Search Articles & Publications

Showing 242 articles found for "Internet"

Rekonstruksi Perlindungan Konstitusional Dalam Ekonomi Digital Pada Sisa Kuota Internet Hangus Sebagai Hak Milik Digital

Alfin Dwi Novemyanto
Abstract: Transformasi ekonomi digital menimbulkan persoalan hukum baru mengenai perlindungan nilai ekonomi atas manfaat layanan digital yang telah dibayar tetapi belum sepenuhnya dinikmati konsumen, khususnya sisa kuota internet… yang hangus setelah berakhirnya masa berlaku. Penelitian ini bertujuan menganalisis kedudukan yuridis sisa kuota sebagai nilai ekonomi digital dan merekonstruksi model perlindungan konstitusional yang menjamin hak milik serta kepastian hukum yang adil bagi konsumen. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus, melalui analisis terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Perlindungan Konsumen, peraturan telekomunikasi, dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 273/PUU-XXIII/2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sisa kuota yang diperoleh melalui pembayaran sah, memiliki nilai ekonomi, dapat diidentifikasi, belum sepenuhnya dinikmati, dan memerlukan perlindungan hukum dapat dikonstruksikan sebagai hak milik digital, yang merupakan konstruksi akademik berdasarkan ratio decidendi Mahkamah Konstitusi. Penelitian selanjutnya menemukan model perlindungan konstitusional melalui lima prinsip, yaitu recognition, transparency, choice, preservation, dan remedy, yang menempatkan masa berlaku sebagai instrumen pengelolaan layanan, bukan dasar absolut penghapusan nilai ekonomi konsumen. Penghangusan hanya dapat dibenarkan apabila memenuhi tujuan yang sah, relevansi, kebutuhan, dan keseimbangan berdasarkan asas proporsionalitas. Transformasi ekonomi digital menimbulkan persoalan hukum baru mengenai perlindungan nilai ekonomi atas manfaat layanan digital yang telah dibayar tetapi belum sepenuhnya dinikmati konsumen, khususnya sisa kuota internet yang hangus setelah berakhirnya masa berlaku. Penelitian ini bertujuan menganalisis kedudukan yuridis sisa kuota sebagai nilai ekonomi digital dan merekonstruksi model perlindungan konstitusional yang menjamin hak milik serta kepastian hukum yang adil bagi konsumen. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus, melalui analisis terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Perlindungan Konsumen, peraturan telekomunikasi, dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 273/PUU-XXIII/2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sisa kuota yang diperoleh melalui pembayaran sah, memiliki nilai ekonomi, dapat diidentifikasi, belum sepenuhnya dinikmati, dan memerlukan perlindungan hukum dapat dikonstruksikan sebagai hak milik digital, yang merupakan konstruksi akademik berdasarkan ratio decidendi Mahkamah Konstitusi. Penelitian selanjutnya menemukan model perlindungan konstitusional melalui lima prinsip, yaitu recognition, transparency, choice, preservation, dan remedy, yang menempatkan masa berlaku sebagai instrumen pengelolaan layanan, bukan dasar absolut penghapusan nilai ekonomi konsumen. Penghangusan hanya dapat dibenarkan apabila memenuhi tujuan yang sah, relevansi, kebutuhan, dan keseimbangan berdasarkan asas proporsionalitas.

Traffic Analysis of Data Packets on a WPA2-Personal WLAN Network Using Wireshark

Ari Alviandry, Husnul Hotimah, Sarboyni, Febri Dristyan
Abstract: The reliability of data packet transmission within the deployed Wireless Local Area Network (WLAN) security protocol is highly crucial to ensure user data confidentiality. This study aims to analyze the security implementation… tation of the WPA2-Personal protocol-based WLAN through direct observation of data packet traffic. A qualitative-descriptive research method was applied by conducting packet capturing using the Wireshark application on a small-scale test network utilizing a smartphone as an access point and a laptop as a client. The results demonstrate that all local and internet data communication activities operated stably and were recorded consistently. Packet analysis successfully identified various major protocols, including ARP, DNS, TCP, UDP, TLS, and HTTPS. The implementation of TLS encryption on HTTPS traffic proved capable of protecting the confidentiality of application data content, preventing it from being read in plaintext even though the packets were successfully captured. This study concludes that the combination of WPA2-Personal authentication and the HTTPS communication protocol still provides adequate security protection and remains highly viable for small-scale wireless network environments.

