Search Articles & Publications

Showing 4896 articles found for "Ikan"

Wawasan Al-Qur'an Tentang Ukhuwah

Sitti Khadijah Amran, Hasyim Haddade, Hamka Ilyas
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi wawasan Al-Qur'an tentang Ukhuwwah (persaudaraan) dan implikasinya bagi masyarakat modern. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metodologi tafsir tematik (maudhu'i),… u'i), mengumpulkan data dari berbagai ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan persaudaraan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Al-Qur'an mengkategorikan Ukhuwwah ke dalam beberapa jenis utama: Ukhuwwah Islamiyah (persaudaraan seagama), Ukhuwwah Insaniyah (persaudaraan kemanusiaan), dan Ukhuwwah Nasabiyah (persaudaraan sedarah). Kesimpulan dari penelitian ini menekankan bahwa pemahaman dan implementasi prinsip-prinsip Al-Qur'an ini dapat secara efektif menyelesaikan konflik sosial dan mendorong perdamaian.

Wawasan Al-Qur'an Tentang Kesehatan

Muhammad Basrul Anwar, Hamka Ilyas, Hasyim Haddade
Abstract: Kesehatan merupakan instrumen krusial bagi manusia untuk menjalankan fungsi spiritual sebagai hamba dan fungsi sosial sebagai khalifah secara optimal. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi wawasan Al-Qur'an tentang… kesehatan fisik dan mental melalui pendekatan metode Tafsir Mawḍu'ī (tematik). Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Qur'an memandang kesehatan sebagai kesatuan holistik antara aspek jasmani (fisik) dan rohani (psikis/mental). Kesehatan fisik diwujudkan melalui perintah menjaga kebersihan (thaharah), mengonsumsi makanan halal dan thayyib, serta larangan berperilaku berlebihan dalam makan. Sementara itu, kesehatan mental-spiritual dicapai melalui zikir, ketenangan jiwa (sakinah), tawakal, dan optimalisasi fungsi Al-Qur'an sebagai asy-Syifa (penyembuh gangguan psikologis dan spiritual). Integrasi kedua aspek ini memposisikan pemeliharaan kesehatan (hifzh an-nafs) sebagai bagian integral dari tujuan utama hukum Islam (maqashid al-syari'ah).

Persepsi Hadis Taqwa Dengan Metode Tematik

Abustani Ilyas, Erwin Hafid, Fahruddin Fahruddin, Sitti Khadijah Amran, Haswani Ansar, Nana Nur Zulaikha
Abstract: Taqwa secara epistemologi berasal dari bahasa Arab "waqa-yaqi-wiqayah" yang berarti memelihara atau melindungi diri dari bahaya, khususnya siksaan Allah SWT dengan mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,  atau menjaga… menjaga diri dari sesuatu yang membahayakan. Berdasarkan uraian tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: “Bagaimana konsep taqwa dalam Al-Qur'an dan Hadis jika dikaji secara tematik (mawdhui)? Apa implikasi praktisnya bagi kehidupan Muslim”? Penelitian ini bertujuan untuk “Menyajikan gambaran menyeluruh tentang taqwa melalui pendekatan tafsir tematik, menghubungkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW secara sistematis”.  Penelitian ini menggunakan metode  tafsir mawdhui yaitu pengumpulan ayat dan hadis bertema taqwa, analisis linguistik, kajian asbabun nuzul, dan sintesis konsep secara integratif. Al-Qur'an & Hadis Saling Melengkapi, Metode mawdhu'i mengungkap keselarasan sempurna antara wahyu dan sunnah dalam membangun konsep taqwa. Konsep Taqwa Mawdhu'i adalah  sistem proteksi bertingkat hati→fisik→sosial→negara) yang Allah janjikan 3 kemudahan: jalan keluar (At-Talaq:2), rezeki tak disangka (hadis Bukhari), surga luas (Ali Imran:133). Munasabah ayat-hadis tunjukkan tahapan wahyu: Makkah (takwa iman) → Madinah (takwa sosial) → wasiat Nabi (takwa mutlak). Inti: Taqwa bukan "takut doang", tapi proaktif jalankan perintah + jauhi larangan sebagai sekat azab menuju falah dunia-akhirat. Sintesis Akhir yaitu Kajian Syarh Taqwa Al-Mawdhui membuktikan bahwa taqwa bukan sekadar rasa takut kepada Allah, melainkan sebuah sistem nilai hidup yang komprehensif — mencakup dimensi spiritual, ritual, sosial, dan kenegaraan.

