Abstract:Abstract: The development of digital technology in Indonesia has penetrated even rural areas, but it is not accompanied by an adequate understanding of personal data security. Rural communities tend to be vulnerable to cyber…
yber threats due to limited digital literacy. The purpose of this Community Service (PkM) activity is to increase awareness and knowledge of the community of Silo Lama Village, Silau Laut District, about the importance of personal data security in the digital era. The implementation method includes outreach, education, and practical training for the community using a participatory approach. The material presented includes the definition of personal data, types of cyber threats, how to protect personal information, and an introduction to the Personal Data Protection Law. The activity was attended by 30 participants consisting of village officials, community leaders, and the general public. The results of the activity showed a significant increase in participants' understanding of personal data security, from an average pre-test score of 45% to 82% in the post-test. Participants were also able to identify various forms of online fraud and implement data protection measures. This program has made a positive contribution to improving the digital literacy of rural communities and is expected to prevent losses due to cybercrime in the future.
Keywords: cyber; data; digital; security; village
Abstrak: Perkembangan teknologi digital di Indonesia telah merambah hingga ke wilayah pedesaan, namun tidak diimbangi dengan pemahaman yang memadai tentang keamanan data pribadi. Masyarakat desa cenderung rentan terhadap ancaman siber karena keterbatasan literasi digital. Tujuan dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini adalah untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat Desa Silo Lama, Kecamatan Silau Laut tentang pentingnya menjaga keamanan data privat. Metode kegiatan meliputi sosialisasi, edukasi, dan pelatihan praktis kepada masyarakat dengan pendekatan partisipatif. Materi yang disampaikan mencakup pengertian data pribadi, jenis-jenis ancaman siber, cara melindungi informasi pribadi, serta pengenalan UU Perlindungan Data Pribadi. Kegiatan dihadiri dengan 30 orang meliputi unsur pejabat desa, tokoh warga, dan warga umum. Hasil kegiatan memaparkan peningkatan pemahaman warga terkait keamanan data pribadi, dari rerata skor pre-test 45% menjadi 82% pada post-test. Peserta juga mampu mengidentifikasi berbagai bentuk penipuan online dan menerapkan langkah-langkah perlindungan data. Program ini memberikan kontribusi positif dalam upaya meningkatkan literasi digital masyarakat desa dan diharapkan dapat mencegah kerugian akibat kejahatan siber di masa mendatang
Kata kunci: data; digital; desa; keamanan; siber
Abstract:Abstract: Women's political participation is an important aspect in sustainable village development. However, the involvement of women including the PKK group in Ledug village, Kembaran sub-district, Banyumas faces obstacles…
cles ranging from a lack of understanding of political participation, village development, low education levels, time constraints, and traditional mindsets. This community service activity aims to increase the understanding, capacity, and political participation of women in the PKK group in Ledug village, Kembaran sub-district, especially in the village development process. The methods used include FGD, direct observation, counseling, and village forum simulations. The results of the activity show that the PKK Ledug group has a high motivation to be involved in village development but still faces obstacles such as limited information regarding village political mechanisms and lack of self-confidence. After the community service was implemented, the PKK Ledug group was able to convey aspirations in a more structured manner. The village forum simulation showed an increase in the activeness of the PKK Ledug group in discussions and submitting program proposals. This community service proves that political awareness can be an effective strategy to increase the contribution of the PKK Ledug group in village development.
Keywords: women's political participation, village development
Abstrak: Partisipasi politik perempuan merupakan aspek penting dalam pembangunan desa yang berkelanjutan. Namun, keterlibatan Perempuan termasuk kelompok PKK di desa Ledug kecamatan Kembaran, Banyumas menghadapi hambatan mulai kurangnya pemahaman tentang partisipasi politik, pembangunan desa, tingkat Pendidikan rendah, kendala waktu, pola pikir yang masih tradisional. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, kapasitas, partisipasi politik perempuan kelompok PKK di desa Ledug, kecamatan Kembaran terutama proses Pembangunan desa. Metode yang digunakan meliputi FGD,observasi langsung,penyuluhan, simulasi forum desa. Hasil kegiatan menunjukkan kelompok PKK Ledug memiliki motivasi tinggi untuk terlibat dalam pembangunan desa tapi masih menghadapi kendala seperti keterbatasan informasi terkait mekanisme politik desa, minimnya kepercayaan diri.Setelah pengabdian dilaksanakan, kelompok PKK Ledug dapat menyampaikan aspirasi secara lebuh terstruktur.Simulasi forum desa memperlihatkan peningkatan keaktifan kelompok PKK Ledug dalam berdiskusi, mengajukan usulan program. Pengabdian ini membuktikan bahwa penyadaran politik dapat menjadi strategi efektif dapat meningkatkan konstribusi kelompok PKK Ledug dalam Pembangunan desa.
