Abstract:Kebijakan strategis Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dikenal sebagai Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) bertujuan untuk meningkatkan pengalaman belajar mahasiswa di luar kampus, salah satunya…
atunya melalui magang. Artikel ini berfokus pada pengalaman dan kontribusi mahasiswa dalam magang MBKM di Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (DISPARBUDPORA) Kota Palangka Raya, dengan penekanan khusus pada layanan administrasi umum kepegawaian. Selama empat bulan pengabdian, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yang melibatkan observasi langsung, wawancara, dokumentasi, dan refleksi kegiatan mahasiswa. Hasil menunjukkan bahwa mahasiswa terlibat secara aktif dalam berbagai proses administrasi pegawai, termasuk mengelola data pegawai, menyusun surat dinas, dan pengarsipan. Mereka juga belajar tentang sistem digitalisasi kearsipan melalui aplikasi SRIKANDI yang digunakan oleh organisasi. Kehadiran mahasiswa meningkatkan produktivitas kerja. Kegiatan ini membentuk disiplin, etika birokrasi, dan keterampilan manajerial mahasiswa selain memberikan kontribusi nyata bagi instanti tempat magang. Hasil ini menegaskan bahwa kolaborasi antara praktik lapangan dan dunia pendidikan tinggi sangat penting untuk memperkuat tata kelola pemerintahan. Untuk meningkatkan produktivitas kegiatan magang di masa mendatang, artikel ini menyarankan pembuatan modul kerja magang yang lebih terorganisir.
Abstract:Peningkatan kasus kekerasan seksual di kalangan remaja saat ini semakin meningkat, hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan. Di Indonesia sendiri khususnya di Kota Baubau, terdapat 251 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan…
empuan dan anak. Sepanjang tahun 2024, kasus kekerasan seksual terhadap anak tercatat sebagai kasus paling dominan di kota Baubau dengan jumlah mencapai 29 kasus. Melihat tingginya angka tersebut serta rentannya remaja menjadi korban, sehingga diperlukan intervensi edukatif yang dapat membekali siswa dengan keterampilan perlindungan diri. Kegiatan psikoedukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya pendidikan keselamatan pribadi dalam menghadapi tindakan kekerasan seksual. Psikoedukasi dilaksanakan di SMPN 1 dan SMPN 9 Baubau dengan melibatkan 58 siswa. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain pre-test dan post-test untuk mengevaluasi efektivitas intervensi. Materi disampaikan secara interaktif melalui ceramah, diskusi, refleksi diri, dan ice breaking. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang signifikan berdasarkan hasil uji Wilcoxon (p = 0.003). Temuan ini menunjukkan bahwa psikoedukasi efektif dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan siswa mengenai kekerasan seksual serta pentingnya perlindungan diri. Dengan meningkatnya pemahaman siswa, diharapkan mereka mampu mengambil sikap preventif dan berani melaporkan jika mengalami atau menyaksikan kekerasan seksual. Oleh karena itu, psikoedukasi sangat direkomendasikan untuk diintegrasikan ke dalam program pendidikan di sekolah sebagai langkah pencegahan yang berkelanjutan.
Abstract:Minimnya pemahaman serta tingginya tekanan dari lingkungan akademik dan sosial membuat remaja rentan mengalami gangguan mental seperti stres, kecemasan, hingga depresi. Oleh karena itu, intervensi berupa psikoedukasi menjadi…
jadi strategi preventif yang penting untuk meningkatkan literasi kesehatan mental di kalangan pelajar. Kegiatan psikoedukasi bertema Kesehatan Mental Remaja yang dilaksanakan di SMAN 23 Makassar pada tanggal 23 April 2025 bertujuan untuk memberikan pemahaman menyeluruh kepada siswa mengenai dinamika perkembangan remaja dan pentingnya menjaga kesehatan mental. Kegiatan ini mencakup penyampaian materi mengenai perubahan fisik, kognitif, emosi, dan sosial pada masa remaja, mitos dan fakta terkait generasi Z, serta strategi menjadi remaja yang sehat mental. Selain itu, sesi role play juga dilakukan untuk meningkatkan empati dan keterampilan sosial siswa dalam menghadapi situasi perundungan. Hasil dari kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran siswa terhadap pentingnya kesehatan mental dan keaktifan mereka dalam berdiskusi serta mengekspresikan pandangan pribadi. Psikoedukasi ini diharapkan dapat menjadi model penguatan karakter dan kesejahteraan psikologis remaja melalui pendekatan yang edukatif, interaktif, dan aplikatif di lingkungan sekolah.
