Abstract:This article examines gender identity within a metaphysical framework by exploring the tension between essentialist and social constructivist paradigms. The core issue addressed in this research is the absence of a conceptual…
ptual framework capable of reconciling these two traditionally opposing approaches. Essentialism regards gender as a fixed, inherent attribute, whereas constructivism emphasizes that gender is shaped by social and cultural practices. The aim of this study is to formulate a hybrid metaphysical model that integrates both perspectives through dialectical synthesis. The methodology employed involves a philosophical literature review with thematic analysis of works published within the last five years. Findings reveal that a relationally grounded hybrid model successfully merges the strengths of both paradigms, offering a more inclusive and applicable approach for social policy development. This model is viewed as critical for advancing academic discourse while also providing a robust philosophical foundation for the recognition and protection of gender diversity in contemporary society.
Abstract:Ekonomi kepesantrenan merupakan konsep ekonomi berbasis pesantren yang berperan dalam pembangunan ekonomi masyarakat sekitar. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi…
nomi melalui berbagai aktivitas usaha seperti koperasi, perdagangan, dan industri kreatif.
Model ekonomi kepesantrenan bertujuan untuk menciptakan kemandirian ekonomi bagi santri serta komunitas pesantren, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber pendanaan eksternal. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana pesantren dapat menjadi pusat pemberdayaan ekonomi dengan mengoptimalkan potensi yang ada. Metode penelitian yang digunakan mencakup studi literatur dan analisis empiris dari berbagai kasus pesantren yang telah berhasil menerapkan model ekonomi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekonomi kepesantrenan memiliki dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat, dengan menciptakan lapangan kerja serta mendukung pengembangan ekonomi lokal. Implementasi model ini diharapkan dapat terus dikembangkan agar semakin banyak pesantren yang mampu berkontribusi secara signifikan terhadap perekonomian nasional.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi evaluasi akuntabilitas kinerja internal (AKIP) pada Perangkat Daerah di Provinsi Jawa Timur berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi…
si Birokrasi (Permen PANRB) Nomor 88 Tahun 2021. Evaluasi AKIP merupakan salah satu komponen dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) yang berfungsi untuk menilai konsistensi dan efektivitas pelaksanaan perencanaan, pengukuran, pelaporan, dan evaluasi internal kinerja secara sistematis.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap 50 perangkat daerah. Informan dipilih secara purposive, terdiri dari anggota Tim Evaluator SAKIP dan pejabat fungsional di Bappeda, Inspektorat, BKD, dan Biro Organisasi Sekretariat Daerah. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan pendekatan interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan evaluasi AKIP telah dilakukan secara sistematik dan berbasis regulasi nasional, tetapi belum sepenuhnya optimal. Terdapat tantangan pada pembaruan regulasi daerah yang masih mengacu pada Peraturan Gubernur Nomor 20 Tahun 2016, rendahnya kompetensi teknis evaluator, serta keterbatasan integrasi sistem informasi antara PMISAKIP dan SIAKIP. Meski 76% Perangkat Daerah meraih predikat “A” dan “AA”, pelaksanaan perencanaan kinerja individu dan tindak lanjut hasil evaluasi masih belum memadai.
Penelitian ini merekomendasikan: (1) pembaruan regulasi lokal agar selaras dengan Permen PANRB No. 88/2021; (2) peningkatan kompetensi evaluator melalui pelatihan manajemen kinerja dan audit kinerja berbasis digital; (3) pengembangan sistem terpadu evaluasi internal; dan (4) penyusunan rekomendasi yang lebih spesifik, terukur, dan aplikatif untuk peningkatan mutu implementasi SAKIP.
Abstract:Tujuan dilaksanakannya penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat keamanan dari Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) di RS XYZ serta mengidentifikasi langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan…
keandalan dan kepatuhan sistem terhadap standar keamanan informasi. Salah satu langkah untuk menilai tingkat keamanan dilakukan dengan menerapkan kerangka kerja COBIT 2019, yang mencakup beberapa domain utama, yaitu Menetapkan dan Memastikan Manajemen Risiko atau EDM03, Mengelola Risiko atau APO12, Mengelola Keamanan atau APO13, Mengelola Data atau APO14, dan Mengelola Keamanan Layanan atau DSS05. Proses audit ini mencakup identifikasi potensi ancaman terhadap keamanan informasi, penilaian risiko, serta evaluasi efektivitas kontrol yang telah diterapkan. Hasil dari penelitian menunjukkan tingkatan kematangan keamanan SIMRS di RS XYZ berada di level 3 (Defined), yang berarti sistem telah memiliki prosedur keamanan yang terdokumentasi, tetapi implementasinya masih perlu diperkuat untuk mencapai tingkat yang lebih optimal. Berdasarkan gap analysis, terdapat selisih satu tingkat dari target yang diharapkan, sehingga perbaikan perlu dilakukan guna meningkatkan ketahanan sistem terhadap ancaman siber. Beberapa langkah strategis yang direkomendasikan meliputi penerapan teknik keamanan lanjutan, seperti vulnerability scanning, penetration testing, Web Application Firewall (WAF), serta sistem deteksi dan pencegahan intrusi (IDS/IPS). Selain itu, peningkatan keamanan fisik dengan pemasangan CCTV, pembatasan akses menggunakan kartu akses atau sidik jari, serta penerapan enkripsi data menjadi aspek penting dalam melindungi informasi pasien. Sertifikasi keamanan, seperti ISO 27001, juga dapat dipertimbangkan untuk memastikan kepatuhan terhadap standar global. Selain itu, peningkatan kompetensi SDM melalui pelatihan berkala terkait keamanan siber dan peningkatan koordinasi internal akan berkontribusi signifikan dalam memperkuat ketahanan sistem informasi di RS XYZ.
