Search Articles & Publications

Showing 3314 articles found for "Sign"

Strategi Pemasaran Pedagang Daging Ayam Di Era Persaingan Pasar: Studi Kasus Di Desa Cumedak Kabupaten Jember

Rikil Muchtar, Neviyani, Denok Mugi Hidayanti
Abstract: Keberadaan pedagang daging ayam skala mikro di pedesaan seringkali terabaikan dalam kebijakan pengembangan usaha, padahal mereka memegang peran vital dalam memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat sekaligus menjadi tulang… ulang punggung ekonomi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara komprehensif strategi pemasaran yang diterapkan oleh pedagang daging ayam di Desa Cumedak, Kabupaten Jember, dalam menghadapi tekanan persaingan pasar yang semakin ketat pasca pandemi. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, penelitian ini melibatkan tiga pedagang sebagai informan utama, serta pembeli dan tokoh masyarakat sebagai informan pendukung. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña serta analisis SWOT sebagai kerangka pemetaan strategis. Hasil penelitian mengungkap bahwa ketiga pedagang mengalami penurunan volume penjualan yang signifikan, berkisar antara 33% hingga 50%, yang mengindikasikan adanya tekanan eksternal struktural. Posisi strategis pedagang secara kolektif berada pada Kuadran III (Turn-Around) dan Kuadran IV (Defensif), yang mengonfirmasi dominasi kelemahan internal dan ancaman eksternal. Kekuatan utama berupa modal sosial dan reputasi terbukti tidak cukup untuk mengimbangi ancaman seperti masuknya pedagang luar desa, fluktuasi harga pakan, dan perubahan perilaku konsumen. Strategi pemasaran yang dijalankan masih bersifat reaktif dan tradisional, sangat bergantung pada promosi dari mulut ke mulut dan hubungan personal. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya intervensi eksternal yang terstruktur, terutama dalam bentuk pendampingan pemasaran digital, akses permodalan yang lebih mudah, dan pelatihan manajemen usaha, untuk membawa pedagang keluar dari posisi defensif menuju usaha yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan. The existence of micro-scale chicken meat traders in rural areas is often overlooked in business development policies, even though they play a vital role in meeting the community's protein needs while serving as the backbone of family economies. This study aims to comprehensively identify and analyze the marketing strategies applied by chicken meat traders in Cumedak Village, Jember Regency, in facing increasingly intense market competition in the post-pandemic era. Using a qualitative approach with a case study type, this research involved three traders as key informants, as well as buyers and community leaders as supporting informants. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation, then analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña model and SWOT analysis as a strategic mapping framework. The results reveal that all three traders experienced significant declines in sales volume, ranging from 33% to 50%, indicating structural external pressures. The traders' collective strategic position lies in Quadrant III (Turn-Around) and Quadrant IV (Defensive), confirming the dominance of internal weaknesses and external threats. Social capital and reputation as main strengths proved insufficient to counter threats such as the entry of outside village traders, fluctuating feed prices, and changing consumer behavior. The marketing strategies employed remain reactive and traditional, heavily reliant on word-of-mouth promotion and personal relationships. The implication of this research is the need for structured external intervention, particularly in the form of digital marketing assistance, easier access to capital, and business management training, to move traders from a defensive position towards a more competitive and sustainable enterprise.

Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Dengan Perilaku Periksa Payudara Sendiri (SADARI) Pada Remaja Putri Pondok Pesantren Ta’ban

