Abstract:The advancement of digital technology has encouraged the adoption of e-counseling as an integral component of guidance and counseling services in schools. While the use of digital-based services enhances accessibility and…
d flexibility, it also presents various ethical challenges and professional demands for school counselors. This study aims to identify the ethical challenges associated with school-based e-counseling, analyze the professional considerations required of counselors, and examine the interrelationship among ethics, professionalism, and institutional support in the implementation of e-counseling services. The study employed a Systematic Literature Review (SLR) method guided by the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) framework through a comprehensive search of articles indexed in Google Scholar, GARUDA, ERIC, Scopus, and ProQuest published between 2015 and 2025. The findings reveal that the primary challenges of e-counseling include data confidentiality, client privacy, digital information security, professional boundaries, and limitations in nonverbal communication. The results further indicate that digital competence, adherence to professional ethical standards, and institutional support from schools are critical factors influencing the effectiveness of e-counseling services. This study contributes a conceptual synthesis that positions ethics, counselors’ digital professionalism, and institutional governance as three interrelated pillars essential for the development of safe, ethical, and professional e-counseling practices within school settings.
Abstract:The advancement of digital technology has accelerated the adoption of Artificial Intelligence (AI) in e-counseling services to enhance the accessibility and efficiency of psychological support. While offering numerous benefits,…
nefits, the use of AI also presents challenges related to the quality of therapeutic relationships, privacy, data security, and ethical considerations. This study aims to analyze the role of AI, its impacts, and the ethical challenges emerging in e-counseling services through a Systematic Literature Review (SLR) approach. Data were collected from Google Scholar, GARUDA, ScienceDirect, SAGE Journals, and Crossref, covering publications from 2018 to 2026. The review of 13 selected articles revealed that AI serves as a supportive tool through chatbots, data analytics, preliminary assessments, and automated response systems that help expand access to counseling services and improve service responsiveness. The implementation of AI contributes positively by increasing efficiency and accessibility; however, it remains limited in understanding emotions, demonstrating empathy, and comprehending clients’ psychological contexts. The findings also indicate that privacy, data security, algorithmic transparency, and accountability constitute the primary ethical challenges that require careful attention. This study concludes that AI is more appropriately positioned as a complement to counselors rather than a substitute for human counselors. The novelty of this study lies in its integrated analysis of the roles, impacts, and ethical challenges of AI within a single framework, thereby providing a more comprehensive understanding of the development of e-counseling based on collaborative interaction between technology and professional counselors.
Abstract:Contemporary congregational spirituality faces significant challenges due to the rise of individualism, competition, and self-centered orientations that hinder the practice of humility, service, and unity among believers.…
. This condition highlights the importance of a strong theological foundation for cultivating Christ-centered spirituality. This study aims to examine the concept of the ethics of the cross in Philippians 2:5–11 from the perspective of Pauline Christology, identify the ethical values embedded within the passage, and explain their implications for congregational spiritual formation. The study employs a qualitative method with a theological-expository approach through library research and exegetical analysis of Philippians 2:5–11. The findings reveal that the ethics of the cross is rooted in Christ’s self-emptying, His taking the form of a servant, His obedience unto death on the cross, and His subsequent exaltation by God. This ethical framework is expressed through three principal values: relinquishing personal rights and privileges, serving with humility, and demonstrating complete obedience to the will of God. The findings further indicate that congregational spiritual formation should be centered on the transformation of the mind, a life characterized by service, and communal relationships that reflect the character of Christ. The novelty of this study lies in its formulation of the ethics of the cross as a systematic and Christ-centered model of spiritual formation that bridges Pauline Christology and the spiritual development of contemporary congregations.