Pendampingan Pembuatan Quick Response Code Indonesian Standard (Qris) Sebagai Upaya Digitalisasi Sistem Pembayaran Pada Pelaku Umkm Di Desa Mak Teduh, Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan Oleh Mahasiswa KUKERTA Universitas Riau

M. Rasuli, Excelenta Perangin-angin, Nataliya, Vina Puja Aqustin, Marshanda Lasmora Ida Sianturi, Defanny Febianti, Siti Azqia Zahra, Zahratul Keysa Benaya, Yulis, Muhammad Ikram Syawly Al-afif Annur, Hanif Ananda Tovani
Abstract: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia yang menyumbang lebih dari 60% Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, namun sebagian besar pelaku UMKM di wilayah pedesaan, termasuk… di Desa Mak Teduh, Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, masih menggantungkan transaksi usahanya pada sistem pembayaran tunai. Kondisi ini menjadikan UMKM tertinggal dalam arus digitalisasi ekonomi nasional yang terus berkembang pesat, khususnya melalui perluasan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) oleh Bank Indonesia. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pendampingan pembuatan dan penggunaan QRIS kepada pelaku UMKM di Desa Mak Teduh sebagai upaya mendorong digitalisasi sistem pembayaran, memperluas inklusi keuangan, serta meningkatkan daya saing usaha di era ekonomi digital. Kegiatan dilaksanakan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Universitas Riau Tahun 2026 dengan tahapan observasi, identifikasi permasalahan, koordinasi dengan pemerintah desa, sosialisasi, pendampingan pendaftaran, hingga evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman pelaku UMKM terhadap manfaat QRIS, meningkatnya jumlah pelaku usaha yang berhasil mendaftarkan QRIS, serta respons positif terhadap kemudahan bertransaksi non-tunai. Meskipun demikian, kegiatan ini juga menghadapi kendala berupa keterbatasan jaringan internet, minimnya literasi digital pada pelaku usaha lanjut usia, dan ketiadaan dokumen legalitas usaha. Kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat menjadi model pendampingan digitalisasi UMKM yang berkelanjutan bagi desa-desa dengan karakteristik serupa di wilayah Provinsi Riau.

Sosialisasi Dan Praktik “Digital Parenting”: Membangun Komunikasi Efektif Orang Tua Dan Anak Dalam Menggunakan Internet Di Desa Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan

Marwan Al Fajri, Bayu Arif Prabudi
Abstract: Perkembangan penetrasi internet di wilayah semi-perdesaan tidak selalu diimbangi dengan kesiapan literasi digital orang tua. Hal ini berpotensi menimbulkan dampak psikologis negatif bagi anak, seperti kecemasan, perilaku… adiktif terhadap gawai, dan gangguan pola komunikasi keluarga. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan meningkatkan literasi digital orang tua di Desa Percut melalui sosialisasi dan praktik digital parenting. Metode yang digunakan adalah community-based participatory research (CBPR) yang meliputi survei awal, sosialisasi tatap muka, pendampingan lapangan selama empat minggu, serta evaluasi pre-test dan post-test. Kegiatan dihadiri 35 orang tua dan berjalan lancar berkat koordinasi dengan aparat desa. Hasilnya menunjukkan peningkatan pemahaman orang tua mengenai risiko dunia digital, strategi mediasi aktif, dan penggunaan fitur parental control. Komunitas WhatsApp juga dibentuk untuk pendampingan berkelanjutan.

PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MENDUKUNG KOMUNIKASI DIGITAL: KAJIAN PUSTAKA

M. Hasby
Abstract: Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara masyarakat membangun, menyampaikan, menerima, dan menanggapi pesan. Komunikasi yang sebelumnya banyak bergantung pada interaksi tatap muka dan media konvensional kini… berlangsung melalui internet, media sosial, aplikasi pesan instan, surat elektronik, konferensi video, dan berbagai platform digital. Artikel ini bertujuan menganalisis pemanfaatan teknologi informasi dalam mendukung komunikasi digital serta mengidentifikasi manfaat, perubahan pola komunikasi, dan tantangan yang muncul dalam penggunaannya. Penelitian menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Literatur diperoleh dari artikel ilmiah, laporan lembaga resmi, serta regulasi yang relevan, dengan prioritas pada publikasi dalam sepuluh tahun terakhir. Literatur dianalisis melalui tahap identifikasi, seleksi, klasifikasi, analisis, dan sintesis berdasarkan tema penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknologi informasi telah berkembang dari sekadar perangkat pengolahan data menjadi infrastruktur komunikasi yang menghubungkan individu, kelompok, organisasi, pemerintah, dan masyarakat secara lebih cepat dan luas. Teknologi digital meningkatkan kecepatan penyampaian informasi, interaktivitas, aksesibilitas, dokumentasi, serta kemampuan melakukan komunikasi lintas ruang dan waktu. Namun, perkembangan tersebut juga diikuti persoalan berupa misinformasi, disinformasi, pelanggaran privasi, keamanan data, cyberbullying, ujaran kebencian, tekanan untuk selalu terhubung, dan kesenjangan digital. Oleh karena itu, efektivitas komunikasi digital tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi, tetapi juga oleh literasi digital, etika komunikasi, kemampuan mengevaluasi informasi, dan kesadaran terhadap keamanan data. Kajian ini menghasilkan model integratif yang menempatkan literasi digital, etika digital, kemampuan berpikir kritis, dan keamanan informasi sebagai faktor penguat pemanfaatan teknologi informasi untuk menciptakan komunikasi digital yang efektif dan bertanggung jawab.

