Abstract:Obesitas adalah masalah kesehatan global yang ditandai dengan menumpuknya lemak tubuh berlebih, meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung. Data Mining sangat efektif untuk mengidentifikasi…
faktor risiko obesitas pada individu menggunakan algoritma Random Forest yang diimplementasikan dengan RapidMiner, dipilih karena kemampuannya menangani banyak variabel dan mengatasi multikolinearitas. Dataset ini terdiri dari 2.087 entri dengan 15 fitur terkait gaya hidup, pola makan, dan riwayat kesehatan yang diperoleh dari situs Kaggle, dan dibagi menjadi 90% data latih serta 10% data uji untuk evaluasi kinerja model. Hasilnya menunjukkan model mampu mencapai akurasi 79,81%, presisi 78,26%, dan recall 67,86%, dengan faktor dominan yang mempengaruhi risiko obesitas adalah konsumsi makanan tinggi kalori, rendahnya aktivitas fisik, dan riwayat keluarga obesitas. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi upaya pencegahan obesitas melalui pengembangan kebijakan kesehatan dan program edukasi yang lebih efektif, fokus pada perubahan pola hidup untuk mengurangi prevalensi obesitas dan komplikasi
Abstract:Latar belakang: faktor resiko dari hipertensi salah satunya adalah pola makan. Beberapa perilaku makan-makanan yang beresiko menyebabkan hipertensi adalah sering makan makanan asin, sering makanan manis dan sering makan…
makanan berlemak. Kondisi prilaku makan makanan beresiko pada komunitas lansia terjadi peningkatkan presentasenya dari tahun 2007 ke tahun 2013, hanya pada prilaku makan-makanan yang ternyadi penurunan 9,4%, sedangkan pada prilaku makan makanan asin meningkat tajam sebesar 1,7%. Tujuan: Mengetahui hubungan pola dengan kejadian hipertensi pada lansia di puskesmas sukawali kecamatan pakuhaji kabupaten tangrang tahun 2024, Metode: penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode cross sectional. Teknik yang digunakan pada lansia di puskesmas sukawali tahun 2024 adalah probability sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 109 responden, Analisis data menggunakan statistik Uji Rank Spearman Correlation. Hasil: Hasil Rank Spearman Correlation hubungan pola makan dengan kejadian hipertensi nilai signifikansi/p-value sebesar 0,000 dengan nilai 0,585 kategori baik sebanyak (14.7%), kategori Buruk (85.3%). Dalam Uji Rank Spearman Correlation didapatkan hasil tersebut menunjukan nilai P value sebesar 0,000 (P < 0,05). Terdapat hubungan pola makan dengan kejadian hipertensi pada lansia di puskesmas sukawali kecamatan pakuhaji kabupaten tangerang tahun 2024. Apabila seseorang memiliki pola makan yang buruk maka orang tersebut beresiko mengalami hipertensi 0,585 kali lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki pola makan yang baik
Abstract:Latar Belakang : Stroke non hemoragik adalah suplai darah ke otak terganggu akibat arteroklerosis atau bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah. Penyubatan bisa terjadi disepanjang jalur arteri yang menuju ke otak. Misalnya…
alnya sustu atheroma (endapan lemak) bisa terbentuk didalam arteri akrotis sehingga menyebabkan berkurangnya aliran darah. Endapan lemak juga bisa terlepas dari dinding arteri dan mengalir didalam darah, kemudian menyumbat arteri kecil. Dampak yang terjadi mengakibatkan kehilangan control volunter terhadap gerakan motorik di awal tahapan stroke, hilang atau menurunnya refleks tendon yang mengakibatkan terjadinya risiko jatuh dan dapat kehilangan kemampuan berbicara. Lansia yang mengalami post stroke non hemoragik merasa seluruh aktivitas nya terganggu dan memiliki gangguan bicara. Tindakan non farmakologis diberikan terapi wicara AIUEO. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh terapi wicara AIUEO terhadap gangguan bicara. Metode : Studi kasus yang dilakukan 15 menit 2 kali sehari selama 7 hari pada Ny. T dengan menggunakan pengukuran skala fungsional komunikasi derby. Hasil : Setelah dilakukan penerapan terapi wicara AIUEO selama 7 hari terjadi peningkatan bicara dari E: 4 P: 4 I: 4 menjadi E: 6 P:6 I:6, bicara menjadi lebih jelas. Kesimpulan : Terapi wicara AIUEO berpengaruh untuk memperbaiki gangguan bicara pada pasien post stroke non hemoragik.