Siti Indriyawati, Siti Rochmani, Ida Faridah
Abstract: Latar belakang : Kanker payudara merupakan penyakit yang kini mulai mengancam usia muda, sehingga deteksi dini melalui Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) sangat penting dilakukan sejak usia remaja. SADARI adalah pemeriksaan… iksaan payudara secara teratur dan mandiri oleh wanita itu sendiri yang dapat mengenal tanda-tanda kanker payudara. Meski demikian, fenomena pada remaja putri dengan pemahaman, sikap maupun tindakan SADARI masih tergolong rendah. Rendahnya praktik SADARI juga dipengaruhi oleh edukasi kesehatan payudara yang minim. Ketidaktahuan serta sikap yang belum optimal menjadi kendala utama dalam penerapan SADARI di kalangan remaja. Tujuan : Mengetahui gambaran dan menganalisis hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku periksa payudara sendiri (SADARI) pada remaja putri Pondok Pesantren Ta’ban. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif melalui desain pendekatan cross-sectional. Sampel dalam penelitian adalah 110 responden dengan menggunakan analisis uji Chi-Square (x2). Hasil : Mayoritas responden berada pada kategori remaja tengah sebanyak 55 orang (50,0%) dan berpendidikan terakhir SD sebanyak 76 orang (69,1%). Sebanyak 47 orang (42,7%) memiliki pengetahuan SADARI sedang, 48 orang (43,6%) memiliki sikap SADARI cukup baik, dan 64 orang (58,2%) memiliki perilaku SADARI kurang baik. Hasil uji Chi-Square (x2) menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p = 0,000) dan sikap (p = 0,048) dengan perilaku SADARI. Kesimpulan : Pengetahuan dan sikap memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku periksa payudara sendiri (SADARI) pada remaja putri Pondok Pesantren Ta’ban. Background : Breast cancer is a disease that is now starting to threaten young people, so early detection through Breast Self-Examination (BSE) is crucial from adolescence. BSE is a regular, independent breast examination by women themselves that can identify signs of breast cancer. However, the phenomenon of BSE among adolescent girls with a relatively low understanding, attitude, and practice of BSE is still relatively low. The low practice of BSE is also influenced by minimal breast health education. Ignorance and suboptimal attitudes are the main obstacles to BSE implementation among adolescents. Objectives: To describe and analyze the relationship between knowledge and attitudes with breast self-examination (BSE) behavior in female adolescents at the Ta’ban Islamic Boarding School. Method: methods in this research Using quantitative methods through a cross-sectional approach design. The sample in the study was 110 respondents. Using the Chi-Square test analysis (x2). Results: The majority of respondents were in the middle adolescent category , as many as 55 people (50.0%) and had a final education of elementary school as many as 76 people (69.1%). A total of 47 people ( 42.7 %) had moderate knowledge of BSE, 48 people ( 43.6 %) had a fairly good BSE attitude, and 64 people ( 58.2%) had poor BSE behavior . The results of the Chi-Square test (x2) showed a significant relationship between knowledge ( p = 0.000) and attitude ( p = 0.048) with BSE behavior. Conclusion: Knowledge and attitude have a significant relationship with Breast self-examination (BSE) behavior in female adolescents at the Ta’ban Islamic Boarding School.

Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Anemia Dengan Kepatuhan Konsumsi Tablet Tambah Darah Pada Remaja Putri Di SMK Kesehatan Kabupaten Tangerang

Sekar Bela, Siti Rochmani, Ida Faridah
Abstract: Latar belakang: Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih banyak terjadi pada remaja putri. Salah satu upaya pencegahan anemia adalah konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk… tuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang anemia dengan kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah pada remaja putri di SMK Kesehatan Bina Prestasi Tangerang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi dan sampel dalam penelitian ini berjumlah 115 remaja putri dengan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan tentang anemia dan kepatuhan konsumsi TTD. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan tentang anemia kategori rendah sebanyak 78 orang (67,8%), sedangkan kepatuhan konsumsi TTD sebagian besar berada pada kategori tidak patuh sebanyak 86 orang (74,8%). Hasil uji Chi-Square diperoleh p-value = 0,000 (≤0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan tentang anemia dengan kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah pada remaja putri di SMK Kesehatan Bina Prestasi Tangerang. Background: Anemia is one of the health problems that commonly occurs among adolescent girls. One of the efforts to prevent anemia is the consumption of Iron Supplement Tablets (IST). Objective: This study aimed to determine the relationship between the level of knowledge about anemia and adherence to Iron Supplement Tablets consumption among adolescent girls at SMK Kesehatan Bina Prestasi Tangerang. Methods: This study used a quantitative method with a cross-sectional design. The population and sample consisted of 115 adolescent girls selected using total sampling. Data were collected using questionnaires measuring the level of knowledge about anemia and adherence to Iron Supplement Tablets consumption. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of α = 0.05. Results: Most respondents had a low level of knowledge about anemia, totaling 78 respondents (67.8%), while 86 respondents (74.8%) were categorized as non-adherent to Iron Supplement Tablets consumption. The Chi-Square test resulted in a p-value of 0.000 (≤0.05). Conclusion: There was a significant relationship between the level of knowledge about anemia and adherence to Iron Supplement Tablets consumption among adolescent girls at SMK Kesehatan Bina Prestasi Tangerang.

