Search Articles & Publications

Showing 303 articles found for "Section"

ANALISIS RISIKO STUNTING PADA BALITA PASCA BENCANA BANJIR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEURAH DUA, KABUPATEN PIDIE JAYA

Mulia, Nur, Nurdin, Ambia, Ellianufara, Ellianufara
Abstract: StuntingImerupakanIkondisiIgagalItumbuhIpadaIbalitaIyang ditandaiIdengan tinggiIbadan menurutIumurIkurang dari -2 standarIdeviasiIberdasarkanIstandar World Health Organization (WHO). KondisiIiniIdisebabkanIolehIkekuranganIgiziIkronisIdanIinfeksiIberulang,… nIgiziIkronisIdanIinfeksiIberulang, terutama pada 1.000 hariIpertamaIkehidupan. BencanaIbanjirIberpotensiImeningkatkanIrisikoIstunting melaluiIterbatasnyaIaksesIairIbersih,IsanitasiIyangIburuk, terganggunyaIketahananIpangan rumahItangga, sertaIterbatasnya akses layanan kesehatan. Penelitian iniIbertujuan menganalisis hubunganIdampak bencanaIbanjir denganIpeningkatan risiko stunting pada balita di WilayahIKerja PuskesmasIMeurah Dua KabupatenIPidie Jaya. Penelitian menggunakanImetodeIkuantitatifIdenganIdesain analitikIdan pendekatanIcross-sectional. sempelIpadaIpenelitianIiniIsebanyak 92 balita. VariabelIdependenIadalahIkejadianIstunting, sedangkanIvariabelIindependenImeliputiIketidaktersediaanIair bersih, kondisiIjamban tidak layak, ketahananIpanganIrumahItanggaIyangIburuk, danIaksesIlayanan kesehatan yang buruk. Analisis dataImenggunakanIuji Chi-Square. HasilIpenelitianImenunjukkanIadanya hubungan yangIsignifikanIantaraIketidaktersediaanIair bersih (p = 0.000; OR = 34,417; 95% CI: 9,996–118,496), kondisiIjambanItidak layak (p = 0.000; OR = 81,125; 95% CI: 31,060–1056,217), ketahanan pangan rumah tangga yang buruk (p = 0.000; OR = 69,000; 95% CI: 17,017–279,779), serta akses layanan kesehatan yang buruk (p = 0.004; OR = 4,538; 95% CI: 1,532–13,442) dengan risiko stunting pada balita setelah kejadian banjir. Diharapkan kepada pihak puskesmas agar memperkuat upaya promotif dan preventif melalui penyuluhan tentang sanitasi, penggunaan air bersih, pemenuhan gizi seimbang, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita secara berkala.

Gambaran Aktivitas Fisik Pada Lansia Dengan Hipertensi Di Puskesmas Grogol Kabupaten Sukoharjo  

Arfian Luluk Mahendra, Irma Mustika Sari
Abstract: Hipertensi pada lansia menempati urutan tertinggi di antara penyakit tidak menular lainnya di Indonesia, sehingga menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Aktivitas fisik dapat menyebabkan vasodilatasi, peningkatan… ngkatan produksi oksida nitrat oleh sel endotel, penurunan stres oksidatif, dan peningkatan sensitivitas pembuluh darah terhadap relaksasi, sehingga membantu menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik secara nyata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran aktivitas fisik pada lansia dengan hipertensi Di Puskesmas Grogol Kabupaten Sukoharjo. Penelitian ini menggunakan desain Kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel yang digunakan Non-Probability Sampling dengan metode Quota Sampling. Jumlah sampel 64 responden.  Instrument yang digunakan GPAQ (Global Physical Activity Quesionnaire) untuk mengukur aktivitas fisik. Hasil penelitian menunjukan bahwa gambaran aktivitas fisik pada lansia di Puskesmas Grogol 15 (23,4%) aktivitas fisik rendah, 42 (65,6%) aktivitas fisik sedang, dan 7 (10,9%) aktivitas fisik tinggi. Aktivitas fisik pada lansia dengan hipertensi di Puskesmas Grogol Kabupaten Sukoharjo mayoritas adalah aktivitas fisik sedang.