Abstract:Kegiatan psikoedukasi tentang etika dan cara berkomunikasi dengan penyandang disabilitas dilakukan di PT Bumi Karsa sebagai upaya meningkatkan pemahaman karyawan terhadap komunikasi inklusif di lingkungan kerja. Berdasarkan…
kan hasil need assessment melalui penyebaran kuesioner dan observasi awal, ditemukan bahwa sebagian besar karyawan masih memiliki keterbatasan pengetahuan dan rasa percaya diri saat berinteraksi dengan rekan penyandang disabilitas. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim BKP melaksanakan intervensi psikoedukasi menggunakan media poster karena mampu menyampaikan informasi secara ringkas, visual, dan mudah dipahami. Poster memuat materi mengenai pengertian disabilitas, jenis-jenis disabilitas, serta etika komunikasi yang tepat. Poster dipasang pada area strategis dan diunggah melalui portal internal perusahaan. Hasil observasi lanjutan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dan pemahaman karyawan mengenai komunikasi inklusif, ditandai dengan respons positif serta meningkatnya kepercayaan diri karyawan dalam berinteraksi dengan penyandang disabilitas. Secara keseluruhan, kegiatan psikoedukasi ini efektif dalam memperluas wawasan karyawan, mendukung terciptanya lingkungan kerja yang lebih inklusif, dan memberikan pengalaman pembelajaran aplikatif bagi mahasiswa BKP dalam merancang intervensi berbasis kebutuhan lapangan.
Abstract:Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Ilmu Komunikasi UNIBI yang bertajuk Sosialisasi tentang Kunci Sukses Berkomunikasi di Dunia Digital bagi Generasi Z ini dilaksanakan di SMKN 10 Bandung. Kegiatan…
ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan kompetensi komunikasi digital para siswa siswi, tidak hanya dari aspek teknis, tetapi juga nilai moral dan sosial. Permasalahan yang diangkat meliputi: masih minimnya pemahaman etika dalam bermedia sosial, belum optimalnya pemanfaatan internet, serta masih rendahnya kompetensi dalam berkomunikasi digital. Metode yang digunakan yaitu ceramah dan tanya jawab. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kesadaran peserta untuk lebih bijak dalam bermedia sosial, seperti berpikir terlebih dahulu sebelum memposting konten. Selain itu, peserta juga mendapatkan wawasan tentang potensi internet sebagai sarana pembelajaran dan pengembangan diri. Diikuti dengan pemahaman tentang keunikan komunikasi digital, seperti pentingnya pemilihan kata dan konteks, juga berhasil tersampaikan dengan baik. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang tepat dapat membekali Generasi Z dengan keterampilan komunikasi digital yang lebih etis dan efektif.
Abstract:Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengidentifikasi metode rekrutmen karyawan yang paling efektif dalam sektor logistik, khususnya dengan membandingkan tes seleksi berbasis daring dan tatap muka. Metode yang…
ang digunakan adalah pendekatan studi pustaka (library research) untuk menggali pengoptimalisasian rekrutmen karyawan melalui tes tatap muka dan daring di perusahaan logistik. Melalui pendampingan dan simulasi proses rekrutmen pada perusahaan yang bergerak dalam bidang logistik di Kota Makassar, ditemukan bahwa metode rekrutmen tatap muka lebih unggul dan memberikan hasil yang lebih komprehensif dan akurat daripada rekrutmen daring. Tes tatap muka memungkinkan perekrut untuk menilai komunikasi non-verbal, etika kerja, dan kesiapan fisik kandidat secara langsung, aspek yang sulit diperoleh melalui seleksi daring. Meskipun tes daring menawarkan efisiensi dari sisi waktu dan biaya, pendekatan tatap muka terbukti lebih efektif dalam menjaring calon tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri logistik. Namun, rekrutmen tatap muka masih terdapat beberapa kelemahan. Dengan demikian, rekrutmen secara hybrid direkomendasikan sebagai metode utama dalam optimalisasi seleksi tenaga kerja di sektor logistik.
