Abstract:Antimicrobial resistance has driven the urgent need to develop new antibacterial candidates with favorable efficacy, pharmacokinetic properties, and safety profiles. Aaptamine derivatives, secondary metabolites isolated…
from marine sponges of the genus Aaptos, have demonstrated potential as drug candidates; however, studies evaluating their drug-likeness, Absorption, Distribution, Metabolism, and Excretion (ADME) properties, and toxicity profiles remain limited. This study aimed to prioritize aaptamine, demethyl(oxy)aaptamine, and isoaaptamine as potential antibacterial candidates through SwissADME and ProTox-II analyses using an in silico approach. The results demonstrated that all three compounds satisfied the Lipinski's Rule of Five criteria for drug-likeness, exhibited high gastrointestinal absorption, and achieved a bioavailability score of 0.55. All compounds were predicted to belong to toxicity class 4, with predicted LD₅₀ values of 1300 mg/kg for aaptamine, 500 mg/kg for demethyl(oxy)aaptamine, and 1350 mg/kg for isoaaptamine, while none showed hepatotoxic or cytotoxic properties. The integrated analysis indicated that isoaaptamine exhibited the most balanced drug-likeness, ADME profile, and safety characteristics, making it the highest-priority antibacterial candidate. This study concludes that the integration of SwissADME and ProTox-II provides an effective preliminary approach for screening marine natural product-derived drug candidates. The novelty of this study lies in the integrated application of drug-likeness, ADME, and toxicity analyses to systematically prioritize three aaptamine derivatives, thereby providing a more comprehensive lead compound selection strategy for antibacterial drug discovery.
Abstract:Dalam era globalisasi dan persaingan kerja yang semakin kompetitif, tuntutan terhadap produktivitas individu mengalami peningkatan signifikan. Salah satu konsekuensi dari kondisi ini adalah munculnya fenomena toxic productivity,…
ctivity, yaitu dorongan berlebihan untuk terus produktif bahkan di luar jam kerja yang seharusnya. Individu yang mengalami toxic productivity cenderung merasa bersalah saat beristirahat, mengabaikan kebutuhan fisik dan psikologis, serta merasakan tekanan internal maupun eksternal untuk terus bekerja tanpa henti (Dwipa, 2023). Penelitian ini dilakukan melalui metode psikoedukasi secara webinar yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman karyawan mengenai toxic productivity. Hasil psikoedukasi menunjukkan peningkatan pemahaman materi yang disampaikan terhadap karyawan di PT. Midi Utama Indonesia, tbk Branch Makasar, hal ini ditunjukkan dengan peningkatan jawaban skor rata-rata peserta pada saat melakukan post-test dibandingkan dengan saat melakukan pre-test
Abstract:Abstract: Sea urchin is one of the fisheries resources products where its gonad can be consumed either in fresh or processed. Unfortunately, sea urchin has not been consumed due to society suspicion that may cause death…
if sea urchin gonad consumed. Thereby, we need to educate the society by instructing them in a participatory way on how to consume and cultivate sea urchin cultivation with a floating net cage. This work was conducted at Desa Lambangan Office (February 2020–March 2020) by involving 25 fishermen and 30 students from Gorontalo State University as the fellows of the society. The results of the counseling and practicing that conducted at desa Lambangan had been switched the paradigm of society that was formerly assuming sea urchin as a marine organism that has toxicity to be an organism that could be consumed and traded. Furthermore, the fishermen have overcome and able to handle how to build a floating net cage for the cultivation of sea urchins that they have learned in simulation on how to make floating net cage of sea urchins.
Keywords: sea urchin; counseling; floating net cage
Abstrak: Bulu Babi (sea urchin) merupakan salah satu produk perikanan penting yang telurnya dapat dikonsumsi baik dalam keadaan segar maupun olahan. Sayangnya Bulu Babi belum dimanfaatkan karena dianggap beracun dan bila dikonsumsi dapat menimbulkan kematian. Karena itu, perlu dilakukan edukasi pada masyarakat melalui kegiatan penyuluhan bagaimana cara mengonsumsi dan membudidayakan Bulu Babi dengan sistem keramba jaring apung. Kegiatan ini dilaksanakan di desa Lambangan, kecamatan Pagimana, Sulawesi Tengah selama dua bulan (Februari 2020–Maret 2020 dengan melibatkan 25 masyarakat nelayan dan 30 mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo sebagai pendamping masyarakat. Hasil dari kegiatan penyuluhan dan simulasi yang kami laksanakan telah mengubah paradigma masyarakat yang tadinya menganggap Bulu Babi sebagai biota laut beracun menjadi sesuatu yang dapat dikonsumsi dan dapat diperjualbelikan di pasar-pasar lokal. Selain itu, masyarakat juga telah menguasai dan mampu menerapkan konstruksi keramba budi daya Bulu Babi yang dilaksanakan melalui metode praktik simulasi pembuatan keramba jaring apung.
