Search Articles & Publications

Showing 3148 articles found for "Inter"

Pengaruh Permainan Pipe Block Terhadap Motorik Halus Siswa Autis Di Islamic Kids House Buah Hati Kita Jember

Rifatul Hasanah, Nostalgianti Citra Prystiananta, Rosika Novia Megaswarie
Abstract: Autisme merupakan kondisi perkembangan saraf yang dapat berpengaruh pada berbagai ranah perkembangan anak, termasuk komunikasi, interaksi sosial, perhatian, dan keterampilan motorik. Salah satu kemampuan yang dapat mengalami… lami hambatan adalah motorik halus, yaitu kemampuan menggunakan otot-otot kecil secara terkoordinasi untuk melakukan aktivitas yang memerlukan ketepatan gerak. Hambatan tersebut dapat memengaruhi keterlibatan anak dalam kegiatan belajar maupun aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan kemampuan motorik halus seorang siswa autis di Islamic Kids House Buah Hati Kita Jember setelah memperoleh stimulasi melalui permainan pipe block. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Single Subject Research (SSR) dan desain A-B. Subjek penelitian merupakan siswa autis TK A berinisial NA yang menunjukkan hambatan pada keterampilan motorik halus. Data dikumpulkan melalui observasi dan tes perbuatan, kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan grafik serta analisis dalam kondisi dan antar kondisi. Persentase kemampuan pada fase baseline berturut-turut adalah 40%, 45%, dan 55%. Pada fase intervensi, persentase meningkat menjadi 65%, 75%, 80%, 80%, dan 85%. Analisis antar kondisi memperlihatkan perubahan level sebesar 10% dengan persentase overlap 0%. Pola tersebut menunjukkan adanya peningkatan performa setelah intervensi diberikan. Dengan demikian, pipe block berpotensi menjadi media pembelajaran konkret yang dapat digunakan untuk memberikan latihan motorik halus pada siswa autis. Autism is a neurodevelopmental condition that can affect various domains of a child's development, including communication, social interaction, attention, and motor skills. One of the abilities that may be impaired is fine motor skills, which refer to the coordinated use of small muscles to perform activities requiring precise movements. These difficulties can affect children's participation in learning activities and daily life tasks. This study aimed to analyze changes in the fine motor skills of an autistic student at Islamic Kids House Buah Hati Kita Jember after receiving stimulation through pipe block play activities. The study employed a quantitative approach using the Single Subject Research (SSR) method with an A-B design. The research subject was an autistic kindergarten student (TK A), identified by the initials NA, who demonstrated difficulties in fine motor skills. Data were collected through observation and performance tests, then analyzed descriptively using graphical analysis, within-condition analysis, and between-condition analysis. The percentages of performance during the baseline phase were 40%, 45%, and 55%, respectively. During the intervention phase, the percentages increased to 65%, 75%, 80%, 80%, and 85%. Between-condition analysis showed a level change of 10% with an overlap percentage of 0%. This pattern indicates an improvement in performance following the intervention. Therefore, pipe blocks have the potential to serve as a concrete instructional medium for providing fine motor skill training to autistic students.

Implementasi Konsep Ekonomi Kreatif Pada UMKM Kuliner Tradisional Ubi Bakar Madu Jangkat

Rissa Kharisma, Agung Darmawan, Putri Wulan Ramadani, Nilam Gustian
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan konsep ekonomi kreatif pada UMKM kuliner tradisional melalui studi kasus pada usaha Ubi Bakar Madu. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, penelitian… itian ini menelusuri faktor non-finansial seperti kreativitas, inovasi produk, strategi pemasaran berbasis budaya, dan pelestarian nilai tradisional sebagai elemen utama keberlanjutan usaha. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ubi Bakar Madu berhasil mengimplementasikan konsep ekonomi kreatif melalui inovasi produk berbahan lokal, promosi yang menonjolkan nilai budaya, serta upaya menjaga proses produksi tradisional. Kreativitas, reputasi merek, dan nilai budaya menjadi modal utama yang mendorong ketahanan dan daya saing usaha tanpa ketergantungan besar pada modal finansial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sinergi antara inovasi, budaya, dan kreativitas merupakan kunci keberlanjutan UMKM kuliner tradisional di era ekonomi kreatif. This study aims to analyze the application of the creative economy concept to traditional culinary MSMEs through a case study of the Honey Baked Sweet Potato business. Using a qualitative method with a case study approach, this study explores non-financial factors such as creativity, product innovation, culture-based marketing strategies, and the preservation of traditional values as key elements of business sustainability. Data were collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman model. The results show that Honey Baked Sweet Potato successfully implemented the creative economy concept through product innovation using local ingredients, promotions that emphasize cultural values, and efforts to maintain traditional production processes. Creativity, brand reputation, and cultural values are the main assets that drive business resilience and competitiveness without heavy dependence on financial capital. This study concludes that the synergy between innovation, culture, and creativity is the key to the sustainability of traditional culinary MSMEs in the creative economy era.

