode 2021–2025 tidak ditentukan secara signifikan oleh FDR dan CAR, melainkan dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal lainnya.
Abstract:Pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia meningkatkan kebutuhan pengelolaan risiko likuiditas akibat ketidaksesuaian jatuh tempo antara sumber dana dan pembiayaan (maturity mismatch). Penelitian ini bertujuan menganalisis…
sis penerapan strategi maturity matching dalam mitigasi risiko likuiditas pada perbankan syariah serta peran Asset Liability Management (ALMA) dalam mendukung efektivitasnya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan melalui analisis berbagai jurnal, buku, dan dokumen terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi maturity matching mampu mengurangi kesenjangan jatuh tempo aset dan liabilitas sehingga mendukung stabilitas likuiditas bank syariah. Efektivitas strategi ini diperkuat oleh penerapan ALMA melalui pengelolaan arus kas, pemantauan struktur aset dan liabilitas, serta pengendalian risiko secara berkelanjutan. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan berupa dominasi dana jangka pendek, kondisi makroekonomi, dan trade-off antara likuiditas dan profitabilitas. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan dynamic mismatch untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas likuiditas dan optimalisasi keuntungan.
Abstract:Perkembangan perbankan syariah di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup pesat, namun kemampuan bank dalam menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) masih dipengaruhi oleh berbagai faktor internal yang tercermin melalui tingkat…
gkat kesehatan dan kinerja keuangan bank. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Non-Performing Financing (NPF), dan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Dana Pihak Ketiga pada Bank Syariah Indonesia periode 2021–2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif kausal. Data yang digunakan berupa laporan keuangan triwulanan Bank Syariah Indonesia periode 2021–2025 dengan jumlah 20 data observasi. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda melalui bantuan software pengolah data statistik yaitu SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CAR tidak berpengaruh signifikan terhadap DPK, NPF berpengaruh negatif dan signifikan terhadap DPK, sedangkan BOPO berpengaruh positif dan signifikan terhadap DPK. Secara simultan CAR, NPF, dan BOPO berpengaruh signifikan terhadap DPK. Penelitian ini memberikan gambaraDana Pihak Ketiga (DPK)n bahwa penghimpunan DPK pada Bank Syariah Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh kekuatan modal, tetapi juga oleh kemampuan bank dalam mengelola risiko pembiayaan dan menjalankan strategi operasional.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja ekspor furnitur kayu Indonesia ke Jepang dalam meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk industri pengolahan pada tahun 2025. Metode yang digunakan adalah deskriptif…
tif kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS). Analisis dilakukan terhadap nilai dan volume ekspor furnitur kayu Indonesia ke Jepang selama tahun 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspor furnitur kayu Indonesia mencapai volume 44.791.863 kilogram dengan nilai ekspor sebesar US$105.382.247. Temuan ini menunjukkan bahwa furnitur kayu Indonesia memiliki daya saing yang baik di pasar Jepang serta mampu memberikan nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan bahan baku kayu. Oleh karena itu, industri furnitur kayu memiliki peran penting dalam meningkatkan devisa negara dan mendukung pertumbuhan sektor industri pengolahan di Indonesia.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat ketergantungan impor bawang putih Indonesia terhadap Tiongkok serta risikonya terhadap ketahanan pangan nasional dalam upaya menuju swasembada pangan tahun 2025. Metode…
penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif menggunakan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan studi literatur terkait perdagangan internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 97% impor bawang putih Indonesia berasal dari Tiongkok sehingga menunjukkan tingginya ketergantungan terhadap satu negara pemasok utama. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan risiko terhadap stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri. Selain itu, keterbatasan kondisi iklim dan kesesuaian lahan pertanian menyebabkan produksi domestik belum mampu memenuhi kebutuhan nasional secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan strategi peningkatan produksi dalam negeri dan diversifikasi sumber impor guna mendukung penguatan ketahanan pangan nasional.
Abstract:Wakaf memiliki peran strategis sebagai instrumen filantropi Islam dalam mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan ekonomi di Indonesia. Namun, kesenjangan yang signifikan masih terjadi antara potensi masif yang dimiliki…
ki dengan realisasi penghimpunannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pengelolaan wakaf produktif di Indonesia, mencakup konsep, kerangka hukum, tantangan, serta strategi pengembangannya. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kepustakaan (literature review), penelitian ini mensintesis berbagai artikel ilmiah, buku, dan laporan resmi terkait tata kelola wakaf produktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kerangka hukum melalui UU No. 41 Tahun 2004 dan pembentukan Badan Wakaf Indonesia (BWI) sudah kuat, efektivitas pengelolaan wakaf produktif secara nasional belum berjalan optimal. Tantangan struktural utama meliputi keterbatasan kapasitas manajerial nazhir, rendahnya literasi masyarakat mengenai wakaf produktif, serta kendala administrasi aset. Sebaliknya, beberapa studi kasus lembaga wakaf modern membuktikan bahwa manajemen profesional, inovasi model bisnis, dan transparansi mampu menghasilkan surplus berkelanjutan untuk mendukung sektor pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa revitalisasi manajemen wakaf melalui profesionalisasi nazhir, kolaborasi lintas sektor, dan digitalisasi merupakan keharusan untuk meningkatkan efektivitas wakaf produktif sebagai pilar pembangunan ekonomi yang inklusif.
Abstract:Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sering diposisikan sebagai barometer kondisi ekonomi nasional yang merangkum ekspektasi pelaku pasar terhadap fundamental makroekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi…
engevaluasi peran serta efektivitas IHSG sebagai indikator kesehatan ekonomi Indonesia berdasarkan bukti-bukti empiris dari studi terdahulu. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kepustakaan (literature review) sistematis yang mensintesis artikel jurnal, laporan ilmiah, dan data sekunder terkait. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa IHSG memiliki hubungan dua arah yang signifikan dengan variabel makroekonomi utama seperti inflasi, suku bunga, nilai tukar, dan pertumbuhan PDB. Penguatan IHSG mencerminkan optimisme investor dan stabilitas keuangan, sementara penurunannya memberikan sinyal risiko makroekonomi atau tekanan eksternal akibat integrasi keuangan global. Namun, penelitian ini juga mengidentifikasi keterbatasan IHSG, antara lain kerentanannya terhadap perilaku spekulatif jangka pendek, serta ketidakmampuannya dalam merefleksikan kondisi sektor UMKM secara komprehensif. Kesimpulannya, meskipun IHSG sangat relevan sebagai leading indicator untuk membaca dinamika pasar dan mendiagnosis denyut nadi perekonomian, penggunaannya tidak boleh berdiri sendiri. Otoritas kebijakan disarankan untuk mengintegrasikan analisis IHSG dengan indikator sektoral dan sosial-ekonomi yang lebih luas guna menciptakan gambaran kesehatan ekonomi nasional yang utuh, inklusif, dan berkelanjutan.