PENERAPAN ELECTRONIC GOVERNMENT MELALUI SRIKANDI DI DINAS KEARSIPAN DAN PERPUSTAKAAN PROVINSI GORONTALO

Rajak, Adelia, Nani, Yacob Noho, Pakaya, Rahmatia
Abstract: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana penerapan Electronic Government Melalui SRIKANDI di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo. Menggunakan teori e-government yang terdiri dari tiga indikator… menurut Indrajit dalam (Andi et al., 2025), yaitu Support (Dukungan), Capacity (Kapasitas), dan Value (Nilai/Manfaat). Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap tujuh informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari indikator Support, dukungan pimpinan dan regulasi sudah tersedia namun masih terdapat keterbatasan sarana pendukung seperti alat pemindai (scanner), perangkat komputer yang jarang mendapat pembaruan dan kualitas jaringan internet yang belum stabil. Dari indikator Capacity, sebagian besar pegawai telah mampu mengoperasikan aplikasi namun masih terdapat kesenjangan kemampuan antarpegawai serta keterbatasan infrastruktur teknologi. Dari indikator Value, aplikasi SRIKANDI telah memberikan manfaat nyata berupa efisiensi waktu, penghematan biaya operasional, pengurangan penggunaan kertas, serta pengelolaan arsip yang lebih tertib dan terintegrasi. Kesimpulannya, penerapan SRIKANDI telah berjalan cukup baik namun belum sepenuhnya optimal dan memerlukan penguatan terpadu pada ketiga indikator secara berkesinambungan.

Analisis Strategi Pemasaran Digital Melalui Whatsapp Business Dalam Meningkatkan Daya Saing UMKM Kripik Gadung Di Desa Arjasa Kecamatan Sukowono Jember

Muhammad Hamdi, Denok Mugi Hidayanti, Neviyani
Abstract: Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) keripik gadung di Desa Arjasa menghadapi tantangan serius dalam memanfaatkan teknologi digital untuk pemasaran produk. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam strategi… tegi pemasaran digital melalui WhatsApp Business yang diterapkan oleh pelaku UMKM keripik gadung serta mengidentifikasi secara komprehensif faktor-faktor pendukung dan penghambat penerapannya. Pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus instrumental digunakan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 12 informan, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap lima UMKM keripik gadung di Desa Arjasa selama periode Maret hingga Mei 2026. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemasaran digital yang diterapkan masih bersifat dasar dan belum terstruktur secara sistematis, dengan pemanfaatan fitur WhatsApp Business yang belum optimal. Hanya dua dari lima UMKM yang menggunakan WhatsApp Business, itupun dengan pemanfaatan fitur yang terbatas pada katalog produk. Faktor pendukung utama adalah kemudahan penggunaan aplikasi, biaya yang terjangkau, dan dukungan keluarga serta komunitas. Adapun faktor penghambat meliputi keterbatasan literasi digital, kekhawatiran akan penipuan, kendala infrastruktur internet, dan rendahnya tingkat pendidikan formal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan pendampingan dan pelatihan berkelanjutan yang disesuaikan dengan kapasitas dan karakteristik pelaku UMKM untuk mengoptimalkan penggunaan WhatsApp Business dalam meningkatkan daya saing UMKM keripik gadung. Gadung chips Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in Arjasa Village face serious challenges in utilizing digital technology for product marketing. This study aims to describe in depth the digital marketing strategies through WhatsApp Business implemented by gadung chips MSMEs and to comprehensively identify the supporting and inhibiting factors of its implementation. A qualitative approach with an instrumental case study type was used in this research. Data collection was conducted through in-depth interviews with 12 informants, participant observation, and documentation of five gadung chips MSMEs in Arjasa Village during the period March to May 2026. Data analysis used the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that the digital marketing strategies implemented were still basic and not systematically structured, with the utilization of WhatsApp Business features not yet optimal. Only two out of five MSMEs used WhatsApp Business, even then with limited utilization of features to product catalogs. The main supporting factors are the ease of use of the application, affordable costs, and support from family and community. Meanwhile, inhibiting factors include limited digital literacy, concerns about fraud, internet infrastructure constraints, and low levels of formal education. This study concludes that continuous assistance and training tailored to the capacity and characteristics of MSME actors are needed to optimize the use of WhatsApp Business in increasing the competitiveness of gadung chips MSMEs. 

