Abstract:Advances in information and communication technology have brought significant changes to various aspects of life, including education. Technology is not just the application of knowledge, but also the improvement of processes…
esses and targets that enable one generation to use the knowledge of the previous generation as a basis for action. As technology advances, the use of website-based systems has become a key solution to address these issues. Website-based information systems offer various advantages, such as configurable and direct data access according to needs, as well as ease of data management through a user-friendly user interface. Errors in student and teacher data are generally caused by several factors, such as minimal data security training, malware attacks, and the lack of effective data backup mechanisms. This is the case with the Marsudirini SDK, where student and teacher data security relies solely on a single government system, the Basic Education Data. The Waterfall method was chosen in this study because of its characteristic focus on step-by-step completion, where each stage must be completed perfectly before proceeding to the next. This approach is considered appropriate for developing student and teacher data archiving applications.
Abstract:This study aims to determine the results of the development of interactive mobile-based learning media containing problem-based learning in information and communication technology subjects. The research method used in the…
he study is descriptive qualitative. With data collection techniques used are observation, documentation, interviews. The results of this study indicate that the development of interactive learning media based on the Problem Based Learning model can improve students' creative thinking skills in the subject Based on the results of the study above, it can be concluded that interactive mobile-based learning containing problem-based learning / problem-based learning can help facilitate the delivery of learning materials to students of Kalembu Kutura private junior high schools in information and communication technology subjects.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Corporate Social Responsibility (CSR) Starbucks dalam pengelolaan sampah serta keterkaitannya dengan nilai ekonomi kopi di Desa Sait Buttu Saribu, Kecamatan Pamatang Sidamanik,…
manik, Kabupaten Simalungun. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pengurus bank sampah, petani kopi, dan perangkat desa yang dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan dan pengetahuan mereka terhadap program CSR serta pengelolaan sampah di wilayah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CSR Starbucks berperan sebagai pendorong awal dalam meningkatkan perhatian masyarakat terhadap persoalan sampah di lingkungan perkebunan kopi melalui pembinaan, pemberian dorongan, serta dukungan terhadap penguatan Bank Sampah Desa Sait Buttu. Dukungan tersebut berkaitan dengan perubahan praktik masyarakat, terutama berkurangnya kebiasaan membakar sampah plastik di lahan pertanian dan meningkatnya perhatian terhadap kebersihan lingkungan perkebunan. Perubahan praktik tersebut kemudian berkaitan dengan meningkatnya pemahaman masyarakat bahwa kebersihan lingkungan merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas kopi. Dari aspek ekonomi, informan menyampaikan adanya peningkatan harga cherry kopi dari sekitar Rp4.000 menjadi Rp15.000–Rp20.000 per kilogram. Namun, perubahan harga tersebut tidak dapat dinyatakan sebagai akibat langsung CSR Starbucks karena nilai jual kopi dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa peran CSR Starbucks pada tingkat desa tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga mendorong perubahan praktik masyarakat yang memiliki keterkaitan dengan perhatian terhadap kualitas dan keberlanjutan ekonomi komoditas kopi.
This study aims to analyze the role of Starbucks’ Corporate Social Responsibility (CSR) in waste management and its relationship with the economic value of coffee in Sait Buttu Saribu Village, Pamatang Sidamanik District, Simalungun Regency. This study employed a descriptive qualitative approach. Data were collected through in-depth interviews with waste bank managers, coffee farmers, and village officials selected purposively based on their involvement in CSR programs and waste management practices. The findings indicate that Starbucks’ CSR serves as an initial driver in increasing community awareness of waste issues in coffee plantation areas through mentoring, encouragement, and support for strengthening the Sait Buttu Village Waste Bank. This support is associated with changes in community practices, particularly a reduction in plastic waste burning on agricultural land and increased attention to plantation cleanliness. These changes are also associated with greater awareness that environmental cleanliness contributes to maintaining coffee quality. From an economic perspective, informants reported an increase in coffee cherry prices from approximately IDR 4,000 to IDR 15,000–20,000 per kilogram. However, this increase cannot be attributed directly to Starbucks’ CSR because coffee prices are influenced by various other factors. Overall, Starbucks’ CSR contributes not only to environmental awareness but also to changes in community practices related to coffee quality and economic sustainability.