The Effect of Digital Leadership, Learning Agility, and Employee Engagement on Employee Performance

Puspitosari, Arien Anjar, Graha, Andi Nu
Abstract: The rapid development of digital technologies has transformed organizational work environments and created new demands for leadership, employee adaptability, and engagement. This study aims to examine the effect of digital&#8230; al leadership, learning agility, and employee engagement on employee performance. A quantitative approach with a cross-sectional survey design was employed. Data were collected from 250 employees using a structured questionnaire measured on a five-point Likert scale. The data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) to evaluate the measurement and structural models. The results demonstrate that digital leadership has a positive and significant effect on employee performance (β = 0.247; t = 4.218; p < 0.001). Learning agility also has a positive and significant effect on employee performance (β = 0.286; t = 5.037; p < 0.001). Furthermore, employee engagement has the strongest positive and significant effect on employee performance (β = 0.411; t = 7.126; p < 0.001). The model explains 68.4% of the variance in employee performance, indicating substantial explanatory power. These findings highlight the importance of integrating digitally capable leadership, continuous employee learning, and strong employee engagement to improve performance in an increasingly dynamic and technology-driven work environment. The study contributes to the understanding of how organizational and individual factors jointly support employee performance in the digital era

THE RELATIONSHIP BETWEEN FAMILY CHARACTERISTICS AND STUNTING AMONG CHILDREN AGED 24–59 MONTHS IN NAGARI SINURUIK, THE WORKING AREA OF TALU COMMUNITY HEALTH CENTER

Muthia, Gina, Syofiah, Putri Nelly, Lifaniura, Lushiana, Irawan, Ade Ayu
Abstract: Stunting is a chronic nutritional problem influenced by various direct and indirect factors, including maternal knowledge of nutrition, maternal education, and family income. This study aimed to determine the relationship&#8230; p between family characteristics and the incidence of stunting among children aged 24–59 months in Nagari Sinuruik, within the working area of Talu Public Health Center. This study used a quantitative descriptive-analytic method with a cross-sectional design. The study was conducted from February to August 2024, with data collection carried out from June 26 to 30, 2024. The study population consisted of 85 children aged 24–59 months, with a sample of 46 respondents selected using random sampling. Data were collected using questionnaires and analyzed using the Chi-Square test. The results showed that 26 toddlers (56.5%) experienced stunting, 28 respondents (60.9%) had poor nutritional knowledge, 28 respondents (60.9%) had a lower educational level, and 24 respondents (52.2%) had low family income. There were significant relationships between maternal knowledge and the incidence of stunting (p=0.007), maternal education and the incidence of stunting (p=0.012), and family income and the incidence of stunting (p=0.009). The study concluded that maternal knowledge, maternal education, and family income were associated with the incidence of stunting among children aged 24–59 months. Public health center staff are expected to continue monitoring the nutritional status of toddlers and improve nutrition education for mothers, adolescents, and prospective brides and grooms.

MATERNAL KNOWLEDGE OF EARLY STIMULATION AND DEVELOPMENTAL SCREENING OUTCOMES AMONG STUNTED AND NON-STUNTED TODDLERS

Syofiah, Putri Nelly, Primasari, Eka Putri, Muthia, Gina, Hayati, Masni, Trisdawati, Tiya
Abstract: Early childhood development is influenced by nutrition, health, caregiving, and opportunities for age-appropriate stimulation (World Health Organization, 2020). This study examined the association between maternal knowledge&#8230; dge of early stimulation and developmental screening outcomes and compared developmental outcomes between stunted and non-stunted toddlers. A quantitative analytic study with a cross-sectional design was conducted among 125 mother–toddler pairs in the working area of Balaiselasa Public Health Center, Pesisir Selatan Regency, Indonesia. Maternal knowledge was assessed using a structured questionnaire, developmental status was screened using the Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), and stunting was determined from length/height-for-age according to age and sex. Data were analyzed using descriptive statistics and Pearson’s Chi-Square test. Moderate maternal knowledge was found in 59 mothers (47.2%). Developmental screening outcomes were appropriate in 68 toddlers (54.4%), questionable in 48 (38.4%), and deviant in 9 (7.2%). Maternal knowledge was associated with developmental screening outcomes (χ²=10.187; df=4; p=0.037; Cramer’s V=0.202). Stunting status was also associated with developmental category (χ²=6.279; df=2; p=0.043). Because some expected cell counts were below five, the chi-square findings should be confirmed using an exact or Monte Carlo test. The findings support integrated maternal education, developmental screening, growth monitoring, and nutritional follow-up in primary health services.

