Abstract:Perkembangan peradaban di era modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi digital memberikan pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan umat Islam, terutama pada perubahan bentuk mushaf Al-Qur’an dari versi cetak ke platform…
platform digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas penggunaan aplikasi Al-Qur’an digital sebagai media yang dapat membantu meningkatkan kualitas dan intensitas ibadah di tengah mobilitas masyarakat yang semakin tinggi. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif, serta didukung oleh teknik wawancara untuk menggali pengalaman pengguna secara lebih mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi Al-Qur’an memberikan dampak positif, terutama dalam hal kemudahan akses yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu, sehingga memungkinkan umat Islam tetap dapat berinteraksi dengan ayat-ayat Al-Qur’an di tengah kesibukan sehari-hari. Fitur-fitur yang tersedia seperti terjemahan, tajwid, tafsir, dan audio murottal dinilai cukup membantu dalam meningkatkan pemahaman serta mendukung proses menghafal Al-Qur’an secara lebih fleksibel. Namun demikian, penggunaan Al-Qur’an digital juga menghadirkan tantangan berupa distraksi dari perangkat digital. Meski begitu, sebagian pengguna mampu menyikapinya dengan baik melalui penerapan literasi digital religius, seperti mengaktifkan mode fokus dan menjaga niat saat beribadah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa teknologi digital dapat menjadi sarana yang mendukung praktik spiritual umat Islam secara lebih inklusif dan berkelanjutan, serta tetap relevan dalam membantu memperkuat hubungan manusia dengan Al-Qur’an di era modern.
Abstract:Artikel ini mengkaji teori sosiologi agama Durkheim dengan memusatkan perhatian pada enam aspek pokok: biografi dan konteks intelektualnya, definisi sosial agama, dikotomi sakral-profan, konsep supernatural, konsep ilahi,…
, serta fenomena bunuh diri dalam kerangka teori Durkheim. Melalui pendekatan deskriptif-analitis dan metode kajian pustaka, artikel ini memperlihatkan bahwa Durkheim memandang agama sebagai fakta sosial yang berakar dari kehidupan kolektif masyarakat, bukan sekadar urusan teologi atau pengalaman spiritual pribadi. Dikotomi sakral-profan menjadi pondasi dari setiap sistem keagamaan. Durkheim menolak definisi agama yang berpijak pada konsep supernatural atau ketuhanan karena tidak semua agama mengenal kedua konsep tersebut. Lebih jauh, teori bunuh dirinya menegaskan bahwa perilaku individu sangat ditentukan oleh kondisi sosial khususnya integrasi dan regulasi sosial yang sangat relevan dengan meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa Indonesia.
Abstract:This study explores the model of leadership and decision-making within Eco-Pesantrens (Islamic boarding schools with an ecological focus) in Indonesia. It investigates how Islamic values (e.g., khalifah [stewardship], mizan…
zan [balance], amanah [trust]) are integrated with modern environmental health principles (sustainability, conservation, waste management, ecosystem health) in the strategic and daily decisions of pesantren leaders. Using a qualitative case study approach with in-depth interviews, observation, and document analysis at several pioneering Eco-Pesantrens, this research identifies key leadership paradigms, decision-making processes, and implementation strategies. Findings reveal that successful integration creates a holistic leadership model that aligns spiritual, educational, and environmental objectives. Leaders act as transformative agents, internalizing eco-Islamic theology into institutional policies, curricula, and community practices. The study concludes that the Eco-Pesantren leadership model offers a significant framework for sustainable community development rooted in local religious wisdom. It recommends further development of this paradigm for broader application in Islamic educational institutions and communities facing environmental challenges.