Hubungan Body Image Dengan Kecemasan Sosial Pada Remaja Kelas X Di SMKN 9 Kota Tangerang

Fitri Dwi Nurfadhilah, Siti Rochmani, Ida Faridah
Abstract: Latar Belakang: Kecemasan sosial disebut sebagai permasalahan kondisi kejiwaan dan banyak remaja terhambat dalam berinteraksi serta menyesuaikan diri dengan lingkungan. Salah satu faktor yang berperan terhadap munculnya… kecemasan sosial adalah body image, yaitu ketika individu memiliki persepsi pada bentuk serta cara berpenampilan dirinya. Meskipun demikian, dari mereka masih banyak yang merasa tidak percaya diri, khawatir terhadap penilaian orang lain, serta cenderung menghindari situasi sosial. Berdasarkan kondisi tersebut, perlu dilakukan penelitian lebih dalam tentang body image dan kecemasan sosial pada remaja kelas X di SMKN 9 Kota Tangerang. Metode: Kuantitatif cross-sectional. Sampel berjumlah 190 responden dengan menggunakan analisis uji Spearman Rank. Hasil: Mayoritas responden berusia remaja periode tengah (94,7%), responden perempuan (71,6%). Responden bermayoritas body image negatif sejumlah 111 (58,4%), kecemasan sosial tinggi sebanyak 75 orang (39,5%). Analisis Spearman Rank (r = -0,728; p = 0,000). Kesimpulan: Persepsi remaja terhadap kondisi, bentuk, dan penampilan fisiknya memiliki keterkaitan yang kuat, berlawanan arah, dan bermakna dengan tingkat rasa cemas yang dialami ketika berinteraksi dalam lingkungan sosial. Pada remaja kelas X di SMKN 9 Kota Tangerang, pandangan yang semakin negatif terhadap diri dan penampilan fisik dapat berkaitan dengan meningkatnya perasaan khawatir, tidak percaya diri, tidak nyaman, serta takut mendapatkan penilaian negatif dari orang lain. Kondisi tersebut dapat membuat remaja merasa lebih cemas ketika berhadapan, berkomunikasi, maupun berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, remaja yang memiliki pandangan lebih positif dan mampu menerima kondisi fisiknya cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah dalam menghadapi berbagai situasi sosial Background: Social anxiety is considered a mental health concern that may hinder many adolescents from interacting and adapting to their environment. One factor associated with the emergence of social anxiety is body image, which refers to an individual's perception of their body shape and appearance. However, many adolescents still experience low self-confidence, worry about others' judgments, and tend to avoid social situations. Based on these conditions, further research is needed to examine body image and social anxiety among tenth-grade students at SMKN 9 Kota Tangerang. Methods: This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. A total of 190 respondents were included, and data were analyzed using the Spearman Rank test. Results: Most respondents were in the middle adolescent period (94.7%) and were female (71.6%). The majority of respondents had a negative body image, accounting for 111 respondents (58.4%), while 75 respondents (39.5%) experienced high levels of social anxiety. The Spearman Rank analysis showed a strong negative correlation (r = -0.728; p = 0.000). Conclusion: Adolescents' perceptions of their physical condition, body shape, and appearance have a strong, inverse, and significant association with the level of anxiety experienced when interacting in social environments. Among tenth-grade students at SMKN 9 Kota Tangerang, increasingly negative perceptions of oneself and one's physical appearance may be associated with greater feelings of worry, low self-confidence, discomfort, and fear of negative evaluation by others. These conditions may cause adolescents to experience greater anxiety when meeting, communicating, and interacting with people in their surroundings. Conversely, adolescents with more positive perceptions and greater acceptance of their physical appearance tend to experience lower levels of anxiety in various social situations.

Relevansi Pedoman Pemidanaan Dalam Mengurangi Disparitas Putusan Hakim Pasca Berlakunya KUHP Nasional