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keselamatan Pasien Di Ruang Rawat Inap Rsud dr. Rasidin Padang Tahun 2025

Sri Rahayu, Vania Aresti Yendrizal, Weni Mailita
Abstract: Keselamatan pasien merupakan isu global yang menjadi prioritas utama dalam pelayanan kesehatan rumah sakit. Data menunjukkan angka kejadian tidak diharapkan (KTD) pada pasien rawat inap di dunia berkisar antara 3%–16%, yang&#8230; yang sebagian besar disebabkan oleh kelalaian dalam asuhan keperawatan. Faktor-faktor seperti kepemimpinan, komunikasi, dan lingkungan kerja menjadi determinan penting dalam penerapan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keselamatan pasien di Ruang Rawat Inap RSUD Dr. Rasidin Padang tahun 2025. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh perawat ruang rawat inap sebanyak 70 orang, dengan sampel 60 perawat dengan metode menggunakan teknik total sampling. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 26-29 Agustus 2025. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kepemimpinan, komunikasi, lingkungan kerja, dan keselamatan pasien. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi Square tingkat signifikansi p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (43,3%) responden menyatakan keselamatan pasien kurang baik, (40,0%) menilai kepemimpinan kurang baik, (43,3%) komunikasi kurang baik, dan (38,3%) lingkungan kerja kurang baik. Uji Chi Square memperlihatkan adanya hubungan signifikan antara kepemimpinan (p = 0,000), komunikasi (p = 0,000), dan lingkungan kerja (p = 0,000) dengan keselamatan pasien di ruang rawat inap RSUD Dr. Rasidin Padang tahun 2025. Kesimpulan, bahwa kepemimpinan, komunikasi, dan lingkungan kerja memiliki hubungan yang bermakna dengan keselamatan pasien. Diharapkan pihak rumah sakit dapat meningkatkan efektivitas kepemimpinan, memperbaiki kualitas komunikasi, serta menciptakan lingkungan kerja yang kondusif untuk mendukung penerapan budaya keselamatan pasien yang optimal.

Hubungan Pola Makan Dan Kepatuhan Minum Obat Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Puskesmas Belimbing Padang Tahun 2025

Azharia Lathifah, Hidayatul Rahmi, Willady Rasyid
Abstract:   Diabetes Mellitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah akibat gangguan sekresi insulin, resistensi insulin, atau keduanya. Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat&#8230; pat dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya pola makan yang kurang baik dan rendahnya kepatuhan minum obat. Berdasarkan survei awal di Puskesmas Belimbing Padang, sebagian besar pasien masih mengonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan, memiliki jadwal makan yang tidak teratur, serta belum patuh dalam mengonsumsi obat antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan dan kepatuhan minum obat dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 di Puskesmas Belimbing Padang Tahun 2025. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 197 pasien Diabetes Mellitus tipe 2 yang berkunjung ke Puskesmas Belimbing Padang pada Desember 2024–Januari 2025, dengan sampel sebanyak 66 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pola makan, kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8), dan lembar observasi kadar gula darah puasa. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p ≤ 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 66 responden, sebanyak 41 orang (62,1%) memiliki pola makan kurang baik, 45 orang (68,2%) memiliki kepatuhan minum obat yang rendah, dan 42 orang (63,6%) memiliki kadar gula darah yang tidak terkontrol. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value = 0,000, yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara pola makan dan kepatuhan minum obat dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 di Puskesmas Belimbing Padang Tahun 2025. Disimpulkan bahwa pola makan dan kepatuhan minum obat berhubungan secara signifikan dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2. Oleh karena itu, Puskesmas Belimbing Padang diharapkan dapat meningkatkan edukasi mengenai pengaturan pola makan, kepatuhan minum obat, melibatkan keluarga dalam pengelolaan penyakit, serta menyediakan media edukasi yang efektif untuk membantu pasien mengontrol kadar gula darah.  

Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Self Care Behaviour Pada Penderita Hipertensi Di Puskesmas Belimbing Padang Tahun 2025

Shelly Yonira Agustin, Tomi Jepisa, Willady Rasyid
Abstract: Self care behaviour atau perilaku perawatan diri, serangkaian tindakan dan keputusan yang diambil oleh individu untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit dan mengelola kondisi kesehatannya sendiri. Adapun dampak dari tidak&#8230; dak melakukan self care behaviour pada penderita hipertensi dapat menyebabkan risiko terjadinya komplikasi kerusakan pada kardiovaskular, otak, dan ginjal sehingga menyebabkan terjadinya komplikasi beberapa penyakit, seperti stroke, jantung, gagal ginjal. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan self care behaviour pada penderita hipertensi di Puskesmas Belimbing Padang. Metode pada penelitian ini adalah kuantitatif dengan analitik kolerasi dengan desain cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 21–30 April 2025. Penelitian ini telah dilakukan di Puskesmas Belimbing Padang pada bulan April 2025. Populasi seluruh penderita hipertensi yang datang berkunjung ke Puskesmas Belimbing Padang pada bulan September–November 2024 sebanyak 908 orang dengan sampel 90 orang, teknik pengambilan sampel accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Analisa data univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian didapatkan 53,3% memiliki self care behavior rendah, 51,1% memiliki keluarga tidak mendukung. Ada hubungan dukungan keluarga dengan self care behavior pada penderita hipertensi di Puskesmas Belimbing Padang (p value = 0,000). Kesimpulan dari penelitian ini ada hubungan dukungan keluarga dengan self care behaviour pada penderita hipertensi. Diharapkan kepada pihak puskesmas agar dapat melibatkan keluarga dalam peningkatan kepatuhan pasien dalam menjalani perawatan dan pengobatannya seperti memasukkan dukungan keluarga sebagai upaya promosi kesehatan pada pasien hipertensi.  

Hubungan Status Gizi, Asupan Protein, dan Aktivitas Fisik Dengan Kadar Hemoglobin Pada Calon Pendonor Di Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Surabaya

Rr. Nasyanda Callista Zacire, Cleonara Yanuar Dini
Abstract: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kadar hemoglobin sebagai salah satu parameter dalam menentukan kelayakan calon pendonor darah. Kadar hemoglobin diketahui dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya&#8230; ya status gizi, asupan protein, dan aktivitas fisik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi, asupan protein, dan aktivitas fisik dengan kadar hemoglobin pada calon pendonor di Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Surabaya. Penelitian menggunakan metode observasional dengan desain cross-sectional yang melibatkan 170 calon pendonor yang dipilih melalui teknik consecutive sampling. Status gizi diukur berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) melalui pengukuran antropometri, asupan protein dinilai menggunakan kuesioner Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire-Short Form (IPAQ-SF), sedangkan kadar hemoglobin diperoleh dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas PMI Surabaya. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kadar hemoglobin (p=0,207) maupun antara asupan protein dengan kadar hemoglobin (p=0,196). Sebaliknya, aktivitas fisik memiliki hubungan yang signifikan dengan kadar hemoglobin (p=0,011) dengan arah hubungan positif dan kekuatan korelasi yang sangat lemah (r=0,195). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa aktivitas fisik berhubungan secara signifikan dengan kadar hemoglobin pada calon pendonor di UTD PMI Surabaya, sedangkan status gizi dan asupan protein tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kadar hemoglobin.   Kata Kunci : aktivitas fisik, asupan protein, donor darah, hemoglobin, status gizi

Hubungan Kepatuhan Minum Obat Dengan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Belimbing Padang Tahun 2025

Riska Amelia Putri, Vania Aresti Yendrizal, Rebbi Permata Sari
Abstract: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat antihipertensi menjadi salah satu penyebab tekanan darah tidak&#8230; terkontrol sehingga meningkatkan risiko terjadinya komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal. Puskesmas Belimbing Padang merupakan puskesmas dengan jumlah kasus hipertensi tertinggi di Kota Padang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan minum obat dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas Belimbing Padang Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Belimbing Padang pada tanggal 25 Agustus sampai 1 September 2025. Populasi penelitian berjumlah 308 pasien hipertensi dengan sampel sebanyak 75 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Kepatuhan minum obat diukur menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8), sedangkan tekanan darah diukur menggunakan tensimeter dan stetoskop. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 57,3% responden memiliki tekanan darah meningkat, sedangkan 42,7% responden memiliki tingkat kepatuhan minum obat yang rendah. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p-value = 0,001 (p < 0,05) yang menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara kepatuhan minum obat dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas Belimbing Padang Tahun 2025. Disimpulkan bahwa semakin baik kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antihipertensi, maka semakin baik pula pengendalian tekanan darah. Oleh karena itu, tenaga kesehatan diharapkan dapat meningkatkan edukasi, konseling, dan pemantauan kepatuhan minum obat secara berkelanjutan kepada pasien hipertensi dan keluarganya guna mencapai pengendalian tekanan darah yang optimal.