Abstract:Artikel ini mengkaji metafora gender dalam teks tasawuf klasik dan kontemporer dengan menempatkannya dalam kerangka hermeneutik-filosofis. Berangkat dari kritik terhadap pembacaan patriarkal yang cenderung memahami gender…
r secara biologis dan hierarkis, penelitian ini menegaskan bahwa dalam tradisi tasawuf, kategori maskulin dan feminin berfungsi sebagai prinsip metafisik dan kosmologis yang bersifat simbolik dan komplementer. Melalui analisis terhadap pemikiran Ibn ʿArabī, khususnya konsep wahdat al-wujud dan gagasan keperempuanan ilahi, artikel ini menunjukkan bahwa tasawuf mengafirmasi kesetaraan spiritual antara laki-laki dan perempuan. Pembacaan ini kemudian didialogkan dengan reinterpretasi feminis kontemporer, terutama melalui kontribusi Saʿdiyya Shaikh, serta konteks keindonesiaan melalui gagasan sufisme-feminisme KH. Husein Muhammad. Hasil kajian menunjukkan bahwa tasawuf menyediakan ruang hermeneutik yang signifikan untuk mendekonstruksi hierarki gender yang terbangun dalam historiografi dan praktik keagamaan Islam. Meskipun demikian, artikel ini juga menyoroti tantangan pembacaan feminis tasawuf, terutama risiko romantisasi tradisi dan ketegangan antara universalisme spiritual dan realitas sosial. Dengan demikian, tasawuf dipahami tidak hanya sebagai praktik spiritual individual, tetapi juga sebagai sumber etis dan epistemik yang relevan bagi pengembangan wacana keadilan gender dalam Islam kontemporer.
Abstract:Krisis iklim global menuntut respons yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga berakar pada nilai-nilai budaya, etika, dan spiritual yang mendalam. Artikel ini menyajikan tinjauan sistematis terhadap integrasi nilai-nilai…
nilai eco-Sufisme yakni prinsip-prinsip spiritual tasawuf yang diaplikasikan dalam konteks ekologi ke dalam kurikulum pendidikan Islam sebagai strategi untuk menumbuhkan tanggung jawab lingkungan. Tinjauan ini menganalisis 50 karya ilmiah terpilih untuk mengidentifikasi fondasi konseptual, model implementasi praktis, strategi pedagogis, serta dampak yang dilaporkan dari penerapan pendekatan tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai inti tasawuf, seperti khalifah (penatalayanan alam), tawadhu’ (kerendahan hati), zuhud (asketisme), dan mahabbah (cinta terhadap seluruh ciptaan), ke dalam kerangka pendidikan Islam berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan kesadaran ekologis dan perilaku pro-lingkungan peserta didik. Berbagai model praktik yang dinilai efektif meliputi program Adiwiyata Madrasah, inisiatif Eco-Tahfiz, serta praktik eco-pesantren, yang umumnya mengandalkan pendekatan pembelajaran eksperiensial dan berbasis proyek. Namun demikian, tinjauan ini juga mengidentifikasi sejumlah tantangan utama, antara lain keterbatasan literasi guru mengenai konsep eco-Sufisme, kelangkaan bahan ajar yang kontekstual dan aplikatif, serta risiko implementasi yang bersifat simbolik tanpa menghasilkan transformasi perilaku yang berkelanjutan. Oleh karena itu, artikel ini menyimpulkan bahwa meskipun integrasi eco-Sufisme menawarkan pendekatan pendidikan lingkungan yang kuat dan berlandaskan spiritualitas Islam, keberlanjutan dan skalabilitasnya sangat bergantung pada penguatan pelatihan guru, pengembangan kerangka evaluasi yang memadai, serta dukungan kebijakan dan institusional yang lebih sistematis.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendekonstruksi representasi gender dalam teks-teks tasawuf klasik melalui pendekatan hermeneutika kritis. Fokus utama adalah mengungkap potensi narasi spiritual non-patriarkal…