Abstract:TELISIK+ 2026 merupakan program pengabdian kepada masyarakat berbasis komunitas yang dirancang untuk mengatasi ketimpangan akses persiapan Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) sekaligus membekali peserta dengan…
ngan kapasitas akademik dan keterampilan masa depan. Program ini mengusung pendekatan high-tech meets high-touch yang memadukan pembelajaran berbantuan kecerdasan buatan dengan pendampingan tutor secara langsung, dan terdiri atas empat program yang saling terhubung: bantuan buku UTBK, kelas daring UTBK, penulisan ilmiah dan publikasi, serta pengembangan website edukasi berbasis AI. Kegiatan dilaksanakan secara daring pada 16 Januari–20 April 2026 menggunakan kerangka planning, organizing, actuating, controlling (POAC) dan dievaluasi secara deskriptif-evaluatif dengan kerangka RE-AIM. Hasil pelaksanaan menunjukkan 36 peserta menerima bantuan buku persiapan UTBK, 36 sesi pembelajaran terselenggara pada tujuh subtes bersama 18 tutor, serta 24 peserta menyelesaikan seluruh subtes tryout dengan rerata skor 616,3 dan reliabilitas instrumen yang tinggi (Cronbach's alpha 0,897). Sebanyak 34 peserta diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur SNBP 2026. Platform digital yang dikembangkan telah mengarsipkan 2.273 butir soal UTBK dan 1.950 butir soal SKD, serta menjangkau 551 pengguna aktif terverifikasi. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi pemerataan sumber belajar, mentoring humanistik, dan teknologi AI dapat membentuk ekosistem pendidikan komunitas yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.
TELISIK+ 2026 is a community-based educational initiative designed to address inequality in access to preparation for the National Student Admission Selection (SNPMB) while equipping participants with academic capacity and future-oriented skills. The program adopts a high-tech meets high-touch approach that combines AI-supported learning with direct human mentoring, and comprises four interconnected programs: the UTBK Book Assistance Equity Program, the Online UTBK Learning Program, the Scientific Writing, Research, and Publication Program, and the AI-Based Educational Website Development Program. The activities were conducted online from January 16 to April 20, 2026, following the planning, organizing, actuating, and controlling (POAC) framework and evaluated through a descriptive-evaluative approach using the RE-AIM framework. The implementation resulted in 36 participants receiving UTBK preparation books, 36 learning sessions delivered across seven subtests by 18 tutors, and 24 participants completing all subtests of the practice test with a mean score of 616.3 and high instrument reliability (Cronbach's alpha of 0.897). A total of 34 participants were admitted to public higher education institutions through the 2026 SNBP pathway. The developed platform has archived 2,273 UTBK items and 1,950 SKD items, reaching 551 verified active users. These findings indicate that integrating equitable learning resources, human-centered mentoring, and AI technology can form an inclusive, adaptive, and sustainable community-based educational ecosystem.
Abstract:Program bilingual di madrasah tidak hanya bertujuan mengenalkan bahasa Inggris, tetapi juga dapat digunakan untuk membangun kebiasaan komunikasi yang santun. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mendampingi siswa MI Nurul…
urul Hidayah dalam membangun kebiasaan komunikasi positif melalui program “Speak Good, Act Good”. Metode yang digunakan adalah pendampingan langsung dan berkelanjutan yang meliputi observasi awal, pengenalan ungkapan bahasa Inggris sederhana, praktik komunikasi, pembiasaan, evaluasi, dan tindak lanjut bersama guru. Ungkapan yang digunakan meliputi Please, Thank You, Sorry, dan Excuse Me yang diterapkan dalam situasi komunikasi sehari-hari di madrasah. Data kegiatan diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil pendampingan menunjukkan adanya perubahan positif pada keberanian dan kebiasaan siswa dalam menggunakan ungkapan bahasa Inggris sederhana. Berdasarkan hasil observasi deskriptif, seluruh indikator kemampuan dan kebiasaan komunikasi siswa menunjukkan peningkatan setelah mengikuti pendampingan. Siswa mulai lebih berani menggunakan bahasa Inggris dan menunjukkan komunikasi yang lebih santun kepada guru maupun teman. Keterlibatan guru juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program melalui English Corner, daily expressions, dan habit tracker. Program “Speak Good, Act Good” dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menggabungkan pembelajaran bilingual dengan penguatan karakter dan budaya komunikasi positif di madrasah.
Bilingual programs in madrasahs are not only intended to introduce English but can also be used to build polite communication habits among students. This community service program aimed to assist students at MI Nurul Hidayah in developing positive communication habits through the “Speak Good, Act Good” program. The program used a direct and continuous mentoring method consisting of initial observation, introduction of simple English expressions, communication practice, habituation, evaluation, and follow-up activities with teachers. The expressions used included Please, Thank You, Sorry, and Excuse Me, which were practiced in students’ daily communication at school. Data were collected through observation, interviews, and documentation and were analyzed descriptively. The results showed positive changes in students’ confidence and habits in using simple English expressions. Descriptive observation results showed improvement across all indicators of students’ communication skills and positive communication habits after the mentoring activities. Students became more confident in using simple English expressions and showed more polite communication with teachers and peers. Teacher involvement also played an important role in maintaining the program through activities such as English Corner, daily expressions, and habit tracker. The “Speak Good, Act Good” program can be a simple approach to combining bilingual learning with character development and positive communication culture in the madrasah environment.