Abstract:Stres merupakan salah satu permasalahan psikologis yang banyak dialami oleh guru sekolah dasar, terutama akibat beban kerja yang tinggi, tuntutan administratif, serta tekanan lingkungan kerja. Ketidakmampuan dalam mengelola…
ola stres dapat berdampak pada penurunan kualitas pengajaran dan kesehatan mental guru. Kegiatan Psikoedukasi ini bertujuan untuk memberikan intervensi berupa pelatihan Emotional Freedom Technique (EFT) sebagai metode praktis dalam membantu guru mengelola stres secara mandiri. Metode yang digunakan adalah quasi-eksperimen dengan desain One Group Pre-Test and Post-Test terhadap 11 guru di SD Negeri Mamajang II Kota Makassar. Teknik pengumpulan data menggunakan skala Perceived Stress Scale (PSS) dan dianalisis dengan uji Paired Sample t-Test melalui SPSS versi 26. Hasil menunjukkan bahwa skor rata-rata stres partisipan menurun dari 24,91 menjadi 17,64 setelah mengikuti pelatihan EFT. Selain itu, tidak ada lagi partisipan yang berada pada kategori stres tinggi setelah intervensi, dan sebagian besar mengalami penurunan ke kategori stres sedang dan rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa EFT efektif sebagai strategi psikoedukatif dalam mengurangi stres guru dan dapat diterapkan dalam program kesejahteraan mental di lingkungan pendidikan dasar.
Abstract:Penggunaan media digital di kalangan remaja yang semakin intensif tanpa diimbangi pemahaman tentang privasi digital telah menimbulkan berbagai risiko, seperti penyalahgunaan data pribadi, cyberbullying, dan penyebaran hoaks.…
oaks. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran remaja tentang pentingnya privasi digital melalui psikoedukasi dengan tema "Think Before Share". Metode yang digunakan meliputi penyampaian materi interaktif, diskusi kasus, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Peserta terdiri dari 30 siswa SMP Negeri 33 Makassar. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pemahaman peserta, dengan rata-rata skor pre-test 19,90 meningkat menjadi 34,00 pada post-test (p=0,000). Analisis statistik mengonfirmasi efektivitas intervensi dalam menanamkan prinsip 5W (Who, What, Where, When, Why) sebagai panduan berinternet yang bertanggung jawab. Kegiatan ini juga berhasil membangun kesadaran kolektif tentang etika digital di kalangan remaja. Temuan ini merekomendasikan perlunya integrasi literasi digital dalam kurikulum sekolah untuk menciptakan budaya berinternet yang aman dan empatik
Abstract:Karyawan merupakan aset penting dalam organisasi yang memilikih kebutuhan psikologis termauk kemampuan mengelolah emosi dan berkomunikasi secara efektif dilingkungan kerja. Berdasrkan need assessment dan observasi terhadap…
ap karyawan PT. Primafood Internasional, ditemukan bahwa sebagian besar mengalami kesulitan dalm regulasi emosi yang berdampak pada efektifitas komunikasi. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan psikoedukasi mengenai regulasi emosi untuk meningkatkan komunikasi efektifitas di lingkungan kerja. Metode yang digunakan adalah seminar psikoedukatif dengan pendekatan non pelatihan yang dilengkapi pre-test dan post-test pada peserta sebanyak 16 orang karyawan. Kegiatan dilaksanakan dalam beberapa tahapan yang dimulai dari identifikasi masalah hingga pelaksanaan seminar. Hasil analisis data menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada rata-rata skor pre-test adalah 0,00 menjadi 8,50 pada skor post-test dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara pemahaman peserta sebelum dan sesudah pelatihan.Temuan ini menunjukkan bahwa seminar psikoedukatif efektif dalam meningkatkan pemahaman karyawan mengenai strategi regulasi emosi dan keterampilan komunikasi.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas program psikoedukasi dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang tekanan teman sebaya (peer pressure) pada remaja, khususnya anggota Pusat Informasi dan Konseling…
eling Remaja (PIK-R) di MAN 2 Makassar. Permasalahan tekanan teman sebaya diidentifikasi sebagai isu utama berdasarkan hasil survei data awal yang dilakukan terhadap anggota PIK-R. Penelitian ini menggunakan metode pemberian psikoedukasi yang disertai dengan pengambilan data melalui pre-test dan post-test. Sebanyak 50 peserta berusia 15–17 tahun mengikuti kegiatan yang terdiri atas pre-test, penyampaian materi psikoedukasi, diskusi interaktif, dan post-test. Materi yang disampaikan mencakup konsep dasar peer pressure, aspek dan jenisnya, bentuk bentuk peer pressure serta faktor faktor yang memengaruhi terjadinya peer pressure. Hasil analisis data menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan signifikan antara skor pre-test 3,1 dan post-test 9,2, dengan nilai p < 0,05. Temuan ini mengindikasikan bahwa kegiatan psikoedukasi yang dilakukan mampu meningkatkan pemahaman peserta terhadap dinamika tekanan teman sebaya (Peer pressure). Dengan demikian, kegiatan psikoedukasi ini terbukti efektif dalam membekali remaja dengan keterampilan untuk mengenali, mengevaluasi, dan mengatasi pengaruh negatif dari lingkungan sosialnya. Kegiatan ini juga mendorong terbentuknya peran aktif remaja sebagai agen perubahan positif di lingkungan sekolah.