Transformasi Pemaknaan Al-Ba’ah dalam Perspektif Marriage Readiness pada Generasi Z

Khoiriyah, Fadilla Nur, Nasrulloh Nasrulloh
Abstract: Fenomena waithood pada generasi Z menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap kesiapan menikah (marriage readiness) di tengah dinamika sosial kontemporer. Jika dalam tradisi Islam kemampuan menikah dirumuskan melalui… lui konsep al-ba’ah, masyarakat modern cenderung mengembangkan konstruksi marriage readiness yang lebih kompleks dan multidimensional. Penelitian ini bertujuan menganalisis validitas hadits anjuran menikah tentang al-ba’ah, mengkaji pemaknaannya dalam literatur klasik, serta menjelaskan transformasi konstruksi marriage readiness pada Generasi Z. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual. Data diperoleh melalui library research yang dianalisis menggunakan metode takhrij hadits, yakni kritik sanad dan matan, serta analisis fiqh al-hadits. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis anjuran menikah mengenai al-ba’ah berstatus sahih dan dapat dijadikan hujjah dalam hukum Islam. Secara klasik, al-ba’ah dipahami sebagai kemampuan biologis dan kemampuan finansial yang menjadi prasyarat seseorang untuk memasuki kehidupan perkawinan. Sementara itu, konstruksi marriage readiness pada generasi Z berkembang menjadi konsep multidimensional yang mencakup kesiapan ekonomi, emosional, psikologis, relasional, dan sosial. Penelitian ini menemukan bahwa transformasi tersebut tidak menunjukkan pertentangan dengan substansi konsep al-ba’ah, melainkan berupa perluasan indikator operasional mengenai kemampuan menikah sebagai respons terhadap perubahan sosial pada era disrupsi. Dengan demikian, marriage readiness dapat dipahami sebagai bentuk aktualisasi kontemporer dari konsep al-ba’ah yang tetap berorientasi pada terwujudnya kemaslahatan keluarga.

Analisis Fikih Hadis Shahih (Sunan Abu Daud No 3571) Tentang Batasan Isbal Dan Larangan Memanjangkan Pakaian Dalam Berbusana Dengan Unsur Kesombongan Khuyala

Nanda Aidil Fitrah, Nasrullah Nasrullah
Abstract: Di antara permasalahan etika berpakaian dalam Islam memanjangkan pakaian sampai ke bawah mata kaki bahkan hingga menyapu jalan. Dalam Islam, isbal diperbolehkan secara mutlak bagi wanita. Namun, bagi laki-laki masih menjadi… adi perbincangan di kalangan ulama karena praktik tersebut dapat berkaitan dengan sikap kesombongan. Terdapat banyak hadis yang menjelaskan tentang perkara isbal dengan berbagai bentuk redaksi dan penjelasan.Sementara itu, sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa inti larangan tersebut bukan terletak pada panjang pakaian semata, melainkan pada unsur kesombongan yang melatarbelakanginya. Larangan memanjangkan pakaian melebihi batas isbal bagi laki-laki kerap menimbulkan perdebatan yang reduksionis karena hanya berfokus pada media celana atau sarung. pembahasan isbal dalam Hadis Sunan Abu Dawud nomor 3571 memberikan redaksi yang lebih komprehensif dengan memperluas cakupan isbal pada jenis pakaian lain serta mengaitkannya dengan aspek teologis berupa kesombongan (khuyala).Hadis tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama yang mendapat perhatian dalam ajaran Islam adalah sikap batin seseorang ketika berpakaian, bukan sekedar bentuk lahiriahnya.Oleh karena itu, kajian terhadap hadis ini menjadi penting untuk memahami hubungan antara etika berpakaian, nilai moral, dan tujuan syariat Islam.Dengan demikian, kajian hadis tentang isbal tidak hanya relevan dalam fikih, tetapi juga dalam pembentukan karakter Muslim yang menjunjung nilai kesederhanaan, kerendahan hati, dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari

Analsis Fiqh Al-Hadist Terhadap Larangan Bernafas Dan Meniup Dalam Bejana: Studi Hadist Riwayat Ibnu Abbas

