Abstract: Diabetes Mellitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah akibat gangguan sekresi insulin, resistensi insulin, atau keduanya. Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat…
pat dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya pola makan yang kurang baik dan rendahnya kepatuhan minum obat. Berdasarkan survei awal di Puskesmas Belimbing Padang, sebagian besar pasien masih mengonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan, memiliki jadwal makan yang tidak teratur, serta belum patuh dalam mengonsumsi obat antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan dan kepatuhan minum obat dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 di Puskesmas Belimbing Padang Tahun 2025. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 197 pasien Diabetes Mellitus tipe 2 yang berkunjung ke Puskesmas Belimbing Padang pada Desember 2024–Januari 2025, dengan sampel sebanyak 66 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pola makan, kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8), dan lembar observasi kadar gula darah puasa. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p ≤ 0,05.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 66 responden, sebanyak 41 orang (62,1%) memiliki pola makan kurang baik, 45 orang (68,2%) memiliki kepatuhan minum obat yang rendah, dan 42 orang (63,6%) memiliki kadar gula darah yang tidak terkontrol. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value = 0,000, yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara pola makan dan kepatuhan minum obat dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 di Puskesmas Belimbing Padang Tahun 2025. Disimpulkan bahwa pola makan dan kepatuhan minum obat berhubungan secara signifikan dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2. Oleh karena itu, Puskesmas Belimbing Padang diharapkan dapat meningkatkan edukasi mengenai pengaturan pola makan, kepatuhan minum obat, melibatkan keluarga dalam pengelolaan penyakit, serta menyediakan media edukasi yang efektif untuk membantu pasien mengontrol kadar gula darah.
Abstract:Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat antihipertensi menjadi salah satu penyebab tekanan darah tidak…
terkontrol sehingga meningkatkan risiko terjadinya komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal. Puskesmas Belimbing Padang merupakan puskesmas dengan jumlah kasus hipertensi tertinggi di Kota Padang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan minum obat dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas Belimbing Padang Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Belimbing Padang pada tanggal 25 Agustus sampai 1 September 2025. Populasi penelitian berjumlah 308 pasien hipertensi dengan sampel sebanyak 75 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Kepatuhan minum obat diukur menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8), sedangkan tekanan darah diukur menggunakan tensimeter dan stetoskop. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 57,3% responden memiliki tekanan darah meningkat, sedangkan 42,7% responden memiliki tingkat kepatuhan minum obat yang rendah. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p-value = 0,001 (p < 0,05) yang menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara kepatuhan minum obat dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas Belimbing Padang Tahun 2025. Disimpulkan bahwa semakin baik kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antihipertensi, maka semakin baik pula pengendalian tekanan darah. Oleh karena itu, tenaga kesehatan diharapkan dapat meningkatkan edukasi, konseling, dan pemantauan kepatuhan minum obat secara berkelanjutan kepada pasien hipertensi dan keluarganya guna mencapai pengendalian tekanan darah yang optimal.
Abstract:Disgestion is a very important process for the health and well-being of the body, if it s not properly managed, it can increase the risk of more serious health problems, one of which is Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).…
ERD). Risk factors that may contribute to the development of GERD include poor dietary pattern, physical activity, medication use, sleep quality, lifestyle, and academic stress. This study employs an analytical and approach using a quantitative method with a cross-sectional design. The population and sample consisted of 106 students selected using purposive sampling. Data analysis was conducted using a univariate and bivariate analyses. The chi-square test result showed that dietary pattern, physical activity, medication use, sleep quality, lifestyle, and academic stress had a significant association with GERD symptoms, with p-values < 0,05. It is recommended that students pay attention to dietary patterns, physical activity, medication use, sleep quality, lifestyle, and manage stress properly to achieve better health. For the Faculty of Medicine, it is recommended that education be provided regarding the importance of maintaining stundent health, particularly in relation to dietary patterns, physical activity, medication use, sleep quality, lifestyle, and stress management. Future researchers are encouraged to further develop follow-up studies on factors associated with GERD symptoms.
Abstract:Background: Cardiovascular disease (CVD) continues to be the predominant cause of global mortality. Polypill techniques that integrate various cardiovascular drugs into a single formulation have emerged as a potential method…
thod for primary prevention, especially in intermediate-risk populations.
Objective: To systematically review and synthesize evidence regarding the efficacy and safety of polypill formulations (comprising antihypertensive medications, statins, with or without aspirin) in comparison to standard care or placebo for the primary prevention of major adverse cardiovascular events (MACE) in intermediate-risk populations.
Methods: We conducted systematic review and meta-analysis in accordance with PRISMA 2020 standards (Systematic Review Registration: PROSPERO CRD420251184718). Various databases (PubMed, Cochrane Library, ScienceDirect, Scopus) were examined for original research published from January 2015 to October 2024. Studies were eligible if they assessed polypill therapies in individuals aged 30 to 70 years with intermediate cardiovascular risk (10-20% 10-year risk), reported composite major adverse cardiovascular events (MACE) outcomes, and included a minimum follow-up of 6 months. Two independent reviewers conducted screening, data extraction, and risk of bias evaluation utilizing the Cochrane RoB 2.0 tool.