Abstract:Nomophobia adalah kondisi psikologis yang ditandai dengan kecemasan berlebihan saat individu tidak dapat mengakses ponsel, dan menjadi fenomena yang semakin mengkhawatirkan di kalangan remaja. Rendahnya kesadaran mengenai…
i dampak negatif penggunaan gawai berlebihan menjadi salah satu penyebab kurangnya penanganan dini terhadap nomophobia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas psikoedukasi dalam meningkatkan pemahaman siswa SMP Negeri 33 Makassar mengenai bahaya dan strategi penanggulangan nomophobia. Penelitian ini menggunakan desain pretest-posttest kepada 30 siswa kelas VII dan VIII. Materi disampaikan melalui metode ceramah interaktif yang disertai sesi tanya jawab dan refleksi pengalaman penggunaan gawai. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data berdistribusi normal. Uji paired sample t-test menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), dengan rata-rata skor pretest sebesar 14,10 meningkat menjadi 34,46 pada posttest. Temuan ini menunjukkan bahwa psikoedukasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa mengenai penggunaan ponsel secara sehat dan pencegahan nomophobia. Hasil ini memberikan implikasi praktis bagi guru Bimbingan dan Konseling, sekolah, dan orang tua dalam menyusun strategi intervensi edukatif berbasis psikologi yang mendukung kesehatan mental remaja.
Abstract:Psikoedukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan pengelolaan emosi pada siswa SMPIT Darul Fikri Makassar melalui psikoedukasi berbasis media vosual berupa poster double x-banner. Latar belakang kegiatan…
giatan ini adalah banyaknya siswa yang mengalami kesulitan dalam mengenali dan mengendalikan emosi, sebagaimana teridentifikasi melalui observasi dan Daftar Ceklis Masalah (DCM) di sekolah. Metode pelaksanaan meliputi pemberian pre-test, penyampaian materi psikoedukasi, diskusi interaktif, dan post-test kepada 90 siswa kelas 7, 8, dan 9. Materi yang diberikan mencakup pengertian emosi, faktor yang memengaruhi emosi, jenis-jenis emosi, ciri-ciri ketidakstabilan emosi, serta teknik pengelolaan emosi. Hasil analisis data menggunakan uji wilcoxon menunjukkan adanya peningkatan signifikan pemahaman siswa, dengan rata-rata skor pre-test sebesar 26,70 dan post-test sebesar 44,54 (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa psikoedukasi berbasis poster efektif dalam meningkatkan literasi emosional siswa. Kegiatan ini diharapkan dapat membekali siswa dengan keterampilan regulasi emosi yang penting untuk mendukung perkembangan psikologis dan prestasi akademik di masa remaja.
Abstract:Pelaksanaan Program Pemantapan Kemampuan Mengajar ini bertujuan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam pembelajaran di sekolah. Kretivitas memang bukan faktor utama dalam pendidikan tapi pendidikan mampu memberikan…
n stimulus kepada peserta didknya untuk mengembangkan kreativitasnya. Kretivitas berpegang teguh pada rasa keingintahuan dan menumbuhkan kemampuan cipta berkreasi pada lingkungan sekelilingnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu dengan cara observasi, wawancara dan pengumpulan data yang diperoleh selama masa penugasan. Dalam pelaksanaan Program Pemantapan Kemampuan Mengajar, mahapeserta didik telah melaksanakan program, seperti mengajar, mengembangkan administrasi kelas dan pemanfaatan teknologi digital. Pogram yang telah dilaksanakan memperoleh hasil yang baik untuk peserta didik, mahasiswa dan sekolah.