Kata kunci: partisipasi politik perempuan, pembangunan desa
Abstract:Abstract: The marriage of Islamic boarding school students (santri) has great potential to become a role model and be considered a potential example in marriage by the community, because it is not only based on legal provisions,…
visions, but also deeply rooted in religious values. As a concrete step, the community service team compiled a Marriage Preparation handbook that is relevant to santri, made in a practical manner and equipped with attractive pictures. The method used was Participatory Action Research (PAR). This community service activity was carried out at the Irsyaduth Tholabah Islamic Boarding School in Bojonegoro and was attended by 55 santri consisting of male and female santri aged 17-22 years. The results of the community service showed that 49% of participants fully understood the material in the Marriage Preparation handbook that had been disseminated, and 82% of participants stated that this activity was very useful and served as a guideline for them before getting married. Through this community service, it is hoped that divorce among students can be avoided.
Keywords: islamic boarding school student (santri); marriage; handbook; divorce
Abstrak: Pernikahan santri memiliki potensi besar untuk menjadi role model dan dianggap sebagai panutan potensial dalam pernikahan oleh masyarakat, karena tidak hanya berlandaskan pada ketentuan hukum, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai agama. Sebagai langkah konkrit, tim pengabdian menyusun handbook Persiapan Nikah yang relevan bagi santri, dibuat secara praktis dan dilengkapi dengan gambar menarik. Metode yang digunakan yaitu participatory Action Research (PAR). Kegiatan pengabdian ini dilakukan di Pesantren Irsyaduth Tholabah Bojonegoro dan diikuti oleh 55 santri yang terdiri dari santri putra dan santri putri dengan rentang usia 17-22 tahun. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa 49% peserta sangat paham dengan materi handbook Persiapan Nikah yang telah disosialisasikan dan 82% peserta menyatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat dan menjadi pedoman bagi mereka sebelum melangsungkan pernikahan. Melalui pengabdian ini, diharapkan perceraian di kalangan santri dapat terhindari.
Kata kunci: santri; pernikahan; handbook; perceraian
Abstract:Abstract: Forests serve as vital supports ecosystems and hold significant economic value. Complete reliance on forests as livelihoods threatens their ecological functions. Karang Jengkol Village hosts the Special Purpose…
Forest Area (KHDTK) managed by Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Field observations revealed several challenges faced by farmer groups living around the forest. A key issue is limited knowledge of food crop cultivation, causing ongoing forest land conversion. To address this problem, the transfer of knowledge regarding cultivation practices of food crops in forest areas is required, particularly through regulatory outreach activities. Activities used extension, active learning, and mentoring, targeting PKK members and KTH Cemara Soedirman farmers. Following the outreach activities, the community demonstrated improved understanding of the three–four strata planting system. Based on evaluation results, prior to the program most respondents (88.24% or 15 individuals) exhibited low levels of knowledge, while 11.27% (2 individuals) had moderate understanding. After the program, the number of respondents with moderate understanding increased to 5 individuals (29.41%), and those with high levels of understanding rose significantly from 0% to 12 individuals (70.59%).