Abstract:Koperasi memiliki posisi strategis dalam mendukung aktivitas ekonomi dan pemberdayaan masyarakat di tingkat desa, tetapi keberlanjutan perannya sangat dipengaruhi oleh kualitas tata kelola dan kapasitas pengelola. Kegiatan…
an Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas pengurus dan masyarakat Desa Taman Sari, Kabupaten Pesawaran, dalam pencatatan keuangan, penyusunan laporan keuangan sederhana, dan pemenuhan administrasi perpajakan. Kegiatan dilaksanakan pada 13 Juni 2026 dengan melibatkan 30 peserta yang terdiri atas pengurus koperasi, perangkat desa, pelaku usaha, dan masyarakat. Metode yang digunakan adalah participatory learning melalui identifikasi kebutuhan, penyampaian materi, diskusi interaktif, studi kasus, praktik penyusunan laporan keuangan, simulasi administrasi perpajakan, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan kehadiran peserta sebesar 100%, nilai rata-rata post-test 85,67, dan peningkatan pengetahuan sebesar 16,29%. Seluruh capaian melampaui indikator keberhasilan yang ditetapkan, yaitu kehadiran minimal 80%, nilai post-test minimal 75, dan peningkatan pengetahuan minimal 15%. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kombinasi pembelajaran konseptual dan praktik memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual bagi peserta. Namun, peningkatan skor belum dapat diperlakukan sebagai bukti perubahan praktik jangka panjang sehingga diperlukan pendampingan dan monitoring pascapelatihan. Kegiatan ini memberikan model awal penguatan tata kelola keuangan koperasi berbasis kebutuhan mitra yang mengintegrasikan akuntansi, perpajakan, dan literasi digital.
Cooperatives play a strategic role in supporting village-level economic activities and community empowerment, but the sustainability of this role is strongly influenced by governance quality and managerial capacity. This Community Service Program was conducted to strengthen the capacity of cooperative managers and community members in Taman Sari Village, Pesawaran Regency, particularly in financial recording, simple financial statement preparation, and tax administration. The program was conducted on June 13, 2026, with 30 participants consisting of cooperative managers, village officials, business actors, and community members. A participatory learning approach was applied through needs identification, material delivery, interactive discussion, case studies, financial statement practice, taxation simulations, and evaluation using pre-tests and post-tests. The results showed a 100% attendance rate, an average post-test score of 85.67, and a 16.29% increase in knowledge. All outcomes exceeded the predetermined success indicators: at least 80% attendance, a minimum post-test score of 75, and at least a 15% increase in knowledge. The results indicate that combining conceptual learning with practical exercises provided participants with a more contextual learning experience. However, the increase in evaluation scores cannot yet be interpreted as evidence of long-term changes in practice; therefore, post-training assistance and monitoring are required. This program provides an initial model for strengthening cooperative financial governance through a needs-based integration of accounting, taxation, and digital literacy.
Abstract:Migrasi pekerja Indonesia ke luar negeri, termasuk ke Taiwan, terus menunjukkan tren peningkatan setiap tahun, sehingga Taiwan menjadi salah satu negara tujuan utama Pekerja Migran Indonesia (PMI) di kawasan Asia Timur.…
Namun, tingginya angka migrasi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan pemahaman hukum PMI mengenai hak, kewajiban, dan mekanisme perlindungan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan PMI rentan mengalami eksploitasi kerja, pemotongan gaji secara ilegal, penahanan dokumen, serta potensi tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui Program International Community Service (Student International Community Service) Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) di Taiwan dengan tujuan meningkatkan pemahaman hukum PMI mengenai hak-hak dasar, prosedur pengaduan resmi, dan pencegahan TPPO. Metode pelaksanaan meliputi ceramah interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, simulasi pengaduan, serta pembagian modul saku dwibahasa yang dilaksanakan di tiga lokasi konsentrasi PMI, yaitu Taipei, Taoyuan, dan Kaohsiung, dengan melibatkan 115 peserta. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata skor pemahaman hukum peserta dari 50,4 pada pre-test menjadi 82,4 pada post-test atau meningkat sebesar 63,5%. Tingkat kepuasan peserta terhadap kegiatan mencapai 92% dalam kategori puas dan sangat puas. Kegiatan ini menunjukkan bahwa program International Student Community Service dapat menjadi model pengabdian lintas negara yang efektif sekaligus bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat perlindungan hukum bagi diaspora pekerja Indonesia di luar negeri.