Agus Delima Sumantri, Isfandir Hutasoit, Rian Rusmana Putra
Abstract: Berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP Nasional) membawa perubahan mendasar dalam sistem pemidanaan Indonesia melalui pengaturan pedoman pemidanaan yang bertujuan mewujudkan… udkan konsistensi, proporsionalitas, dan keadilan dalam penjatuhan pidana. Meskipun demikian, praktik peradilan masih menunjukkan adanya disparitas putusan hakim terhadap perkara yang memiliki karakteristik serupa akibat luasnya ruang diskresi dalam menentukan jenis dan berat ringannya pidana. Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi pengaturan pedoman pemidanaan dalam KUHP Nasional terhadap upaya mengurangi disparitas putusan hakim. Penelitian menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan filosofis, perundang-undangan, dan konseptual. Bahan hukum diperoleh melalui studi kepustakaan yang meliputi peraturan perundang-undangan, doktrin, putusan pengadilan, serta berbagai literatur ilmiah yang dianalisis secara kualitatif-normatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pedoman pemidanaan dalam KUHP Nasional memiliki peran strategis sebagai kerangka normatif yang mengarahkan hakim dalam mempertimbangkan tingkat kesalahan pelaku, dampak tindak pidana, keadaan yang memberatkan dan meringankan, serta tujuan pemidanaan secara objektif, proporsional, dan akuntabel. Keberadaan pedoman tersebut tidak mengurangi independensi hakim, melainkan memperkuat kualitas argumentasi hukum dan konsistensi pertimbangan dalam menjatuhkan pidana. Namun, efektivitasnya masih memerlukan dukungan implementasi melalui harmonisasi praktik peradilan, pembentukan yurisprudensi yang konsisten, penyusunan pedoman teknis oleh Mahkamah Agung, serta penguatan koordinasi dalam sistem peradilan pidana terpadu. Dengan demikian, pedoman pemidanaan dalam KUHP Nasional memiliki relevansi yang signifikan dalam mengurangi disparitas putusan hakim sekaligus memperkuat kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan dalam sistem peradilan pidana Indonesia.

HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN KUALITAS TIDUR SAAT MENGHADAPI UJIAN BLOK PADA MAHASISWA SEMESTER PERTAMA PENDIDIKAN DOKTER FKKH UNDANA

Ursula Maria Naitio, Conrad Liab Henricson Folamauk, Sugi Deny Pranoto Soegianto, I Made Artawan
Abstract: Selama masa perkuliahan di kedokteran, ujian blok merupakan rutinitas setiap akhir blok. Hal ini menjadi salah stressor yang sering dialami oleh mahasiswa dan tubuh akan merespon stressor tersebut dalam bentuk perasaan cemas.… emas. Kecemasan sendiri adalah perasaan seseorang ketika memikirkan sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi dimasa depan atau dengan kata lain seperti perasaan khawatir, tidak pasti, gugup dan kegelisahan terhadap suatu hal. Kecemasan yang dialami oleh mahasiswa membuat mereka sulit untuk mengontrol emosinya, yang akan berdampak pada meningkatnya stres dan membuat mereka sulit untuk memulai tidur. Kesulitan memulai tidur ini akan menyebabkan mahasiswa untuk sulit mendapatkan kualitas tidur yang diinginkan. Mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur saat menghadapi ujian blok pada mahasiswa semester pertama Prodi Pendidikan Dokter FKKH Undana. Penelitian ini menggunakan medote analitik dengan desain cross sectional. Total responden 99 orang dengan metode total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner HARS dan PSQI. Didapatkan hasil sebanyak 6 orang (6,1%) tidak mengalami cemas, 55 orang (55,5%) cemas ringan, 29 orang (29,3%) cemas sedang dan cemas berat sebanyak 9 orang (9,1%). Hasil uji korelasi Somers D menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan dengan kekuatan korelasi yang sedang atau cukup kuat antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur dengan nilai p = 0,000 (r=0,429).

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT STRES DENGAN MOTIVASI BELAJAR PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER FKKH UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Felicia Amanda Ratucoreh, Herman Pieter Louis Wungouw, Iswaningsih, Ika Febianti Buntoro
Abstract: Motivasi belajar merupakan suatu keadaan yang ada pada diri sesorang dimana ada suatu dorongan agar melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Motivasi belajar berkaitan erat dengan stres terutama pada mahasiswa. Stres merupakan&#8230; upakan pola reaksi dan adaptasi umum yang dapat berasal dari dalam individu maupun faktor dari luar individu yang bersangkutan, dapat secara nyata maupun tidak nyata. Mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan motivasi belajar pada mahasiswa Program Studi Profesi Dokter FKKH Universitas Nusa Cendana. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode analitik observasional menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Profesi Dokter FKKH Universitas Nusa Cendana yang diambil menggunakan metode probability sampling teknik stratified random sampling dengan jumlah sampel 63 responden. Data yang diperoleh akan diolah menggunakan uji pearson product moment bila berdistribusi normal atau uji rank spearman bila distribusi tidak normal. Hasil uji menggunakan pearson product moment terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan motivasi belajar pada mahasiswa program studi profesi dokter FKKH Universitas Nusa Cendana dengan nilai signifikan p=0,000 (p<0,05). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan motivasi belajar pada mahasiswa program studi profesi dokter FKKH Universitas Nusa Cendana