Strategi Pemasaran Pedagang Daging Ayam Di Era Persaingan Pasar: Studi Kasus Di Desa Cumedak Kabupaten Jember

Rikil Muchtar, Neviyani, Denok Mugi Hidayanti
Abstract: Keberadaan pedagang daging ayam skala mikro di pedesaan seringkali terabaikan dalam kebijakan pengembangan usaha, padahal mereka memegang peran vital dalam memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat sekaligus menjadi tulang… ulang punggung ekonomi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara komprehensif strategi pemasaran yang diterapkan oleh pedagang daging ayam di Desa Cumedak, Kabupaten Jember, dalam menghadapi tekanan persaingan pasar yang semakin ketat pasca pandemi. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, penelitian ini melibatkan tiga pedagang sebagai informan utama, serta pembeli dan tokoh masyarakat sebagai informan pendukung. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña serta analisis SWOT sebagai kerangka pemetaan strategis. Hasil penelitian mengungkap bahwa ketiga pedagang mengalami penurunan volume penjualan yang signifikan, berkisar antara 33% hingga 50%, yang mengindikasikan adanya tekanan eksternal struktural. Posisi strategis pedagang secara kolektif berada pada Kuadran III (Turn-Around) dan Kuadran IV (Defensif), yang mengonfirmasi dominasi kelemahan internal dan ancaman eksternal. Kekuatan utama berupa modal sosial dan reputasi terbukti tidak cukup untuk mengimbangi ancaman seperti masuknya pedagang luar desa, fluktuasi harga pakan, dan perubahan perilaku konsumen. Strategi pemasaran yang dijalankan masih bersifat reaktif dan tradisional, sangat bergantung pada promosi dari mulut ke mulut dan hubungan personal. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya intervensi eksternal yang terstruktur, terutama dalam bentuk pendampingan pemasaran digital, akses permodalan yang lebih mudah, dan pelatihan manajemen usaha, untuk membawa pedagang keluar dari posisi defensif menuju usaha yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan. The existence of micro-scale chicken meat traders in rural areas is often overlooked in business development policies, even though they play a vital role in meeting the community's protein needs while serving as the backbone of family economies. This study aims to comprehensively identify and analyze the marketing strategies applied by chicken meat traders in Cumedak Village, Jember Regency, in facing increasingly intense market competition in the post-pandemic era. Using a qualitative approach with a case study type, this research involved three traders as key informants, as well as buyers and community leaders as supporting informants. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation, then analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña model and SWOT analysis as a strategic mapping framework. The results reveal that all three traders experienced significant declines in sales volume, ranging from 33% to 50%, indicating structural external pressures. The traders' collective strategic position lies in Quadrant III (Turn-Around) and Quadrant IV (Defensive), confirming the dominance of internal weaknesses and external threats. Social capital and reputation as main strengths proved insufficient to counter threats such as the entry of outside village traders, fluctuating feed prices, and changing consumer behavior. The marketing strategies employed remain reactive and traditional, heavily reliant on word-of-mouth promotion and personal relationships. The implication of this research is the need for structured external intervention, particularly in the form of digital marketing assistance, easier access to capital, and business management training, to move traders from a defensive position towards a more competitive and sustainable enterprise.

Hubungan Body Image Dengan Kecemasan Sosial Pada Remaja Kelas X Di SMKN 9 Kota Tangerang

