Abstract:Sengketa kepemilikan tanah di Indonesia masih menjadi permasalahan hukum yang sering terjadi dan menimbulkan ketidakpastian hukum, khususnya bagi pembeli yang telah memperoleh hak atas tanah dengan memenuhi prosedur yang…
berlaku dan bertindak berdasarkan itikad baik. Berbagai permasalahan, seperti tumpang tindih hak, pemalsuan dokumen, cacat administrasi, maupun peralihan hak oleh pihak yang tidak berwenang, berpotensi menghilangkan hak pembeli meskipun telah melaksanakan transaksi secara sah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlindungan hukum bagi pembeli beritikad baik dalam sengketa kepemilikan tanah di Indonesia berdasarkan ketentuan hukum positif, asas hukum pertanahan, yurisprudensi, dan praktik peradilan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan kasus. Bahan hukum yang digunakan terdiri atas bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang diperoleh melalui studi kepustakaan, kemudian dianalisis secara kualitatif dengan teknik deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hukum bagi pembeli beritikad baik telah diakomodasi dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, serta Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2016. Namun, implementasi perlindungan hukum tersebut belum sepenuhnya memberikan kepastian hukum karena masih terdapat perbedaan penafsiran terhadap unsur itikad baik dan inkonsistensi pertimbangan hakim dalam memutus sengketa kepemilikan tanah. Oleh karena itu, diperlukan penerapan hukum yang konsisten, penguatan pembuktian terhadap unsur itikad baik, serta harmonisasi antara peraturan perundang-undangan dan praktik peradilan guna mewujudkan kepastian hukum, keadilan, dan perlindungan hukum yang efektif bagi pembeli beritikad baik dalam sengketa kepemilikan tanah di Indonesia.
Abstract:Perkembangan teknologi digital telah melahirkan berbagai bentuk kekayaan baru berupa aset digital yang memiliki nilai ekonomi, seperti aset kripto, dompet digital, akun digital, non-fungible token (NFT), dan berbagai aset…
t elektronik lainnya. Perkembangan tersebut menimbulkan persoalan hukum dalam penyelesaian sengketa waris karena sistem hukum kewarisan di Indonesia belum mengatur secara komprehensif mekanisme pembuktian terhadap kepemilikan, penguasaan, dan pengalihan aset digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis sekaligus merekonstruksi sistem pembuktian harta warisan digital (digital assets) dalam penyelesaian sengketa waris di Indonesia agar mampu memberikan kepastian hukum, keadilan, dan perlindungan hukum bagi para ahli waris. Penelitian menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan kasus. Bahan hukum dianalisis secara kualitatif melalui penelaahan terhadap peraturan perundang-undangan, doktrin, serta hasil penelitian yang berkaitan dengan hukum waris, hukum pembuktian, hukum perdata, dan hukum teknologi informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme pembuktian harta warisan digital tidak lagi dapat bertumpu pada alat bukti konvensional semata, melainkan harus mengakomodasi bukti elektronik berupa riwayat transaksi digital, metadata, digital wallet, transaction hash, autentikasi elektronik, serta jejak digital lainnya yang mampu menunjukkan hubungan hukum antara pewaris dengan aset digital yang dimiliki. Rekonstruksi pembuktian juga memerlukan harmonisasi antara hukum waris, hukum perdata, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Peradilan Agama, dan Kompilasi Hukum Islam agar terbentuk sistem pembuktian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dengan demikian, rekonstruksi tersebut diharapkan mampu memperkuat kepastian hukum, menjamin perlindungan hak ahli waris, serta menciptakan penyelesaian sengketa waris yang lebih efektif di era transformasi digital.