Abstract:Kebijakan strategis Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dikenal sebagai Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) bertujuan untuk meningkatkan pengalaman belajar mahasiswa di luar kampus, salah satunya…
atunya melalui magang. Artikel ini berfokus pada pengalaman dan kontribusi mahasiswa dalam magang MBKM di Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (DISPARBUDPORA) Kota Palangka Raya, dengan penekanan khusus pada layanan administrasi umum kepegawaian. Selama empat bulan pengabdian, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yang melibatkan observasi langsung, wawancara, dokumentasi, dan refleksi kegiatan mahasiswa. Hasil menunjukkan bahwa mahasiswa terlibat secara aktif dalam berbagai proses administrasi pegawai, termasuk mengelola data pegawai, menyusun surat dinas, dan pengarsipan. Mereka juga belajar tentang sistem digitalisasi kearsipan melalui aplikasi SRIKANDI yang digunakan oleh organisasi. Kehadiran mahasiswa meningkatkan produktivitas kerja. Kegiatan ini membentuk disiplin, etika birokrasi, dan keterampilan manajerial mahasiswa selain memberikan kontribusi nyata bagi instanti tempat magang. Hasil ini menegaskan bahwa kolaborasi antara praktik lapangan dan dunia pendidikan tinggi sangat penting untuk memperkuat tata kelola pemerintahan. Untuk meningkatkan produktivitas kegiatan magang di masa mendatang, artikel ini menyarankan pembuatan modul kerja magang yang lebih terorganisir.
Abstract:Penggunaan media digital di kalangan remaja yang semakin intensif tanpa diimbangi pemahaman tentang privasi digital telah menimbulkan berbagai risiko, seperti penyalahgunaan data pribadi, cyberbullying, dan penyebaran hoaks.…
oaks. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran remaja tentang pentingnya privasi digital melalui psikoedukasi dengan tema "Think Before Share". Metode yang digunakan meliputi penyampaian materi interaktif, diskusi kasus, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Peserta terdiri dari 30 siswa SMP Negeri 33 Makassar. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pemahaman peserta, dengan rata-rata skor pre-test 19,90 meningkat menjadi 34,00 pada post-test (p=0,000). Analisis statistik mengonfirmasi efektivitas intervensi dalam menanamkan prinsip 5W (Who, What, Where, When, Why) sebagai panduan berinternet yang bertanggung jawab. Kegiatan ini juga berhasil membangun kesadaran kolektif tentang etika digital di kalangan remaja. Temuan ini merekomendasikan perlunya integrasi literasi digital dalam kurikulum sekolah untuk menciptakan budaya berinternet yang aman dan empatik
Abstract:Pendidikan hukum bagi generasi muda merupakan aspek penting dalam membentuk kesadaran hukum di masyarakat. Namun, siswa di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sering kali memiliki keterbatasan akses terhadap informasi…
si hukum yang relevan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa PKBM Insan Cendekia Batam mengenai aspek hukum yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari serta dampak teknologi dalam konteks hukum. Penyuluhan ini menggabungkan dua bidang keilmuan, yaitu ilmu hukum dan ilmu komputer, untuk memberikan wawasan yang komprehensif mengenai perlindungan hukum di era digital. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini mencakup pemaparan materi secara interaktif, studi kasus, serta simulasi penggunaan teknologi dalam memahami dan mengatasi permasalahan hukum, seperti cybercrime, etika digital, dan perlindungan data pribadi. Hasil dari penyuluhan ini menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terhadap hak dan kewajiban hukum, serta kesadaran akan risiko hukum di dunia digital. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan siswa PKBM Insan Cendekia Batam dapat lebih bijak dalam berinteraksi di dunia maya serta memahami konsekuensi hukum dari setiap tindakan yang dilakukan, baik dalam kehidupan nyata maupun digital.
Abstract:Sopan santun adalah sikap dan perilaku yang mencerminkan penghormatan serta penghargaan terhadap orang lain, yang merupakan elemen fundamental dalam kehidupan sosial sehari-hari. Sopan santun dianggap sebagai norma tidak…
tertulis yang mengatur interaksi manusia, dan harus ditanamkan sejak dini, terutama kepada siswa, agar mereka dapat mengembangkan kepribadian yang baik. Dalam konteks ini, guru memiliki peran krusial dalam mendidik dan menanamkan nilai-nilai sopan santun kepada generasi muda. Pentingnya sopan santun tidak dapat dipisahkan dari etika pergaulan, yang mencerminkan moralitas setiap individu. Di sekolah, siswa seringkali berinteraksi dengan berbagai pihak, termasuk teman sebaya dan guru. Oleh karena itu, pemahaman tentang norma-norma sopan santun sangat diperlukan agar mereka dapat berperilaku sesuai dengan harapan sosial. Sopan santun dapat dianggap sebagai norma tidak tertulis yang mengatur bagaimana seharusnya kita bersikap atau berperilaku dalam interaksi.