Fitri Dwi Nurfadhilah, Siti Rochmani, Ida Faridah
Abstract: Latar Belakang: Kecemasan sosial disebut sebagai permasalahan kondisi kejiwaan dan banyak remaja terhambat dalam berinteraksi serta menyesuaikan diri dengan lingkungan. Salah satu faktor yang berperan terhadap munculnya… kecemasan sosial adalah body image, yaitu ketika individu memiliki persepsi pada bentuk serta cara berpenampilan dirinya. Meskipun demikian, dari mereka masih banyak yang merasa tidak percaya diri, khawatir terhadap penilaian orang lain, serta cenderung menghindari situasi sosial. Berdasarkan kondisi tersebut, perlu dilakukan penelitian lebih dalam tentang body image dan kecemasan sosial pada remaja kelas X di SMKN 9 Kota Tangerang. Metode: Kuantitatif cross-sectional. Sampel berjumlah 190 responden dengan menggunakan analisis uji Spearman Rank. Hasil: Mayoritas responden berusia remaja periode tengah (94,7%), responden perempuan (71,6%). Responden bermayoritas body image negatif sejumlah 111 (58,4%), kecemasan sosial tinggi sebanyak 75 orang (39,5%). Analisis Spearman Rank (r = -0,728; p = 0,000). Kesimpulan: Persepsi remaja terhadap kondisi, bentuk, dan penampilan fisiknya memiliki keterkaitan yang kuat, berlawanan arah, dan bermakna dengan tingkat rasa cemas yang dialami ketika berinteraksi dalam lingkungan sosial. Pada remaja kelas X di SMKN 9 Kota Tangerang, pandangan yang semakin negatif terhadap diri dan penampilan fisik dapat berkaitan dengan meningkatnya perasaan khawatir, tidak percaya diri, tidak nyaman, serta takut mendapatkan penilaian negatif dari orang lain. Kondisi tersebut dapat membuat remaja merasa lebih cemas ketika berhadapan, berkomunikasi, maupun berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, remaja yang memiliki pandangan lebih positif dan mampu menerima kondisi fisiknya cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah dalam menghadapi berbagai situasi sosial Background: Social anxiety is considered a mental health concern that may hinder many adolescents from interacting and adapting to their environment. One factor associated with the emergence of social anxiety is body image, which refers to an individual's perception of their body shape and appearance. However, many adolescents still experience low self-confidence, worry about others' judgments, and tend to avoid social situations. Based on these conditions, further research is needed to examine body image and social anxiety among tenth-grade students at SMKN 9 Kota Tangerang. Methods: This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. A total of 190 respondents were included, and data were analyzed using the Spearman Rank test. Results: Most respondents were in the middle adolescent period (94.7%) and were female (71.6%). The majority of respondents had a negative body image, accounting for 111 respondents (58.4%), while 75 respondents (39.5%) experienced high levels of social anxiety. The Spearman Rank analysis showed a strong negative correlation (r = -0.728; p = 0.000). Conclusion: Adolescents' perceptions of their physical condition, body shape, and appearance have a strong, inverse, and significant association with the level of anxiety experienced when interacting in social environments. Among tenth-grade students at SMKN 9 Kota Tangerang, increasingly negative perceptions of oneself and one's physical appearance may be associated with greater feelings of worry, low self-confidence, discomfort, and fear of negative evaluation by others. These conditions may cause adolescents to experience greater anxiety when meeting, communicating, and interacting with people in their surroundings. Conversely, adolescents with more positive perceptions and greater acceptance of their physical appearance tend to experience lower levels of anxiety in various social situations.

Transformasi Sistem Kesehatan Melalui Integrasi Ketahanan Gizi Berbasis Precision Public Health

Bhakti Wiranti
Abstract: Transformasi sistem kesehatan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pelayanan kuratif, tetapi juga pada pencegahan, ketahanan gizi, dan pemanfaatan data secara presisi. Kajian ini bertujuan menganalisis… is integrasi ketahanan gizi berbasis Precision Public Health dalam memperkuat resiliensi sistem kesehatan. Dengan pendekatan mixed methods sequential explanatory, kajian mengombinasikan analisis kuantitatif dan kualitatif untuk menilai hubungan antara integrasi data gizi, stratifikasi risiko, tata kelola kesehatan, dan kapasitas adaptif sistem. Hasil kajian menunjukkan bahwa ketahanan gizi perlu diposisikan sebagai determinan strategis dalam transformasi sistem kesehatan, bukan sekadar luaran kebijakan pangan. Integrasi data gizi dengan data sosial, lingkungan, epidemiologi, dan spasial memungkinkan intervensi yang lebih tepat sasaran, pengembangan sistem peringatan dini, serta peningkatan kapasitas sistem menghadapi krisis global. Temuan ini memperluas kerangka Precision Public Health dan Health System Resilience dengan menempatkan ketahanan gizi sebagai penghubung antara sistem pangan, data, pencegahan penyakit, dan tata kelola kesehatan. Implikasinya adalah perlunya interoperabilitas data lintas sektor dan kebijakan kesehatan yang lebih prediktif, adaptif, berkeadilan, dan berkelanjutan.  The transformation of the health system requires an approach that focuses not only on curative care, but also on prevention, nutritional resilience, and the precise use of data. This study aims to analyse the integration of nutritional resilience based on Precision Public Health in strengthening the resilience of the health system. Using a sequential explanatory mixed-methods approach, the study combines quantitative and qualitative analyses to assess the relationship between the integration of nutritional data, risk stratification, health governance, and the system’s adaptive capacity. The study’s findings indicate that nutritional resilience must be positioned as a strategic determinant in health system transformation, rather than merely an outcome of food policy. The integration of nutritional data with social, environmental, epidemiological, and spatial data enables more targeted interventions, the development of early warning systems, and an enhancement of the system’s capacity to cope with global crises. These findings expand the frameworks of Precision Public Health and Health System Resilience by positioning nutritional resilience as a link between food systems, data, disease prevention, and health governance. The implications are the need for cross-sectoral data interoperability and health policies that are more predictive, adaptive, equitable, and sustainable.