Abstract:Sistem pendaftaran merek di Indonesia menganut asas first-to-file, tetapi penerapannya dibatasi oleh kewajiban bahwa pendaftaran harus dilakukan dengan iktikad baik. Persoalan dapat muncul ketika suatu merek memiliki kemiripan…
iripan dengan merek yang telah terdaftar atau lebih dahulu diajukan, kemudian didaftarkan oleh pihak lain yang memiliki tujuan tidak baik. Atas dasar tersebut, penelitian ini disusun untuk menganalisis ketentuan mengenai iktikad tidak baik dalam proses pendaftaran merek berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Penelitian ini juga menganalisis bentuk perlindungan hukum terhadap pemilik merek terdaftar dari pendaftaran yang dilakukan dengan iktikad tidak baik dengan mengacu pada Putusan Nomor 1 PK/Pdt.Sus-HKI/2025. Berdasarkan metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan kasus, diperoleh hasil bahwa iktikad tidak baik dapat menjadi alasan penolakan permohonan pendaftaran merek sebagaimana diatur dalam Pasal 21 ayat (3), sekaligus menjadi batas terhadap penerapan asas first-to-file. Perlindungan hukum terhadap pemilik merek diberikan dalam bentuk preventif melalui pemeriksaan substantif dan penolakan permohonan serta represif melalui pengajuan gugatan pembatalan merek sebagaimana diatur dalam Pasal 76 dan Pasal 77
The trademark registration system in Indonesia adopts the first-to-file principle; however, its application is subject to the requirement that registration be conducted in good faith. Issues may arise when a trademark resembles one that has already been registered or previously applied for and is subsequently registered by another party with improper intentions. Therefore, this study aims to analyze the provisions concerning bad faith in the trademark registration process under Law Number 20 of 2016 concerning Trademarks and Geographical Indications. This study also examines the forms of legal protection available to registered trademark owners against registrations made in bad faith by referring to Decision Number 1 PK/Pdt.Sus-HKI/2025. Using a normative juridical research method with a statutory and case approach, the study finds that bad faith may constitute a basis for rejecting a trademark registration application as provided under Article 21 paragraph (3), while also serving as a limitation on the application of the first-to-file principle. Legal protection for registered trademark owners is provided preventively through substantive examination and rejection of applications, and repressively through the filing of trademark cancellation lawsuits as regulated under Articles 76 and 77.
Abstract:ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Coffee Sendu dalam meningkatkan kesejahteraan karyawan di Kota Palembang. Coffee Sendu merupakan UMKM di bidang kuliner yang berdiri…
erdiri sejak tahun 2020 dan telah menunjukkan pertumbuhan usaha yang signifikan. Dalam konteks ini, kesejahteraan karyawan dipandang sebagai indikator penting keberhasilan sebuah UMKM, terutama dalam hal pendapatan, lingkungan kerja, dan peluang pengembangan diri. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan wawancara semi-terstruktur terhadap pemilik dan para karyawan Coffee Sendu. Fokus utama penelitian adalah untuk mengevaluasi sejauh mana peran UMKM ini dalam menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan karyawan, dan memberikan kontribusi terhadap stabilitas ekonomi individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Coffee Sendu mampu membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar, terutama bagi mereka yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap. Karyawan memperoleh penghasilan harian yang dapat memenuhi kebutuhan dasar, dan adanya hubungan kekeluargaan antara pemilik dan karyawan turut menciptakan suasana kerja yang nyaman. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa kendala seperti keterbatasan dalam akses pemasaran digital dan hambatan operasional akibat cuaca. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa UMKM Coffee Sendu berperan positif dalam meningkatkan kesejahteraan karyawan, dan dapat menjadi contoh pemberdayaan ekonomi lokal yang efektif. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi pelaku UMKM dan pemangku kepentingan dalam merancang strategi pemberdayaan SDM secara berkelanjutan.