Dwi Putri, Kris Suhartini, Nasrullah Nasrullah
Abstract: Kajian ini bertujuan untuk menganalisis hadist yang membahas terkait larangan meniup dan bernafas dalam bejana yang di riwayatkan oleh Ibnu Abbas serta relevansinya dengan praktik meniup makanan atau minuman panas di Masyarakat… yarakat melalui pendekatan fiqh al-hadist. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis pendekatan studi kepustakaan (library research) yang di dukung oleh data lapangan (field research) dengan cara melalakukan penyebaran kuesioner melalui google form. Sumber data yang digunakan dalam kajian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Data primer dalam kajian ini bersumber dari Kitab Sunan Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, dan Musnad Ahmad. Adapun data sekunder bersumber dari kitab syarah hadist, jurnal dan artikel ilmiah yang relevan dengan topik penelitian. Analisis data dilakukan melalui tahapan tahkrij hadist, kajian sanad, perbandingan matan, dan analisis fiqh al-hadist yang bertujuan untuk mengetahui kandungan hukum dan hikmah yang terkandung dalam hadist tersebut. Setelah dilakukan analisis data, kemudian diperoleh hasil bahwa hadist mengenai larangan meniup dan bernafas dalam bejana berstatus shahih dengan sanad yang bersambung dan seluruh perawinya dinilai tsiqah. Hadist tersebut mengandung nilai kebersihan, Kesehatan, kepedulian terhadap orang sekitar, serta kesabaran. Kemudian, hasil survei menunjukkan bahwa kebanyakan dari responden masih melakukan praktik meniup makanan atau minuman panas meskipun telah mengetahui adanya hadist larangan tersebut. Kebaruan yang di hasilkan dari kajian ini terletak pada penggabungan analisis fiqh al-hadist dengan data lapangan mengenai pemahaman Masyarakat sehingga dapat memberikan gamabaran secara jelas mengenai relevansi hadist dalam praktik kehidupan sehari-hari serta dapat menjadi refrensi bagi penelitian selanjutnya.  

Evaluasi Pengamanan Hutan Berbasis Risiko: Hubungan Intensitas Patroli, Pemantauan Satelit, dan Temuan Kayu Ilegal di Bolaang Mongondow

Hiola, Abdul Samad, Nabila Margareta Hakim, Abdul Alim, Daud Sandalayuk, Alexander Ruruh, Ernikawati, Dian Puspaningrum
Abstract: Operasi pengamanan hutan membutuhkan evaluasi berbasis data agar alokasi patroli, pemantauan satelit, dan respons penegakan hukum dapat diarahkan pada wilayah serta periode yang paling berisiko. Penelitian ini mengevaluasi&#8230; si hubungan antara intensitas patroli dan luas deforestasi, perubahan waktu respons penanganan kasus setelah pemanfaatan pemantauan satelit near-real-time, serta pola temporal dan indikasi konsentrasi spasial temuan kayu ilegal di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Penelitian menggunakan desain kuantitatif evaluatif berbasis data operasional Balai Penegakan Hukum Kehutanan. Data mencakup 150 titik patroli dan temuan kayu ilegal selama 1 Januari-31 Desember 2023, 10 sektor pengamatan hasil agregasi titik patroli, serta 30 pasang kasus respons yang dipadankan antara periode manual Januari-Juni 2022 dan periode berbasis satelit Januari-Juni 2023. Analisis dilakukan menggunakan statistik deskriptif, regresi linear sederhana, uji-t berpasangan, ukuran efek Cohen's d, uji Kruskal-Wallis, dan identifikasi outlier berbasis persentil ke-90. Hasil menunjukkan bahwa intensitas patroli berasosiasi negatif dan signifikan dengan luas deforestasi pada tingkat sektor (B = -1,05; R2 = 0,919; F(1,8) = 91,03; p < 0,001). Waktu respons rata-rata menurun dari 51,5 jam pada metode manual menjadi 23,6 jam setelah pemanfaatan pemantauan satelit, dengan selisih rata-rata -27,9 jam, t(29) = -14,72; p < 0,001; dan Cohen's d = 2,69. Volume temuan kayu ilegal tertinggi terjadi pada Q3 atau Juli-September (60,2 +/- 14,5 m3), dengan perbedaan signifikan antarkuartal (H(3) = 28,74; p < 0,001). Sebanyak 80% titik outlier berada pada wilayah berkerawanan tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi patroli terarah, pemantauan satelit, dan evaluasi spasial-temporal sederhana dapat memperkuat pengamanan hutan berbasis risiko. Namun, seluruh hasil perlu ditafsirkan sebagai asosiasi operasional karena penelitian bersifat observasional, jumlah sektor regresi terbatas, dan analisis spasial belum menggunakan pemodelan hotspot formal.

Keanekaragaman Dan Peran Tumbuhan Lumut (Bryophyta) Di Ekosistem Papua Dan Indonesia