Kriminalisasi Tindak Pidana Terhadap Agama Dalam KUHP Nasional Dalam Perspektif Kebebasan Beragama

Eriq Dwi Cahyono, Isfandir Hutasoit, Rian Rusmana Putra
Abstract: Penelitian ini menganalisis kriminalisasi tindak pidana terhadap agama dalam KUHP Nasional ditinjau dari perspektif kebebasan beragama. Permasalahan penelitian berangkat dari kebutuhan menyeimbangkan perlindungan terhadap… p kehidupan beragama, ketertiban umum, dan kerukunan antarumat beragama dengan jaminan kebebasan berpikir, berkeyakinan, dan berekspresi sebagai hak fundamental. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Bahan hukum dianalisis secara kualitatif-preskriptif dengan menghubungkan ketentuan tindak pidana terhadap agama dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP dengan prinsip kebebasan beragama dan batas pembatasan hak asasi manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriminalisasi terhadap agama harus ditempatkan secara restriktif, objektif, dan proporsional agar tidak memasuki wilayah keyakinan internal atau forum internum. Perubahan pengaturan dari Pasal 156a KUHP lama menuju Pasal 300 KUHP Nasional menunjukkan pergeseran dari istilah “penyalahgunaan” dan “penodaan” menuju perbuatan yang lebih spesifik berupa permusuhan, kebencian, serta hasutan untuk melakukan kekerasan atau diskriminasi terhadap agama atau kepercayaan. Penjelasan Pasal 300 juga memberikan ruang bagi ucapan atau tulisan yang bersifat objektif, terbatas pada kalangan sendiri, dan ilmiah sepanjang tidak mengandung permusuhan, kebencian, atau penghasutan. Dengan demikian, kriminalisasi dapat selaras dengan kebebasan beragama apabila diarahkan pada perbuatan konkret yang mengganggu hak orang lain, keamanan, atau ketertiban umum, disertai rumusan yang jelas dan penerapan yang tidak diskriminatif. Penelitian ini menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara perlindungan kehidupan beragama dan penghormatan terhadap kebebasan beragama dalam penerapan KUHP Nasional. Prinsip tersebut penting untuk mencegah overkriminalisasi, menjaga kepastian hukum, dan memastikan hukum pidana tidak digunakan untuk menyeragamkan keyakinan atau membatasi perbedaan penafsiran keagamaan yang sah dalam masyarakat demokratis.

Analisis Yuridis Pidana Pengawasan Sebagai Alternatif Pemidanaan Dalam Perspektif KUHP Baru

Insan Romodon, Ispandir Hutasoit, Rian Rusmana Putra
Abstract: Pembaruan hukum pidana melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana menghadirkan pidana pengawasan sebagai salah satu jenis pidana pokok yang bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap… dap pidana penjara sekaligus mewujudkan sistem pemidanaan yang lebih humanis, proporsional, dan berorientasi pada rehabilitasi pelaku. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara yuridis pengaturan pidana pengawasan sebagai alternatif pemidanaan dalam perspektif KUHP Baru serta mengkaji kesesuaiannya dengan tujuan pemidanaan, asas keseimbangan, dan arah pembaruan hukum pidana nasional. Penelitian menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Bahan hukum diperoleh melalui studi kepustakaan yang terdiri atas bahan hukum primer dan sekunder, kemudian dianalisis secara kualitatif melalui interpretasi dan penalaran hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pidana pengawasan merupakan implementasi paradigma pemidanaan modern yang mengedepankan individualisasi pidana, rehabilitasi, reintegrasi sosial, dan keadilan restoratif tanpa mengabaikan perlindungan masyarakat. Pengaturannya dalam KUHP Baru didukung oleh Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan yang memperkuat mekanisme pembimbingan melalui Balai Pemasyarakatan, Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang memberikan legitimasi kepada hakim dalam memilih jenis pidana secara proporsional, serta Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang menjadi landasan filosofis pendekatan pembinaan. Meskipun demikian, efektivitas implementasi pidana pengawasan masih memerlukan penguatan regulasi pelaksana, peningkatan kapasitas kelembagaan, koordinasi antaraparat penegak hukum, dan pedoman penerapan yang lebih komprehensif agar tujuan pemidanaan dapat diwujudkan secara optimal dalam praktik peradilan pidana di Indonesia.