Kata kunci: Bulu Babi; penyuluhana; keramba jaring apung
Abstract:Automatic detection of hate speech and abusive language is crucial for combating online toxicity. This study explores Gaussian Naive Bayes for multi-label classification of hate speech on Indonesian Twitter, including target,…
rget, category, and level. We combined TF-IDF features with contextual BERT embeddings. The model achieved balanced performance for general hate speech and good non-abusive language detection. However, it exhibited limitations with imbalanced data and specific hate speech types. The classifier consistently favored the majority class (non-hateful/non-abusive) across labels, particularly struggling with HS_Gender, HS_Physical, etc. This suggests difficulty detecting less frequent but potentially severe hate speech, likely due to limited training data. Overall accuracy and F1-scores confirm that while Gaussian Naive Bayes is efficient, it lacks robustness for nuanced multi-label classification with imbalanced datasets. This necessitates exploring alternative approaches for effectively detecting specific and less frequent hate speech.
Abstract:This study examines the frenemy relationship between Emily and Stephanie in A Simple Favor. Their friendship is complex, blending admiration, competition, and manipulation. Stephanie looks up to Emily but also struggles…
with insecurity, while Emily enjoys maintaining control over Stephanie. Using a qualitative method, this research identifies key factors contributing to their frenemy dynamic, including social comparison, insecurity, past betrayals, and cultural expectations. The findings reveal that their relationship is shaped by both emotional dependence and hidden rivalry, leading to an unstable and toxic bond. Finally, the study highlights how friendships can mask deeper conflicts, where trust and betrayal coexist.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh lingkungan keluarga toxic dan kompetensi guru terhadap hasil belajar siswa. Penelitian metode kuantitatif deskriptif yaitu metode yang di arahkan memecahkan masalah…
salah dengan cara menggambarkan atau memaparkan apa adanya dari hasil penelitian. Penggunaan metode deskriptif ini di dukung oleh beberapa teknik pengumpulan data salah satunya kuesioner/angket, dengan metode pengambilan sampel sebanyak 48 responden di MTs Al-Huda Cisaat dengan menggunakan menggunakan beberapa pengujian statistik diantaranya: validitas, realibilitas, tabel distribusi frekuensi, normalitas, homogenitas, linearitas, auto kolerasi, multikolinearitas, heteroskedastisitas, kolerasi, regresi,Uji T, dan koefesien determinasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1). Lingkungan keluarga toxic berpengaruh terhadap hasil belajar hal ini di tunjukan oleh hasil perhitungan nilai koefisien kolerasi sebesar 0,746 dan nilai t hitung 7.586 > t tabel 2,687 serta hasil koefesien determinasi sebesar 55,6. Hal ini menunjukan bahwa 55,6% hasil belajar di pengaruhi oleh lingkungan keluarga toxic. 2). kompetensi guru berpengaruh terhadap hasil belajar hal ini di tunjukan oleh nilai koefesien kolerasi sebesar 0,868 dan nilia t hitung 11,879>t tabel 2,687 serta hasil koefesien determinasi sebesar 75,6. Hal ini menunjukan bahwa 75,6% hasil belajar di pengaruhi oleh kompetensi guru. 3). Lingkungan keluarga toxic dan kompetensi guru berpengaruh terhadap hasil belajar hal ini di tunjukan oleh nilai koefesien kolerasi 0,870 dan nilai signifikan 0,000 < 0,05 serta hasil koefesien Determinasi sebesar 75,7. Hal ini menunjukan bahwa 75,7% hasil belajar di pengaruhi oleh lingkungan keluarga toxic dan kompetensi guru.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk meneliti dari tentang toxic relationship yang terjadi pada remaja di indonesia, dimana toxic relationship sering terjadi pada perempuan yang menjadi korban toxic relationship. Toxic relationship…
nship dapat dialami antara pasangan, teman, kolega, dan bahkan anggota keluarga. Hubungan yang seperti ini rentan sekali membuat penderitanya menjadi tidak produktif, terjadinya gangguan secara mental, hingga dapat memicu terjadinya sebuah emosional yang berujung pada terjadinya tindak kekerasan. Ciri toxic relationship berupa kemarahan, ketidakbahagiaan, stres, frustrasi, serta beragam gangguan yang dilakukan pada sebuah hubungan. Dan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui harapan dan harga diri terhadap kebahagiaan pada orang yang mengalami toxic relationship dengan kesehatan psikologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran terhadap toxic relationship dimulai dengan pengenalan dan identifikasi diri dalam hubungan toxic relationship. Dampaknya meliputi stres emosional, depresi, dan penurunan kualitas hidup. Mereka juga menciptakan ruang bagi pertumbuhan pribadi dan perubahan positif setelah keluar dari hubungan yang merugikan. Pertumbuhan positif melibatkan perubahan pola pikir, peningkatan kepercayaan diri, dan kemampuan menetapkan batasan hubungan. Dukungan sosial dan profesional memainkan peran penting dalam proses pemulihan.