Results: Of the 161 records discovered, 4 randomized controlled studies (HOPE-3, TIPS-3, PolyIran, PolyPars) with 31,501 people fulfilled the inclusion criteria. Polypill therapies showed a substantial decrease in composite MACE relative to control groups (pooled HR 0.67 (95% CI 0.60-0.75, p<0.001). Individual trial hazard ratios varied from 0.50 (PolyPars) to 0.66 (PolyIran) and 0.79 (TIPS-3) with moderate heterogeneity (I²=35.2%, p=0.20). Polypills were generally well- tolerated, with a safety profile consistent with the individual components. Medication adherence was enhanced with the polypill in comparison to multiple-pill regimens.
Conclusions: Polypill techniques markedly reduce major adverse cardiovascular events (MACE) in intermediate-risk patients for primary cardiovascular prevention, achieving around a 33% relative risk reduction. The fixed-dose combination strategy provides benefits in compliance and ease of use. These findings hold significant implications for healthcare systems in low-to-
middle-income nations, such as Indonesia, where the burden of cardiovascular disease is substantial and access to long-term cardiovascular drugs is frequently hindered by cost and complexity.
Abstract:Menstrual pain, or dysmenorrhea, is a common menstrual disorder experienced by teenage girls that can disrupt daily activities. Menstrual pain management includes, but is not limited to, pharmacological and non-pharmacological…
ogical approaches. One of the non-pharmacological treatments is called acupressure. This study aims to determine the effect of acupressure therapy on the intensity of menstrual pain among female students at SMA Negeri 5 Banda Aceh. The research employed a quantitative design with a one-group pretest and posttest quasi-experimental design. The population consisted of 153 girls, and 20 of them were selected as the sample using a purposive sampling technique. The data were collected using a Numeric Rating Scale (NRS) questionnaire from May 7th to 17th, 2025. Then, the data was analyzed using the Wilcoxon Test, which obtained a p-value of 0.000 <0.05. This result indicated there was an acupressure effect on menstrual pain. Therefore, this finding proved that the use of acupressure influenced menstrual pain among female students at SMA Negeri 5 Banda Aceh. This study recommends that female students familiarize themselves with and practice acupressure techniques as an effort to reduce menstrual pain without relying on medication. Furthermore, female students need to be more open to seeking information and natural solutions for controlling reproductive health at an early age.
Abstract:Diabetes mellitus is a disease characterized by increased glucose levels that over time cause serious damage to the heart, blood vessels, eyes and kidneys ( World Health Organization) in 2024. Compliance is the degree to…
which a person carries out health-related behavior, either taking medication, following diet therapy and changing lifestyle according to recommendations given by health workers. Diet or nutritional therapy is used to regulate the patient's food intake so that it remains fulfilled and does not result in an increase in blood sugar so that it is necessary to regulate the schedule, type and amount of food as nutrition. This study aims to determine whether there is a relationship between health locus of control and compliance with diet in patients with diabetes mellitus in the Kabila Health Center work area. The design in this study is quantitative correlational. The sampling technique in this study used the non-probability sampling method with a total sample of 52 diabetes mellitus participants at the Kabila Health Center. The instrument used in the study used a questionnaire instrument with open questions about the variable health locus of control and compliance with the diet of patients with diabetes mellitus. Based on the results of the study, there is a relationship between health locus of control and compliance with diet in diabetes mellitus patients in the Kabila Health Center work area, with a significance value or p-value showing 0.000 (p <0.05). This is based on the alternative Fisher exact test because there are 3 cells with an expect count value <5.
Abstract:Abstract: The Halodoc application, as a digital healthcare service platform, has been widely used for various medical purposes, such as doctor consultations, medication purchases, and laboratory services. User interactions…
ns and reviews play a crucial role in enhancing service quality. Sentiment analysis was conducted using the Support Vector Machine (SVM) method to assess user perceptions and satisfaction based on reviews obtained from the Google Play Store platform. The analysis process included data collection, text preprocessing, data transformation using TF-IDF, and training an SVM model to predict sentiment. The model achieved its highest accuracy of 88.32% in the first scenario. However, accuracy slightly decreased in the second and third scenarios, reaching 86.25% and 86.94%, respectively. The analysis results indicated that the model performed best in the first scenario, with the lowest number of prediction errors. Additionally, the model was more accurate in classifying negative and positive sentiments than neutral ones.