Abstract:Peran guru adalah sebagai tenaga pendidik professional, guru memiliki tugas utama yaitu untuk mendidik, mengajar, membimbing mengarahkan, Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan layanan konseling individu…
ividu terhadap siswa yang melanggar tata tertib sekolah di SMA Negeri 6 Seram Bagian Barat, khususnya pada kelas XI-IPS. Pelanggaran tata tertib seperti membolos, merokok, dan berkelahi menjadi tantangan yang berulang, sementara sekolah belum memiliki guru Bimbingan dan Konseling (BK) tetap. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari lima siswa pelanggar tata tertib dan dua orang guru sebagai informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan konseling individu mampu membantu siswa memahami permasalahan, menumbuhkan kesadaran diri, dan merancang solusi perilaku. Teknik konseling seperti reframing, role playing, dan CBT diterapkan secara kontekstual. Sebagian siswa menunjukkan perubahan perilaku yang positif, sementara lainnya masih memerlukan pendampingan berkelanjutan. Penelitian ini menegaskan pentingnya konseling individu sebagai pendekatan humanistik dalam membina disiplin dan tanggung jawab siswa di tengah keterbatasan sistem pendukung sekolah
Abstract:Penanaman nilai-nilai spiritual pada anak sejak usia dini merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian yang berlandaskan iman. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penggunaan nyanyian rohani…
ani anak yang berbasis cerita Alkitab sebagai media pendidikan yang efektif dalam meningkatkan spiritualitas anak. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dalam penelitian ini, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi terhadap kegiatan pembelajaran di lingkungan gereja dan sekolah minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nyanyian rohani yang dikaitkan dengan cerita Alkitab mampu membangkitkan ketertarikan anak, memperkuat pemahaman nilai-nilai Kristen, serta menumbuhkan hubungan pribadi anak dengan Tuhan. Melalui lagu-lagu yang mudah diingat dan mengandung pesan moral, anak-anak tidak hanya belajar tentang kisah-kisah Alkitab, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai spiritual secara menyenangkan dan bermakna. Dengan demikian, nyanyian rohani berbasis cerita Alkitab terbukti efektif sebagai media pendidikan yang mendukung pertumbuhan spiritual anak secara holistik.
Abstract:Pertumbuhan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, namun tantangan dalam meningkatkan pendapatan transaksi masih menjadi permasalahan mendasar. Pendapatan…
dapatan transaksi UMKM, sebagai indikator kinerja keuangan, mencerminkan seberapa besar hasil penjualan barang atau jasa yang diterima pelaku usaha dalam periode tertentu (Budiarsih, 2022). Meningkatnya persaingan usaha serta perubahan perilaku konsumen mendorong UMKM untuk mencari solusi digital yang adaptif agar tetap kompetitif (Mustagfiroh & Supriyadi, 2024). Dalam konteks ini, strategi digitalisasi sistem pembayaran menjadi perhatian utama untuk meningkatkan efektivitas transaksi dan efisiensi operasional. Meskipun terdapat berbagai pendekatan untuk mendorong peningkatan pendapatan, digitalisasi transaksi keuangan dinilai sebagai salah satu cara paling signifikan dalam memperluas akses pasar dan efisiensi layanan (Indriani & Rahman, 2024). Dengan demikian, pemahaman tentang faktor-faktor yang mendorong pendapatan transaksi UMKM menjadi penting sebagai dasar penyusunan strategi penguatan sektor ini.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Hindu pada materi Tri Guna melalui penerapan model pembelajaran Cooperative Learning di kelas VIII SMP Negeri 2 Lembo Raya Tahun Pelajaran 2023/2024.…
024. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar dan kurangnya keaktifan siswa dalam pembelajaran konvensional. Penelitian dilakukan dalam dua siklus dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.