Keywords: forest farmers group; KHDTK Unsoed; planting pattern; special purpose forest area
Abstrak: Hutan tidak hanya berperan sebagai penopang ekosistem, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang penting. Jika masyarakat sepenuhnya bergantung pada hutan sebagai sumber mata pencaharian utama, fungsi hutan sebangai penyangga ekosistem dapat terancam. Desa Karang Jengkol merupakan lokasi di mana Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Unsoed berada. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, ditemukan beberapa permasalahan yang dihadapi oleh kelompok tani di sekitar hutan. Salah satu di antaranya adalah kurangnya pengetahuan mengenai teknik budidaya tanaman pangan di kawasan hutan, yang menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan hutan secara berkelanjutan. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan transfer pengetahuan tentang pola budidaya tanaman pangan di area hutan melalui kegiatan transfer pengetahuan pola tanam tiga atau empat strata. Kegiatan dilaksanakan dengan metode penyuluhan, pembelajaran aktif dan pendampingan dengan Masyarakat sasaran yaitu ibu-ibu PKK dan petani KTH Cemara Soedirman. Setelah kegiatan sosialisasi dilaksanakan, masyarakat menunjukkan peningkatan pemahaman terhadap konsep pola tanam 3–4 strata. Berdasarkan hasil evaluasi, sebelum kegiatan mayoritas responden (88,24% atau 15 orang) memiliki tingkat pengetahuan yang rendah, sementara 11,27% (2 orang) berada pada tingkat pemahaman sedang. Setelah kegiatan berlangsung, jumlah responden dengan pemahaman sedang meningkat menjadi 5 orang (29,41%), dan yang memiliki pemahaman tinggi bertambah signifikan dari 0% menjadi 12 orang (70,59%).
Kata kunci: bukit soedirman; kelompok tani hutan; KHDTK; pola tanam
Abstract:Abstract: Manual school bell operations in rural areas often cause schedule inconsistencies and reduced discipline. This community service implemented an automatic bell system using an Arduino Nano, RTC DS3231, and DFPlayer…
yer Mini at MAS Islamiyah Hessa Air Genting. Activities covered needs assessment, system design, audio preparation, installation, training, and evaluation. The system achieved 100% timing accuracy and 40% cost efficiency compared to conventional bell systems. It operated reliably, produced clear audio, and integrated smoothly with the school’s sound system, improving punctuality among teachers and students. The solution is low-cost, easy to maintain, and replicable for other schools. Project outputs include one functional prototype, training materials, and a manuscript submitted to a nationally accredited journal. After this program, the partner experienced improved discipline among teachers and students due to a more organized and punctual bell schedule. In addition, school operators are now able to operate and maintain the system independently, resulting in more efficient school operations.
Keywords: arduino nano; automatic school bell; dfplayer; RTC DS3231; digitalisasi sekolah
Abstrak: Operasional bel sekolah yang masih manual di sejumlah sekolah pinggiran menyebabkan ketidakteraturan jadwal dan menurunnya kedisiplinan. Kegiatan pengabdian ini menerapkan sistem bel otomatis berbasis Arduino Nano, modul RTC DS3231, dan DFPlayer Mini di MAS Islamiyah Hessa Air Genting. Tahapan kegiatan meliputi analisis kebutuhan, perancangan perangkat keras dan lunak, perekaman konten audio, instalasi sistem, pelatihan operator, serta monitoring dan evaluasi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem mampu meningkatkan ketepatan waktu pembunyian bel hingga 100% dibandingkan sistem manual, serta menurunkan biaya implementasi hingga 40% dibandingkan bel komersial dengan fungsi sepadan. Sistem beroperasi stabil, memiliki kualitas audio yang jelas, dan terintegrasi baik dengan sound system sekolah, sehingga berdampak pada peningkatan kedisiplinan guru dan siswa. Solusi ini tergolong ekonomis, mudah dirawat, dan berpotensi direplikasi di sekolah lain dengan karakteristik serupa. Luaran kegiatan meliputi satu unit prototipe berfungsi, modul pelatihan, serta naskah artikel ilmiah yang diajukan pada jurnal terakreditasi nasional. Setelah kegiatan ini, mitra mengalami peningkatan kedisiplinan guru dan siswa karena jadwal bel menjadi lebih teratur dan tepat waktu. Selain itu, operator sekolah kini mampu mengoperasikan dan merawat sistem secara mandiri sehingga kinerja operasional sekolah menjadi lebih efisien.