Keywords: halodoc application; sentiment analysis; support vector machine algorithm
Abstrak: Aplikasi Halodoc, sebagai platform layanan kesehatan digital, telah banyak digunakan untuk berbagai keperluan medis seperti konsultasi dokter, pembelian obat, dan layanan laboratorium. Interaksi pengguna dan ulasan mereka memiliki peran krusial dalam meningkatkan mutu layanan. Analisis sentimen dilakukan dengan menggunakan metode Support Vector Machine (SVM) untuk mengetahui persepsi dan kepuasan pengguna berdasarkan ulasan yang diperoleh dari Platform Google Play Store. Proses analisis mencakup pengumpulan data, pra-pemrosesan teks, transformasi data menggunakan TF-IDF, dan pelatihan model SVM untuk memprediksi sentimen. Hasil pelatihan model dengan akurasi tertinggi sebesar 88,32% pada skenario pertama. Akurasi sedikit menurun pada skenario kedua dan ketiga, masing-masing sebesar 86,25% dan 86,94%, Hasil analisa menunjukkan bahwa model memiliki performa terbaik pada skenario pertama dengan jumlah kesalahan prediksi terkecil. Selain itu, model cenderung lebih akurat dalam mengklasifikasikan sentimen negatif dan positif dibandingkan netral..
Kata kunci: algoritma support vector machine; analisis sentimen; aplikasi halodoc
Abstract:Hypertension is a non-communicable disease that is a global problem in both developed and developing countries and is the cause of stroke as the second death and third disability. Efforts are needed to reduce and control…
the prevalence of hypertension by utilizing nonpharmacological therapies, such as consuming young coconut water consumption. Therefore, this study aims to evaluate the effect of young coconut water consumption on reducing high blood pressure in menopausal women. A nonrandomized controlled trial study with a pretest-posttest control group design was chosen as the design of this study, which was conducted at the Community Health Center of Pekalongan, East Lampung Regency. A consecutive sampling technique was used to select eligible participants among menopausal women diagnosed with mild and moderate hypertension by medical personnel, totalling 16 treatment groups and 16 control groups. The treatment group was given the intervention of consuming young coconut water 300 ml morning and evening for seven days and taking standard hypertension medication. Meanwhile, the control group took standard hypertension medication. Participants had their blood pressure checked using an aneroid tensimeter before and after treatment. Data were analysed using a paired t-test with a confidence level (α) of 0.05 to prove the treatment effect on blood pressure reduction. The results found that the treatment of drinking young coconut water affected reducing systole blood pressure (p-value 0.016) and diastole (p-value 0.007). The average decrease in systolic and diastolic blood pressure pre and post-treatment was 11.25 mmHg and 9.87 mmHg after participants were controlled by taking standard hypertension medications. Drinking young coconut water can be used as a companion option for hypertension treatment by the community.
Abstract:Kesalahan dalam pengobatan (Medication error) adalah kejadian yang merugikan pasien akibat pemakaian obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan, yang sebetulnya dapat dicegah. Medication error yang terjadi pada berbagai…
ai fase dalam pelayanan obat di RSPBA Bandar Lampung. Ada 3 Fase yang dinilai dalam medication error ini yaitu fase prescribing, fase transcribing, dan fase dispensing. Penelitian ini merupakan observasional dengan desain cross sectional terhadap data-data resep yang ada di Instalasi Farmasi RSPBA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi medication error pada ketiga fase tersebut. Fase prescribing potensia kesalahan terjadi karean: tidak adanya nama dokter (9,13%), tidak adanya nomor SIP (17,1%), tidak adanya tanggal penulisan resep (217%), tidak adanya paraf dokter (16,3%), tidak adanya tanggal lahir pasien (9,5%), tidak adanya nomor rekam medik (1,5%). Pada fase transcribing potensi kesalahan terjadi karena: tidak jelas nama dokter (8,7%) tidak jelas nomor SIP dokter (14,8%), tidak jelas cara pakai obat (0,39%). Sedangkan pada fase dispensing potensi terjadi kesalahan terjadi karena: jumlah obat yang disiapkan tidak sesuai dengan yang diresepkan (0,39%).
Abstract:Penyakit tuberkulosis (TB) merupakan penyakit akibat infeksi oleh basil Mycobacterium tuberculosis, yang umumnya menyerang pada organ paru-paru. Efektifnya pengobatan TB paru dibutuhkan pengawas minum obat (PMO) untuk menjamin…
njamin keberlangsungan pengobatan hingga tuntas. Inovasi digital sering dilakukan untuk menunjang pelayan kesehatan, salah satunya penggunaan Whatsapp Group guna mengoptimalkan peran PMO dalam pelayanan Kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Pengawas Minum Obat (PMO) berbasis Whatsapp Group terhadap tingkat kepatuhan minum obat pada pasien TB paru. Penelitian ini menggunakan metode quasi experiment two group pretest-posttest, dengan melibatkan 46 responden di Puskesmas Muka Cianjur. Intervensi dilakukan selama 3 minggu berturut-turut pada jam yang telah disepakati. Pengukuran variabel independent menggunakan kuesioner PMO yang berisi 15 pertanyaan, sedangkan variabel dependen menggunakan kuesioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale). Hasil uji Paired T Test menunjukan meningkatnya nilai rerata skor tingkat kapatuhan kelompok intervensi dengan rata-rata 5.48 menjadi 6.64, sedangkan kelompok kontrol dari 5.20 menjadi 5.66. Hasil uji Independent T Test menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pengawas minum obat (PMO) berbasis whatsapp group terhadap tingkat kepatuhan minum obat pada pasien TB paru (p = .005 (p < 0,05)).