rkal yang tersembunyi di balik metafora gender yang kompleks dalam karya tiga tokoh sentral: Ibnu ‘Arabi, Jalaluddin Rumi, dan Al-Ghazali. Penelitian menggunakan metode analisis teks kualitatif dengan pendekatan hermeneutika dekonstruktif. Sumber data primer meliputi karya fundamental ketiga tokoh, yaitu Al-Futuhat al-Makkiyyah dan Fusus al-Hikam (Ibnu ‘Arabi), Masnavi-ye Ma’navi (Rumi), serta Ihya’ ‘Ulum al-Din dan Mishkat al-Anwar (Al-Ghazali). Analisis dilakukan melalui eksplorasi tekstual, dekonstruksi binarisme gender, dan kontekstualisasi kritis terhadap realitas sosial-historis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tasawuf klasik mengandung dualitas mendasar antara semesta metafora spiritual yang transformatif dan realitas institusional yang patriarkal. Ibnu ‘Arabi menawarkan landasan ontologis egaliter melalui konsep Wahdat al-Wujud, yang meruntuhkan hierarki esensial gender. Rumi menggunakan metafora erotis yang ambigu untuk mengaburkan batas gender dan mensakralkan sifat feminin. Sementara itu, Al-Ghazali memperlihatkan kontradiksi internal antara wacana normatif patriarkal dalam Ihya’ dan visi kosmologis inklusif dalam Mishkat. Tasawuf klasik bukanlah monolit patriarkal, melainkan medan wacana yang kaya akan potensi dekonstruktif terhadap binarisme gender. Pembacaan kritis terhadap metafora gender dalam karya ketiga tokoh ini mengungkap “arsip internal” yang dapat mendukung spiritualitas non-biner dan emansipatif. Namun, potensi ini sering terbelenggu oleh struktur institusional dan pembacaan dominan yang patriarkal. Penelitian ini menyoroti pentingnya hermeneutika kritis dalam membuka ruang penafsiran yang lebih adil gender dalam tradisi intelektual Islam.
Abstract:Tinjauan sistematis ini mengkaji titik-titik konvergensi dan divergensi antara konsep Tasawuf tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan pendekatan character strengths dalam psikologi positif. Pencarian literatur komprehensif…
dilakukan melalui platform Consensus yang mengakses lebih dari 170 juta publikasi ilmiah. Dari 937 studi yang teridentifikasi, setelah melalui proses penyaringan dan penilaian eligibilitas, sebanyak 50 makalah dipilih untuk dianalisis secara mendalam. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa kedua kerangka kerja sama-sama bertujuan membina pengembangan moral dan kesejahteraan manusia melalui kultivasi kebajikan. Namun demikian, keduanya berakar pada pandangan dunia yang secara fundamental berbeda: tazkiyatun nafs berlandaskan kerangka spiritual-teosentris, sementara character strengths berpijak pada paradigma sekuler-humanistik. Konvergensi utama ditemukan pada kebajikan inti yang sama seperti kesabaran, syukur, dan kerendahan hati yang dalam kedua tradisi berfungsi sebagai faktor protektif bagi kesehatan mental. Sebaliknya, perbedaan signifikan muncul pada aspek epistemologi, metodologi, dan tujuan akhir. Tazkiyatun nafs menekankan transendensi spiritual dan penyelarasan diri dengan kehendak Ilahi, sedangkan character strengths memprioritaskan validasi empiris dan pencapaian flourishing dalam kerangka kerja sekuler. Upaya integrasi kedua pendekatan menunjukkan potensi yang menjanjikan, khususnya dalam konteks pendidikan dan intervensi terapeutik. Namun demikian, isu validitas pengukuran terutama dalam menangkap dimensi spiritual secara autentik masih menjadi tantangan krusial. Tinjauan ini mengidentifikasi kesenjangan penelitian yang ada dan mengusulkan arah penelitian masa depan menuju pendekatan pengembangan karakter yang holistik, terintegrasi, dan sensitif secara budaya.