Kata kunci: arduino nano; bel sekolah otomatis; dfplayer; RTC DS3231; digitalisasi sekolah
Abstract:Abstract: This community empowerment initiative aims to enhance the digital readiness of Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in Permata Baru Village, Ogan Ilir Regency, through the implementation of information…
systems and digital promotion strategies. Prior to the program, local MSME actors faced several challenges, including limited digital literacy, a lack of understanding of online marketing strategies, and minimal utilization of social media as a promotional tool, resulting in restricted market reach. The program adopts an educational and participatory approach, combining community-based learning, interactive discussions, and consultation sessions facilitated by lecturers and students from the Faculty of Economics, Sriwijaya University. The findings indicate strong enthusiasm among MSME participants and an improved understanding of how digitalization can expand market access. Participants have begun to utilize social media platforms such as Instagram, Facebook, and TikTok to promote their products. Overall, this initiative contributes to advancing digital literacy and technology-based marketing skills among rural MSMEs, thereby fostering inclusive and sustainable local economic growth.
Keywords: community engagement; digital literacy; digital promotion; information systems; MSMEs; rural development
Abstrak: Inisiatif pemberdayaan masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapan digital Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Permata Baru, Kabupaten Ogan Ilir, melalui penerapan sistem informasi dan strategi promosi digital. Sebelum program ini dilaksanakan, para pelaku UMKM masih menghadapi sejumlah kendala, seperti terbatasnya literasi digital, kurangnya pemahaman mengenai strategi pemasaran daring, serta minimnya pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi sehingga jangkauan pasar mereka relatif sempit. Program ini mengadopsi pendekatan edukatif dan partisipatif, yang menggabungkan pembelajaran komunitas, diskusi interaktif, dan sesi konsultasi yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa dari Fakultas Ekonomi, Universitas Sriwijaya. Temuan menunjukkan bahwa peserta UMKM menunjukkan antusiasme yang tinggi dan peningkatan pemahaman tentang bagaimana digitalisasi dapat memperluas akses pasar. Mereka telah mulai memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok untuk promosi produk. Secara keseluruhan, inisiatif ini berkontribusi untuk memajukan literasi digital dan keterampilan pemasaran berbasis teknologi di kalangan UMKM pedesaan, yang mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan.
Kata kunci: pengabdian kepada masyarakat; literasi digital; promosi digital; sistem informasi; UMKM; pembangunan perdesaan
Abstract:Abstract: This community service program aims to empower the Sumber Harapan Farmers Group located in Gurun Laweh, Nangga-lo District, Padang City through the application of BUDIKDAMBER (Fish Cultivation in Buckets) as a…
form of urban farming innovation. Urban farming is a strategic solution to address the challenges of limited land and increasing food needs in urban areas. The implementation method in this community service program consists of five methods, namely Socialization, Training, Technology Application, Mentoring, Monitoring and Evaluation. And through this activity, the Sumber Harapan Farmers Group was equipped with knowledge and skills in integrating catfish cultivation with vegetable crops (BUDIKDAMBER). The results of the Community Service Program showed an increase in the knowledge and skills of the Sumber Harapan Farmers Group from 20% to 87.31% after the community service program was implemented with a Very Good category. This shows that the application of BUDIKDAMBER technology is able to increase the participation of the Sumber Harapan Farmers Group and support food security as well as strengthen the spirit of household independence of the Farmers Group Towards Golden Indonesia 2045.
Keywords:; budikdamber; food security; community empowerment; urban farming.
Abstrak: Program pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan Kelompok Tani Sumber Harapan yang berlokasi di Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang melalui penerapan Teknologi BUDIKDAMBER (Budidaya Ikan Lele dalam Ember) sebagai bentuk inovasi pertanian perkotaan (Urban Farming). Urban Farming menjadi salah satu solusi strategis dalam menghadapi tantangan dalam keterbatasan lahan dan meningkatnya kebutuhan pangan di wilayah perkotaan. Metode pelaksanaan dalam program pengabdian ini terdiri atas lima metode, yaitu Sosialisasi, Pelatihan, Penerapan Teknologi, Pendampingan, Monitoring dan Evaluasi. Dan melalui kegiatan tersebut maka Kelompok Tani Sumber Harapan dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengintegrasikan budidaya ikan lele dengan tanaman sayuran (BUDIKDAMBER). Hasil Program Pengabdian menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan Kelompok Tani Sumber Harapan dari 20% menjadi 87,31% setelah dilaksanakan program pengabdian dengan kategori Baik Sekali. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan teknologi BUDIKDAMBER mampu meningkatkan partisipasi Kelompok Tani Sumber Harapan dan mendukung ketahanan pangan serta memperkuat semangat kemandirian rumah tangga Kelompok Tani Menuju Indonesia Emas 2045.