ABSTRACT
This study aims to analyze the role of the Coffee Sendu Micro, Small, and Medium Enterprise (MSME) in improving employee welfare in Palembang City. Coffee Sendu is a culinary MSME established in 2020 and has demonstrated significant business growth. In this context, employee welfare is seen as a key indicator of an MSME's success, particularly in terms of revenue, work environment, and opportunities for personal development. The research method used was a descriptive qualitative case study approach. Data were collected through direct observation and semi-structured interviews with the owners and employees of Coffee Sendu. The primary focus of the study was to evaluate the extent to which this MSME plays a role in creating jobs, increasing employee income, and contributing to individual economic stability. The results indicate that Coffee Sendu has been able to create employment opportunities for the surrounding community, especially for those previously unemployed. Employees earn a daily income that covers basic needs, and the familial relationship between the owner and employees contributes to a comfortable work environment. However, several challenges remain, such as limited access to digital marketing and operational constraints due to weather. The conclusion of this study is that the Coffee Sendu MSME plays a positive role in improving employee welfare and can serve as an effective example of local economic empowerment. This research is expected to serve as a reference for MSMEs and stakeholders in designing sustainable human resource empowerment strategies.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis orientasi percakapan, orientasi konformitas, serta pola komunikasi ibu dan anak pada keluarga ibu pekerja pabrik sumpit di Kampung Pameungpeuk, Desa Sukamanah, Kecamatan Rongga,…
, Kabupaten Bandung Barat berdasarkan teori Family Communication Patterns yang dikemukakan oleh Fitzpatrick dan Ritchie. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian meliputi tiga keluarga ibu pekerja pabrik sumpit yang terdiri atas tiga ibu, tiga anak, tiga ayah, serta satu pemilik pabrik sebagai informan kunci. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga keluarga memiliki orientasi percakapan yang tinggi, ditandai dengan komunikasi yang terbuka, kebiasaan berdiskusi, serta pemberian kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pendapat. Orientasi konformitas juga tergolong tinggi karena orang tua tetap menanamkan nilai, aturan, dan tanggung jawab kepada anak, meskipun tetap memberikan ruang untuk berdiskusi. Berdasarkan kedua orientasi tersebut, pola komunikasi yang terbentuk cenderung mengarah pada pola komunikasi konsensual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pekerjaan ibu sebagai buruh pabrik sumpit tidak mengurangi kualitas komunikasi dalam keluarga. Keterbatasan waktu justru mendorong ibu memanfaatkan waktu bersama secara lebih efektif sehingga hubungan dengan anak tetap terjalin dengan baik. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian komunikasi keluarga, khususnya pada keluarga ibu pekerja sektor informal di wilayah pedesaan.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi marketing mix yang digunakan Toko Beras Felisha dalam meningkatkan volume penjualan di Desa Padang Tepong Kecamatan Ulu Musi Kabupaten Empat Lawang. Penelitian menggunakan…
akan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data primer diperoleh dari pemilik toko, karyawan, dan konsumen, sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumentasi serta literatur pendukung. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara tidak terstruktur, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Toko Beras Felisha menerapkan strategi marketing mix 4P yang meliputi produk, harga, tempat, dan promosi. Strategi produk menekankan jaminan kualitas, kebersihan, dan penyediaan beberapa jenis beras sesuai kebutuhan konsumen. Strategi harga dilakukan secara kompetitif dengan mempertimbangkan biaya produksi, harga pasar, dan kualitas produk. Strategi tempat didukung oleh lokasi yang strategis di jalan lintas, mudah dijangkau, memiliki lahan parkir, serta tata letak produk yang rapi. Strategi promosi masih dilakukan secara konvensional melalui personal selling dan word of mouth. Volume penjualan meningkat dari 5 ton pada tahun 2023 menjadi 8 ton pada tahun 2024 dan 10 ton pada tahun 2025. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa penerapan marketing mix 4P berkontribusi terhadap peningkatan volume penjualan. Strategi yang paling efektif adalah produk dan tempat, kemudian harga, sedangkan promosi merupakan strategi yang paling rendah efektivitasnya sehingga masih perlu dikembangkan.