HUBUNGAN KEHADIRAN BAYI DI POSYANDU DENGAN STATUS GIZI BAYI DI DESA SEMBUNG

Veronika Maga Murri
Abstract: Masalah gizi bayi masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat karena berdampak pada pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kualitas hidup di masa depan. Posyandu merupakan fasilitas kesehatan berbasis masyarakat&#8230; yang berperan penting dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi secara rutin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kehadiran bayi di Posyandu dengan status gizi bayi di Desa Sembung.Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan sampel sebanyak 39 bayi usia 0–12 bulan, yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Variabel yang diteliti meliputi kehadiran bayi di Posyandu sebagai variabel independen dan status gizi berdasarkan indikator BB/U, PB/U, dan BB/PB sebagai variabel dependen. Data dikumpulkan melalui observasi KMS/KIA, wawancara, serta pengukuran antropometri. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Fisher’s Exact Test karena lebih dari 50% sel memiliki nilai harapan <5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar bayi hadir secara rutin di Posyandu (84,6%). Status gizi bayi secara umum berada dalam kategori baik, dengan 92,3% bayi memiliki status gizi normal berdasarkan BB/U, 94,8% berdasarkan PB/U, dan 87,1% berdasarkan BB/PB. Meskipun secara deskriptif bayi yang rutin hadir di Posyandu menunjukkan proporsi status gizi normal yang lebih tinggi, hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kehadiran bayi di Posyandu dengan status gizi berdasarkan BB/U (p = 0,403), PB/U (p > 0,05), maupun BB/PB (p > 0,05) Kesimpulan penelitian ini tidak terdapat hubungan signifikan antara kehadiran bayi di Posyandu dengan status gizi bayi pada seluruh indikator gizi yang diuji. Meskipun demikian, pemantauan rutin tetap penting sebagai upaya deteksi dini masalah gizi dan pencegahan gangguan pertumbuhan.

PENGARUH PEMBERIAN JUS JERUK NIPIS PADA PENDERITA HIPERTENSI DI DESA GAMPIENG CEBREK KECAMATAN KEMBANG TANJONG PIDIE ACEH

Nuraini
Abstract: Hipertensi merupakan kondisi kronis yang sering disebut sebagai “silent killer.” Salah satu pendekatan non-farmakologis dalam pengelolaan hipertensi adalah konsumsi jus jeruk nipis, yang mengandung kalium, vitamin C, dan&#8230; dan flavonoid yang berperan dalam menurunkan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus jeruk nipis terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan one group pre-test dan post-test. Sampel terdiri dari 15 responden yang dipilih secara purposive sampling. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank karena distribusi data tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik yang signifikan setelah pemberian jus jeruk nipis, dengan nilai p-value 0.000 (α < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa jus jeruk nipis efektif dalam menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi dan dapat dijadikan sebagai terapi komplementer dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

PENGARUH PEMBERIAN SUSU KEDELAI TERHADAP PENINGKATAN HEMOGLOBIN PADA IBU HAMIL DENGAN ANEMIA RINGAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SAMBAU KOTA BATAM

Ira Dewi Sutomo, Catur Yulinawati, Nurma Zela, Hazen Aziz
Abstract: Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang menyerang pada ibu hamil. Prevelensi anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Sambau Kota Batam berjumlah seratus dua orang. Salah satu metode non farmakologis&#8230; ogis anemia ada ibu hamil dilakukan dengan cara konsumsi susu kedelai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian susu kedelai terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Sambau Kota Batam. Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperimen dengan design pretest posttest control grup. Jumlah sampel yang diambil oleh peneliti adalah 32 ibu hamil yang mengalami anemia ringan dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan lembar observasi. Analisa data dalam penelitian ini adalah analisa univariat dan bivariat. Hasil penelitian didapatkan bahwa rata-rata kadar hemoglobin sebelum diberikan susu kedelai adalah 10.41 mg/dl, rata-rata kadar hemoglobin sesudah pemberian susu kedelai adalah 11.77 mg/dl. Ada pengaruh pemberian susu kedelai terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Sambau Kota Batam dengan p-value 0.001 (p<0.05).