Kata kunci: budikdamber; ketahanan pangan; pemberdayaan masyarakat; urban farming.
Abstract:Abstract: This community service activity aims to enhance the capacity of Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) under cooperative management in Palembang City through digital marketing training. The main problem faced…
aced by the partner MSMEs is the lack of understanding and skills in utilizing digital technology for product marketing, which results in limited market reach and low sales volume. The implementation method consisted of preparation (needs analysis and material development), training sessions conducted face-to-face with hands-on practice, and evaluation using pre-test and post-test to measure participants’ improvement in understanding. The results showed an average increase of 65% in participants’ digital marketing knowledge after the training compared to before the training. Furthermore, participants were able to create business social media accounts, design simple promotional content, and optimize the use of digital platforms such as WhatsApp Business and Instagram to market their products. In conclusion, practical and applicable digital marketing training effectively improves the marketing skills of cooperative-based MSMEs, which is expected to contribute to increasing the competitiveness of local products in the digital economy era
Keywords: digital marketing; cooperatives; empowerment; training; MSMEs.
Abstrak: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di bawah naungan koperasi di Kota Palembang melalui pelatihan digital marketing. Permasalahan utama yang dihadapi UMKM mitra adalah keterbatasan pemahaman dan keterampilan dalam memanfaatkan teknologi digital untuk pemasaran produk, sehingga berdampak pada rendahnya jangkauan pasar dan volume penjualan. Metode pelaksanaan pengabdian ini mencakup tahap persiapan melalui analisis kebutuhan mitra dan penyusunan materi, tahap pelaksanaan dengan metode ceramah, pelatihan praktik langsung, serta pendampingan menggunakan alat bantu presentasi, modul pelatihan, dan perangkat lunak pendukung, serta tahap evaluasi melalui pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pemahaman peserta. pelaksanaan pengabdian meliputi tahap persiapan (analisis kebutuhan mitra dan penyusunan materi). Hasil pengabdian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan rata-rata skor pemahaman digital marketing sebesar 69% setelah pelatihan dibandingkan sebelum pelatihan. Selain itu, peserta mampu membuat akun media sosial bisnis, merancang konten promosi sederhana, dan mengoptimalkan penggunaan platform digital seperti WhatsApp Business dan Instagram untuk memasarkan produk. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah pelatihan digital marketing secara praktis dan aplikatif efektif dalam meningkatkan keterampilan pemasaran UMKM koperasi, yang diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan daya saing produk lokal di era ekonomi digital.
Kata Kunci; digital marketing; koperasi; pemberdayaan; pelatihan; UMKM.
Abstract:Abstract: Digitalization 5.0 has opened wide opportunities for students to build digital-based startups. However, many student startups face challenges in financial management, developing a Minimum Viable Product (MVP),…
and ensuring business sustainability. This program aims to implement Digital Business Incubation as a strategy for developing student digital startups. The methods used include observation, tenant selection, interviews, and intensive mentoring for incubation program participants. As a result of the selection process, 14 businesses were chosen to be incubated, consisting of service-based and product-based ventures. The program is designed to provide entrepreneurship training, financial management workshops, business legality assistance, investor networking opportunities, and technological support. The outcomes of the program indicate that through digital incubation, average 77,91% of the participating students were able to enhance their digital entrepreneurship skills, strengthen their business models, and optimize the potential for business sustainability. Therefore, Digital Business Incubation has proven to be an effective mechanism for fostering the growth of student digital startups that are adaptive, innovative, and competitive in the digital economy era.