Pada siklus I, aktivitas guru mencapai 86%, aktivitas siswa 78%, ketuntasan klasikal 73%, dan nilai rata-rata 72,63. Hasil ini menunjukkan perlunya perbaikan strategi. Pada siklus II, dilakukan penyempurnaan dalam pelaksanaan pembelajaran, yang menghasilkan peningkatan signifikan: aktivitas guru menjadi 95%, aktivitas siswa 89%, ketuntasan klasikal mencapai 100%, dan nilai rata-rata meningkat menjadi 82,36.
Penerapan model Cooperative Learning terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar dan mendorong keaktifan siswa. Selain itu, model ini juga membentuk sikap positif seperti tanggung jawab, gotong royong, dan kepedulian. Dengan demikian, model ini tidak hanya meningkatkan aspek akademik, tetapi juga mendukung pembentukan karakter siswa.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Hindu pada materi Sraddha siswa kelas VII SMP Negeri 1 Soyo Jaya Tahun Pelajaran 2023/2024 melalui penerapan model pembelajaran Cooperative Learning.…
ing. Latar belakang penelitian ini berangkat dari rendahnya hasil belajar siswa serta kurangnya keaktifan dalam proses pembelajaran konvensional yang selama ini diterapkan. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Pada siklus pertama, pelaksanaan pembelajaran belum optimal. Guru masih kurang efektif dalam membimbing kegiatan kelompok, dan sebagian siswa belum aktif dalam diskusi. Hasil observasi menunjukkan bahwa aktivitas guru mencapai 86% dan aktivitas siswa sebesar 78%, dengan tingkat ketuntasan klasikal hanya 73% dan nilai rata-rata 72,63. Hal ini menandakan bahwa pembelajaran perlu ditingkatkan lagi. Pada siklus kedua, perbaikan dilakukan baik dari sisi strategi pengajaran maupun pengelolaan kelas. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Aktivitas guru mencapai 95%, aktivitas siswa naik menjadi 89%, dan ketuntasan belajar klasikal mencapai 100% dengan nilai rata-rata sebesar 82,36. Dengan pencapaian ini, siklus dihentikan pada tahap kedua. Peningkatan hasil belajar ini menunjukkan bahwa model Cooperative Learning efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi. Melalui pembelajaran kelompok, siswa lebih aktif berdiskusi, saling membantu, dan termotivasi untuk belajar bersama. Selain berdampak pada hasil akademik, model ini juga menanamkan nilai-nilai karakter seperti tanggung jawab, gotong-royong, kepedulian, dan saling percaya. Dengan demikian, penerapan model Cooperative Learning tidak hanya meningkatkan hasil belajar siswa, tetapi juga membentuk sikap positif dalam interaksi sosial dan pembentukan karakter siswa.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Hindu pada materi kepemimpinan siswa kelas IX SMP Negeri 2 Petasia Barat Satu Atap Tahun Pelajaran 2023/2024 melalui penerapan model pembelajaran…
Cooperative Learning. Latar belakang penelitian ini berangkat dari rendahnya hasil belajar siswa serta kurangnya keaktifan dalam proses pembelajaran konvensional yang selama ini diterapkan. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Pada siklus pertama, pelaksanaan pembelajaran belum optimal. Guru masih kurang efektif dalam membimbing kegiatan kelompok, dan sebagian siswa belum aktif dalam diskusi. Hasil observasi menunjukkan bahwa aktivitas guru mencapai 86% dan aktivitas siswa sebesar 78%, dengan tingkat ketuntasan klasikal hanya 73% dan nilai rata-rata 72,63. Hal ini menandakan bahwa pembelajaran perlu ditingkatkan lagi. Pada siklus kedua, perbaikan dilakukan baik dari sisi strategi pengajaran maupun pengelolaan kelas. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Aktivitas guru mencapai 95%, aktivitas siswa naik menjadi 89%, dan ketuntasan belajar klasikal mencapai 100% dengan nilai rata-rata sebesar 82,36. Dengan pencapaian ini, siklus dihentikan pada tahap kedua. Peningkatan hasil belajar ini menunjukkan bahwa model Cooperative Learning efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi. Melalui pembelajaran kelompok, siswa lebih aktif berdiskusi, saling membantu, dan termotivasi untuk belajar bersama. Selain berdampak pada hasil akademik, model ini juga menanamkan nilai-nilai karakter seperti tanggung jawab, gotong-royong, kepedulian, dan saling percaya. Dengan demikian, penerapan model Cooperative Learning tidak hanya meningkatkan hasil belajar siswa, tetapi juga membentuk sikap positif dalam interaksi sosial dan pembentukan karakter siswa.