Abstract:Perkembangan industri coffee shop di Indonesia meningkat pesat dengan konsep yang semakin beragam. Fenomena ini tidak terlepas dari meningkatnya daya beli masyarakat kelas menengah dan ketertarikan generasi muda terhadap…
gaya hidup kekinian, Persaingan yang semakin ketat membuat pelaku usaha coffee shop dituntut untuk memiliki strategi pemasaran yang efektif agar dapat bertahan dan berkemabang. Namun, coffee shop ini masih menghadapi tantangan berupa kurang optimalnya strategi pemasaran sehingga berdampak pada volume penjualan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemasaran yang saat ini diterapkan, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat, serta merumuskan strategi yang tepat untuk meningkatkan volume penjualan guna mendukung kewirausahaan berbasis gender. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan pemilik, karyawan, pelanggan, dan pemangku kepentingan terkait. Analisis data menggunakan kerangka kerja bauran pemasaran (7P) dan analisis SWOT, sedangkan validitas data diverifikasi melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Halsean Coffee dan Resto telah menerapkan strategi pemasaran berdasarkan elemen 7P: produk, harga, tempat, promosi, orang, proses, dan bukti fisik. Faktor pendukung meliputi kualitas produk, harga yang kompetitif, lokasi strategis, pelayanan yang baik, dan meningkatnya minat masyarakat terhadap coffee shop. Faktor penghambat meliputi promosi digital yang belum optimal, inovasi produk yang terbatas, kendala sumber daya manusia, dan persaingan bisnis yang ketat. Strategi yang direkomendasikan mencakup penguatan promosi digital, peningkatan inovasi produk, pengembangan kualitas sumber daya manusia, serta pemanfaatan temuan analisis SWOT untuk meningkatkan volume penjualan secara berkelanjutan.
Abstract:Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memegang peranan penting dalam mendukung perekonomian Indonesia, khususnya melalui penciptaan lapangan kerja dan pengembangan ekonomi lokal. Namun, banyak UMKM masih menghadapi tantangan…
tangan dalam mengelola tenaga kerja langsung secara efektif akibat belum adanya standar jam kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan standar jam kerja dalam pengendalian tenaga kerja langsung pada Usaha Mikro Keripik Pisang Nona Acha di Ambon. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode observasi langsung, wawancara mendalam dengan pemilik usaha dan karyawan, dokumentasi, serta studi pustaka. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha tersebut belum menerapkan standar jam kerja formal, jadwal kerja terstruktur, maupun sistem evaluasi kinerja. Karyawan bekerja sekitar 66 jam per minggu melebihi standar jam kerja yang diatur sementara pengawasan tenaga kerja hanya mengandalkan pemantauan langsung oleh pemilik usaha. Ketiadaan standar jam kerja telah menurunkan efisiensi operasional dan menyulitkan pengukuran produktivitas tenaga kerja secara objektif. Oleh karena itu, penetapan standar jam kerja yang terstruktur, pembagian tugas yang jelas, serta evaluasi kinerja secara berkala diharapkan dapat meningkatkan efektivitas tenaga kerja, efisiensi produksi, dan produktivitas usaha secara keseluruhan.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan peramalan (forecasting) penjualan pada Toko Sembako Alaudin yang berlokasi di Pasar Rumah Tiga, Teluk Ambon, serta bagaimana hasil peramalan tersebut digunakan dalam…
menentukan strategi bisnis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi data penjualan toko selama periode Januari hingga Desember 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Toko Sembako Alaudin belum menerapkan metode peramalan secara sistematis dan masih mengandalkan pengalaman serta intuisi pemilik dalam menentukan jumlah stok barang. Pola penjualan menunjukkan tren peningkatan menjelang hari besar keagamaan dan akhir tahun, namun belum dimanfaatkan secara optimal untuk perencanaan strategi pengadaan barang. Penelitian ini merekomendasikan penerapan metode peramalan sederhana berbasis data historis penjualan guna mendukung pengambilan keputusan bisnis yang lebih akurat dan efisien.