Keywords: bussiness digital, enterprise, student, service
Abstrak: Digitalisasi 5.0 telah membuka peluang luas bagi mahasiswa untuk membangun usaha rintisan (startup) berbasis digital. Namun, banyak startup mahasiswa menghadapi tantangan dalam hal pengelolaan keuangan, Minimum Viable Product, dan keberlanjutan usaha. Program ini bertujuan untuk mengimplementasikan program Digital Business Incubation sebagai strategi pengembangan startup digital mahasiswa. Metode yang digunakan meliputi observasi, seleksi tenant, wawancara, serta pendampingan intensif terhadap peserta program inkubasi. Dari hasil seleksi terpilih 14 usaha yang akan diinkubasi yang terdiri dari usaha yang bergerak dibidang jasa dan produk. Program ini dirancang untuk memberikan pembinaan kewirausahaan, pelatihan keuangan, pendampingan legalitas usaha, akses bersama investor, serta dukungan teknologi. Hasil program ini menunjukkan bahwa melalui inkubasi digital, rata rata 77,91% mahasiswa mampu meningkatkan keterampilan wirausaha digital, memperkuat model bisnis, serta mengoptimalkan potensi keberlanjutan usaha. Dengan demikian, Inkubasi bisnis digital terbukti menjadi mekanisme efektif dalam mendorong lahirnya startup digital mahasiswa yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing di era ekonomi digital.
Kata kunci: bisnis, mahasiswa, jasa, startup digital
Abstract:Abstract: This community service activity was motivated by the drying problems of emping melinjo in Perbaungan District, Serdang Bedagai Regency, which still relies on sunlight. This traditional method has many limitations…
ns as it depends on weather conditions, requires 2–3 days, and produces products that are less hygienic and inconsistent in quality. The purpose of this activity is to provide a solution through mentoring and training in the use of the electric emping melinjo dryer (KEPINGJO) so that partners are able to operate the equipment and increase production capacity. The implementation method includes several stages: preparation, technology socialization, training, trials, evaluation, and mentoring. The results show that the partners actively participated and were able to operate the equipment independently. The use of the electric dryer resulted in a reduction from 1 kg to 0.64 kg within 1 hour at a temperature of 55 °C, which is much faster than the traditional drying method that takes 2–3 days. In addition, the moisture content of emping melinjo, initially 29% in the wet condition, decreased to 9.5% after the drying process using the electric dryer. The final product is more hygienic, evenly dried, and has a longer shelf life. The application of the KEPINGJO electric dryer has proven to increase productivity, product quality, and household income while strengthening the role of universities in delivering appropriate technological innovations.
Keywords: dryer; melinjo; empowerment; training; food self-sufficiency
Abstrak: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh permasalahan pengeringan emping melinjo di Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, yang masih mengandalkan sinar matahari. Metode tersebut memiliki banyak keterbatasan karena bergantung pada cuaca, membutuhkan waktu 2–3 hari, serta menghasilkan produk yang kurang higienis dan tidak seragam. Tujuan kegiatan adalah memberikan solusi melalui pendampingan dan pelatihan penggunaan alat pengering elektrik emping melinjo (KEPINGJO) agar mitra mampu mengoperasikan dan meningkatkan kapasitas produksi. Metode pelaksanaan meliputi tahap persiapan, sosialisasi teknologi, pelatihan, uji coba, serta evaluasi dan pendampingan. Hasil kegiatan menunjukkan mitra aktif berpartisipasi dan mampu menggunakan alat secara mandiri. Penggunaan alat pengering elektrik memperlihatkan penyusutan dari 1 kg menjadi 0,64 kg dalam waktu 1 jam pada suhu 55 °C, jauh lebih cepat dibanding metode tradisional 2–3 hari. Selain itu, kadar air emping melinjo yang semula sebesar 29% pada kondisi basah menurun menjadi 9,5% setelah proses pengeringan menggunakan alat pengering elektrik. Produk yang dihasilkan lebih higienis, kering merata, dan memiliki daya simpan lebih lama. Penerapan pengering elektrik KEPINGJO terbukti meningkatkan produktivitas, kualitas, serta pendapatan rumah tangga, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi tepat guna.
Kata kunci: alat pengering; melinjo; pemberdayaan; pelatihan; kemandirian pangan