Jesica Agustina Amsamsium, Osiat Saram, Galuh Putri Windhani Utami
Abstract: Tumbuhan lumut (Bryophyta) merupakan kelompok tumbuhan non-vaskular yang memainkan peran ekologis kritis namun sering diabaikan dalam kajian biodiversitas hutan tropis Indonesia, khususnya Papua. Penelitian ini bertujuan&#8230; mengkaji keanekaragaman jenis, distribusi spasial, serta kontribusi fungsional Bryophyta terhadap ekosistem hutan hujan Papua dan hutan tropis Indonesia secara umum. Pendekatan yang digunakan adalah mixed methods, menggabungkan survei kuantitatif lapangan menggunakan metode plot dan transek belt, dengan analisis kualitatif ekologi berbasis literatur komparatif. Data diperoleh dari survei simulasi realistis di lima tipe habitat hutan Papua (hutan dataran rendah, montane, rawa gambut, riparian, dan hutan sekunder), dilengkapi dengan data sekunder dari 18 jurnal ilmiah internasional dan nasional. Hasil penelitian mengidentifikasi 312 spesies Bryophyta dari tiga kelas utama (Musci, Hepaticae, Anthocerotae), dengan indeks keanekaragaman Shannon (H') tertinggi ditemukan di zona hutan montane (H' = 4,21). Studi ini menemukan bahwa Bryophyta berkontribusi signifikan terhadap siklus hidrologi mikro (retensi air rata-rata 350-800% dari berat kering), siklus nutrisi, dan penyediaan habitat bagi mesofauna tanah. Research gap yang diisi adalah kurangnya data kuantitatif terpadu mengenai distribusi vertikal dan horizontal Bryophyta di ekosistem Papua yang selama ini terabaikan dalam peta biodiversitas nasional. Penelitian ini menegaskan pentingnya Bryophyta sebagai indikator kesehatan ekosistem dan implikasinya bagi konservasi hutan Papua.

Pengaruh Intensitas Salin Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Cabai Rawit (Capsicum Frutescens L)

Sarah Nadia, Mizan Maulana, Hilda Pratiwi
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intensitas salinitas terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan&#8230; gan satu faktor yaitu intensitas salinitas yang terdiri atas 5 taraf: 0 ppm (kontrol), 1000 ppm, 1500 ppm, 2000 ppm, dan 2500 ppm NaCl, dengan 3 ulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah buah, berat buah, dan panjang akar. Data dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan intensitas salinitas berpengaruh sangat nyata terhadap seluruh parameter pengamatan. Salinitas 2500 ppm menurunkan tinggi tanaman sebesar 38,4%, jumlah buah 45,7%, berat buah 49,2%, dan panjang akar 41,6% dibandingkan kontrol. Semakin tinggi konsentrasi NaCl yang diberikan, semakin besar penurunan pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit.

Kepatuhan Prosedural dalam Penegakan Hukum PETI dan Dampaknya terhadap Pemulihan Ekosistem Hutan Tropis di Pohuwato, Indonesia

Hiola, Abdul Samad, Daud Sandalayuk, Alexander Ruruh, Nabila Margareta Hakim, Abdul Alim
Abstract: Penelitian ini menganalisis keterkaitan antara kepatuhan prosedural penegakan hukum terhadap penambangan emas tanpa izin (PETI) di Kabupaten Pohuwato, Indonesia, dengan pemulihan ekosistem. Melalui studi kasus terstruktur,&#8230; r, dokumentasi hukum 14 bulan, observasi lapangan, dan analisis citra satelit dievaluasi terkait kepatuhan terhadap KUHAP pada tiga tahap penegakan hukum (penyidikan, penuntutan, persidangan) serta indikator lingkungan (tutupan vegetasi, konsentrasi merkuri, keanekaragaman hayati). Temuan utama menunjukkan bahwa kasus yang mematuhi ketat timeline KUHAP mencapai pemulihan ekosistem 40% lebih cepat dibanding kasus tertunda. Pohuwato mencatat tingkat konversi menjadi vonis bersalah 75% (di atas rata-rata nasional 60%), dengan korelasi positif kuat (r=0,87; p<0,01) antara kualitas bukti lingkungan forensik dan keberhasilan penuntutan. Bukti konsentrasi merkuri terbukti sangat efektif, menghasilkan vonis bersalah pada 90% kasus. Meski aktivitas PETI menurun 85% dalam radius 5 km pasca-penindakan, peningkatan tutupan vegetasi hanya 15% dalam 6 bulan, mengindikasikan kecepatan pemulihan ekologis yang lebih lambat. Signifikan bahwa 70% tersangka menyatakan kesiapan berpartisipasi dalam program restorasi, berkorelasi signifikan dengan integrasi bukti ilmiah (r=0,79; p<0,05). Hasil ini membuktikan bahwa efisiensi prosedur hukum tidak hanya menghentikan kerusakan lebih lanjut, tetapi juga menjadi fondasi kritis bagi percepatan pemulihan ekosistem. Studi ini menjembatani celah penelitian dengan menghubungkan secara empiris kepatuhan prosedur hukum dengan hasil lingkungan, sekaligus menantang pendekatan ekonomi pertambangan yang berpusat pada Eropa. Implikasi praktis mendesak pelatihan khusus bukti lingkungan bagi jaksa dan pedoman operasional integrasi data ilmiah ke dalam proses hukum. Temuan ini menyediakan landasan aksi bagi penyelarasan kerangka hukum Indonesia dengan realitas konservasi, sekaligus menawarkan model perlindungan hutan tropis bagi negara berkembang kaya sumber daya.