PENGARUH PEMBERIAN JUS JERUK NIPIS PADA PENDERITA HIPERTENSI DI DESA GAMPIENG CEBREK KECAMATAN KEMBANG TANJONG PIDIE ACEH

Nuraini
Abstract: Hipertensi merupakan kondisi kronis yang sering disebut sebagai “silent killer.” Salah satu pendekatan non-farmakologis dalam pengelolaan hipertensi adalah konsumsi jus jeruk nipis, yang mengandung kalium, vitamin C, dan&#8230; dan flavonoid yang berperan dalam menurunkan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus jeruk nipis terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan one group pre-test dan post-test. Sampel terdiri dari 15 responden yang dipilih secara purposive sampling. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank karena distribusi data tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik yang signifikan setelah pemberian jus jeruk nipis, dengan nilai p-value 0.000 (α < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa jus jeruk nipis efektif dalam menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi dan dapat dijadikan sebagai terapi komplementer dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

EFEKTIFITAS TERAPI KOMBINASI AROMATERAPI LEMON DAN RELAKSASI BENSON DALAM MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI RW 04 KELURAHAN SITUGEDE KOTA BOGOR TAHUN 2025

Syifa Khoerunnisa, Emi Yuliza, Nurul Ainul Shifa
Abstract: Hipertensi merupakan masalah kesehatan kronis yang banyak dialami masyarakat dan dapat meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular apabila tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, selain terapi farmakologis diperlukan&#8230; kan pula terapi nonfarmakologis sebagai upaya pendukung dalam pengendalian tekanan darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas terapi kombinasi aromaterapi lemon dan relaksasi Benson terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pra-eksperimental one group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 20 responden penderita hipertensi yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Wilcoxon Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tekanan darah sistolik sebelum intervensi sebesar 162,95 mmHg dan diastolik 100,35 mmHg, kemudian menurun menjadi 141,50 mmHg dan 88,50 mmHg setelah intervensi. Uji Wilcoxon menunjukkan p-value 0,000 (p < 0,05). Terapi kombinasi aromaterapi lemon dan relaksasi Benson efektif menurunkan tekanan darah penderita hipertensi.

EFEKTIVITAS INTERVENSI NON-FARMAKOLOGIS DALAM MANAJEMEN DISMENOR PADA REMAJA PUTRI: Tinjauan Literatur

Dita Dwilestari, Kartika Adyani
Abstract: Pendahuluan: Dismenore merupakan masalah kesehatan yang sering dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas serta kualitas hidup. Terapi non-farmakologis banyak digunakan sebagai alternatif penanganan nyeri haid karena&#8230; arena relatif aman, namun efektivitasnya belum dirangkum secara komprehensif dalam bentuk tinjauan literatur. Metode: Penelitian ini merupakan tinjauan literatur naratif. Pencarian artikel dilakukan melalui Google Scholar dan PubMed menggunakan kata kunci dysmenorrhea, adolescent, dan non-pharmacological therapy dengan rentang publikasi tahun 2015–2025. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara deskriptif. Hasil: Sebanyak 14 artikel dianalisis. Hasil menunjukkan bahwa berbagai terapi non-farmakologis, seperti senam dismenore, yoga, aromaterapi, kompres hangat, terapi musik, dan relaksasi napas dalam, efektif menurunkan intensitas nyeri dismenore pada remaja putri. Intervensi berbasis aktivitas fisik dan relaksasi memberikan hasil penurunan nyeri yang lebih optimal. Kesimpulan: Terapi non-farmakologis efektif digunakan sebagai alternatif manajemen nyeri dismenore pada remaja putri. Implikasi praktisnya adalah perlunya edukasi dan penerapan terapi tersebut sebagai upaya perawatan mandiri. Penelitian lanjutan disarankan untuk memperkuat bukti dengan desain yang lebih kuat dan evaluasi jangka panjang.