INOVASI PELAYANAN PUBLIK BERBASIS E-GOVERNMENT PADA APLIKASI IARPUSGORONTALO DI DINAS KEARSIPAN DAN PERPUSTAKAAN PROVINSI GORONTALO

Daimun, Faisal, Abdussamad, Juriko, Nani, Yacob Noho
Abstract: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan penelitian berjumlah 7 orang… ang yang terdiri dari Kepala Dinas, Kepala Bidang Perpustakaan, Pustakawan Ahli Madya, Admin/Staf IT, dan Pemustaka/Pengguna Masyarakat. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang mencakup pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui uji kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan aplikasi iArPusGorontalo sebagai inovasi layanan publik berbasis e-government secara keseluruhan belum berjalan secara optimal. Dari sisi persepsi kegunaan, fitur-fitur aplikasi dinilai memadai secara fungsional, namun kesenjangan besar antara koleksi digital yang tersedia sekitar 2.000 judul dengan kebutuhan ideal 40.000 judul menyebabkan manfaat aplikasi belum dirasakan secara penuh oleh pemustaka, yang tercermin dari penurunan jumlah pengguna aktif dari 215 pengguna pada tahun 2024 menjadi 172 pengguna pada tahun 2025. Dari sisi persepsi kemudahan penggunaan, pustakawan menilai aplikasi mudah dipelajari, namun pemustaka masih menghadapi hambatan pada proses login, pendaftaran akun, pemuatan konten, serta keterbatasan infrastruktur jaringan internet dengan kapasitas bandwidth hanya sekitar 50 Mbps dari kebutuhan ideal 100 Mbps dan hanya tersedianya 6 unit komputer untuk pemustaka. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo segera memprioritaskan penambahan koleksi digital secara terencana, meningkatkan kapasitas bandwidth minimal hingga 100 Mbps, menambah perangkat komputer bagi pemustaka, mengembangkan media pembelajaran seperti tutorial video, memperluas jangkauan sosialisasi hingga ke sekolah-sekolah dan komunitas masyarakat, serta mengintegrasikan fitur bantuan teknis langsung ke dalam aplikasi agar seluruh lapisan masyarakat dapat memanfaatkan layanan perpustakaan digital secara optimal dan inklusif.

The INNOVATION AND DEVELOPMENT LEARNING IN THE DIGITAL ERA

Apriyal Fakih, Apriyal Fakih, Nuraini, Nuraini, Setiowati, Yuli
Abstract: The rapid development of information and communication technology (ICT) has changed the way information is accessed. The use of mobile devices, the internet, and various online learning applications is increasingly widespread.… pread. This demands innovation in learning methods to make it more relevant and interesting for learners. This article aims to identify ICT applications used for learning innovation and digital era learning models. The method used in writing this article is descriptive method and through literature study. The conclusion of this article is that there are three learning innovations that can be applied, namely: Project Based Learning (PjBl), Google Sites and Google Drive. And there are three digital era learning models, namely: Blended Learning is a combination of online and offline learning, Distant Learning and Mobile Learning (M-Learning) Mobile Learning is learning supported by wireless mobile technology (smartphones).

Bridging The Digital-Physical Divide: Transfer Learning For Unified Threat Correlation in Converged IT/OT/IOT Ecosystems

Dzreke, Simon Suwanzy
Abstract: The increased integration of operational technology (OT), Internet of Things (IoT), and business IT systems has allowed sophisticated attackers to circumvent isolated security features and launch cross-platform assaults.… Current fragmented techniques, with discrete detectors monitoring Modbus, Kubernetes, MQTT, or other domain-specific protocols, cannot handle cross-system risks. These methodologies overlook 68% of multi-vector marketing that uses both physical and digital channels. This study introduces a transfer learning architecture to integrate detection capabilities by correlating threats across protocols, devices, and settings. The architecture generates a unified feature space that extracts behavioral semantics from industrial control system logs, cloud telemetry, network traffic, and device-level signals to produce protocol-agnostic threat representations. Adversarial domain adaptation and semantic graph embeddings enable cross-domain knowledge transfer with minimum retraining. Security teams may now discover kill chains like infected cloud containers preceding illegal PLC command execution every 23 minutes. Validated against real-world attack datasets from water treatment facilities (OT) and cloud infrastructure (IT), the system achieved 93.4% cross-platform attack recall, a 41.3 percentage point improvement over prior methodologies. It reduced OT data labeling by 89% and false positives by 93.5%. This paradigm shift transforms threat correlation from a reactive, domain-specific process to adaptive intelligence, boosting resilience for critical infrastructure, industrial ecosystems, and smart environments facing cyber-physical hazards. The framework's practical validation in energy, industry, and vital infrastructure shows its importance in protecting an increasingly linked world.