Abstract:Perkembangan media sosial di era digital telah membawa perubahan signifikan dalam pola komunikasi masyarakat, namun sekaligus melahirkan berbagai problem etika seperti ujaran kebencian, disinformasi, performativitas religius,…
gius, dan polarisasi sosial. Berbagai pendekatan normatif, hukum, dan teknis yang ada dinilai belum sepenuhnya mampu menyentuh akar persoalan etika komunikasi digital yang bersifat batiniah dan spiritual. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis relevansi dan adaptasi nilai-nilai tasawuf, yaitu ikhlas, sabar, dan tawadhu, sebagai fondasi etika komunikasi digital yang kontekstual dan aplikatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan atau library research, melalui analisis deskriptif-analitis dan normatif-konseptual terhadap literatur tasawuf klasik dan kontemporer serta kajian etika komunikasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ikhlas berperan dalam membangun orientasi komunikasi yang berlandaskan kejujuran dan kemaslahatan, sabar berfungsi sebagai mekanisme pengendalian emosi dan ketahanan moral dalam merespons konflik serta arus disinformasi, sementara tawadhu mendorong sikap kerendahan hati epistemik dan dialog yang inklusif di ruang digital. Integrasi ketiga nilai tersebut membentuk kerangka etika komunikasi digital berbasis tasawuf yang bersifat holistik, spiritual, dan humanis. Meskipun menghadapi tantangan struktural akibat logika algoritmik dan budaya popularitas media sosial, pendekatan tasawuf menawarkan kontribusi penting dalam membangun komunikasi digital yang lebih beradab, bermakna, dan bertanggung jawab.
Abstract:Penelitian ini menganalisis proses sintesis antara tasawuf universal yang diwakili oleh pemikiran Imam Al-Ghazali dengan nilai spiritual lokal Jawa dalam konteks pendidikan madrasah di Indonesia. Menggunakan pendekatan kualitatif…
ualitatif dengan metode studi kepustakaan, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana integrasi mistisisme Jawa dan ajaran tasawuf Al-Ghazali dapat diterapkan dalam pendidikan madrasah tanpa menghilangkan esensi ajaran tasawuf maupun kearifan lokal Jawa. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat titik temu epistemologis antara tasawuf Al-Ghazali dengan spiritualitas Jawa, terutama dalam aspek maqamat (tingkatan spiritual), konsep makrifat, dan etika sosial. Penelitian ini menemukan bahwa model integrasi yang tepat dapat memperkaya pembelajaran akhlak-tasawuf di madrasah dengan tetap mempertahankan otentisitas ajaran Islam. Implikasi pedagogis dari temuan ini menunjukkan pentingnya pendekatan kontekstual yang menghargai kearifan lokal sambil tetap berpegang pada prinsip-prinsip tasawuf universal.
Abstract:Pendidikan karakter merupakan isu strategis dalam pendidikan Islam kontemporer, khususnya dalam merespons krisis moral dan sosial generasi muda. Pondok pesantren dipandang sebagai institusi pendidikan yang memiliki kekhasan…
san dalam pembentukan karakter santri melalui peran kyai dan kultur pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis peran kyai dan kultur pesantren dalam pembentukan karakter santri berdasarkan temuan literatur ilmiah. Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan pedoman PRISMA. Penelusuran literatur dilakukan pada beberapa basis data nasional dan internasional dengan rentang publikasi 2014–2024. Dari hasil seleksi, diperoleh 89 artikel jurnal yang dianalisis menggunakan pendekatan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kyai berperan sebagai aktor sentral dalam pembentukan karakter santri melalui keteladanan moral, otoritas spiritual, dan kepemimpinan nilai. Sementara itu, kultur pesantren berfungsi sebagai hidden curriculum yang menginternalisasi nilai-nilai karakter melalui tradisi keilmuan, kehidupan komunal, dan sistem disiplin. Nilai karakter yang dominan dibentuk meliputi religiusitas, disiplin, tanggung jawab, kemandirian, dan kepedulian sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa pembentukan karakter santri di pesantren merupakan proses kultural yang holistik dan berkelanjutan, serta relevan sebagai model alternatif pendidikan karakter di Indonesia.