Abstract:Latar Belakang : Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit gangguan metabolisme yang diakibatkan oleh hiperglikemia yaitu gangguan sekresi insulin. Tingkat pengetahuan merupakan faktor penting dalam membentuk perilaku dan…
karakter manusia. Pengetahuan yang rendah mengakibatkan pola makan yang salah. Pola makan di kota -kota telah bergeser dari pola makan tradisional yang mengandung banyak karbohidrat dan serat dari sayuran, ke pola makan kebarat - baratan, dengan komposisi makanan yang terlalu banyak mengandung protein, lemak, gula, garam dan mengandung sedikit serat. Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan pola makan dengan kejadian penyakit diabetes melitus di RW03 Pasar Baru. Metode Penelitian : Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan menggunakan cross sectional dengan teknik pengambilan sampling purposive sampling yaitu dengan teknik pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri – ciri khusus sesuai dengan penelitian. populasi penelitian ini adalah masyarakat RW03 pasar baru yang berjumlah 106 responden. Teknik analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil : berdasarkan analisis bivariate dengan menggunakan uji chic-square bahwa p-value 0,031 < 0,05 maka dapat disimpulkan Ha diterima dan Ho ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang sidnifikan antara tingkat pengetahuan pola makan dengan kejadian penyakit diabetes melitus di RW03 pasar baru. Kesimpulan : Bahwa adanya pengetahuan seseorang sangat di dukung oleh tingkat pengetahuan yang baik. Baik dalam memiliki pengetahuan pola makan, life style seperti olahraga baik dalam kejadian penyakit atau kadar gula darah. Maka dari itu kita perlu mengetahui pentingnya pengetahuan pola makan agar terciptanya kesadaran masyarakat untuk menjaga pola makan. Oleh karena itu di harapkan pengetahuan pola makan diabetes melitus menjadi salah satu Upaya untuk menurunkan angka penderita diabetes melitus.
Abstract:Remaja merupakan masa transisi dari kanak-kanak ke keadaan nyatanya, pada masa inilah pondasi kehidupan sehari-hari dibangun. Obesitas disebut sebagai asupan makanan yang tidak normal atau berlebihan yang dapat memicu penumpukan…
numpukan lemak serta dapat membahayakan kesehatan tubuh. Lebih dari 340 juta anak dan remaja berusia 5-19 tahun mengalami kelebihan berat badan atau obesitas pada tahun 2016. Di Indonesia 13,5% usia 18 tahun mengalami kelebihan berat badan dan 28,7% mengalami obesitas dengan IMT 25 dan 15,4% dengan IMT 27. Kurangnya pengetahuan, pengalaman, serta paparan informasi dapat menambah angka kejadian obesitas yang sudah ada. penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan remaja mengenai gizi seimbang dengan angka kejadian obesitas pada siswa SMKN 5 Kabupaten Tangerang. penegambilan sampel ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional dengan sampel 129 siswa kelas X SMKN 5 Kabupaten Tangerang. Hasil penelitian ini menunjukan adanya hubungan antara pengetahuan gizi seimbang dengan angka kejadian obesitas dimana nilai p = 0,000. Dari penelitian ini adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan gizi seimbang dengan angka kejadian obesitas di SMKN 5 Kabupaten Tangerang. Bahwa semakin baik pengetahuan maka semakin rendah pula angka kejadian obesitas.