The migration of Indonesian workers abroad, including to Taiwan, continues to show an increasing trend every year, making Taiwan one of the main destination countries for Indonesian Migrant Workers (PMI) in the East Asian region. However, the high migration rate has not been fully balanced with PMI's legal understanding of the rights, obligations, and protection mechanisms regulated in Law Number 18 of 2017 concerning the Protection of Indonesian Migrant Workers, so that PMI is vulnerable to labor exploitation, illegal salary deductions, document detention, and potential trafficking in persons (TPPO). This community service activity is carried out through the International Community Service Program (Student International Community Service) of the University of Muhammadiyah Bengkulu (UMB) in Taiwan, with the aim of increasing PMI's legal understanding of basic rights, official complaint procedures, and prevention of trafficking. The implementation methods included interactive lectures, group discussions, case studies, complaint simulations, and the distribution of bilingual pocket modules, which were carried out in three PMI concentration locations, namely Taipei, Taoyuan, and Kaohsiung, involving 115 participants. The results of the evaluation showed an increase in the average legal understanding score of participants from 50.4 in the pre-test to 82.4 in the post-test, or an increase of 63.5%, with the level of satisfaction with the activity reaching 92% in the satisfied and very satisfied categories. This activity shows that the International Student International Community Serviceprogram can be an effective model of cross-border community service as well as a form of university contribution in strengthening legal protection for the diaspora of Indonesian workers abroad.
Abstract:Sampah organik rumah tangga di Desa Sukarami, Kecamatan Seluma Selatan, selama ini belum dikelola secara optimal dan sebagian besar hanya dibuang atau dibakar, sementara peternak lokal menghadapi tekanan biaya akibat kenaikan…
aikan harga pakan ternak pabrikan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan sosialisasi dan edukasi kepada warga mengenai budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi ganda, yaitu mengurangi volume sampah organik sekaligus menyediakan sumber pakan ternak alternatif yang murah dan bergizi. Kegiatan dilaksanakan oleh Tim KKN Kelompok 46 dengan metode presentasi interaktif dan diskusi tanya jawab bersama warga. Materi yang disampaikan mencakup profil biologis maggot BSF (Hermetia illucens), siklus hidup, alur proses budidaya, kandungan gizi, alat dan bahan yang dibutuhkan, serta manfaat budidaya maggot dari aspek lingkungan, ekonomi, peternakan, dan sosial. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman dan antusiasme warga terhadap potensi budidaya maggot BSF sebagai peluang usaha rumahan sekaligus solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi warga Desa Sukarami untuk mengembangkan budidaya maggot BSF secara mandiri di lingkungan masing-masing.
Household organic waste in Sukarami Village, South Seluma Sub-district, has not been optimally managed and is largely discarded or burned, while local livestock farmers face rising costs of manufactured feed. This community service activity aimed to socialize and educate residents on Black Soldier Fly (BSF) maggot cultivation as a dual solution for reducing organic waste volume while providing an affordable and nutritious alternative livestock feed source. The activity was carried out by KKN Group 46 through lectures, interactive presentations, and discussion sessions with residents. The material covered the biological profile of BSF maggots (Hermetia illucens), their life cycle, the cultivation process flow, nutritional content, required tools and materials, and the environmental, economic, livestock, and social benefits of maggot cultivation. The results showed an increase in residents' understanding and enthusiasm toward the potential of BSF maggot cultivation as a household business opportunity and a sustainable waste management solution. This activity is expected to be an initial step for Sukarami Village residents to independently develop BSF maggot cultivation in their respective environments.
Abstract:Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner di Kota Tebing Tinggi memiliki potensi besar dalam menggerakkan perekonomian lokal. Namun, banyak pelaku usaha masih menghadapi kendala keterbatasan modal untuk mengembangkan…
an usahanya. Salah satu solusi pembiayaan yang sesuai dengan prinsip syariah adalah akad musyarakah, yaitu bentuk kemitraan modal antara dua pihak atau lebih dengan pembagian keuntungan dan risiko berdasarkan kesepakatan bersama. Sayangnya, pemahaman pelaku UMKM kuliner mengenai konsep dan mekanisme akad musyarakah masih rendah, sehingga skema pembiayaan berbasis syariah ini belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk peluang kemitraan modal dengan Baitul Maal wat Tamwil (BMT) sebagai lembaga keuangan mikro syariah yang beroperasi di tingkat lokal. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memberikan penyuluhan kepada pelaku UMKM kuliner di Kota Tebing Tinggi mengenai konsep, prinsip, dan penerapan akad musyarakah sebagai alternatif penguatan kemitraan modal berbasis syariah, sekaligus membuka wawasan mengenai peluang kemitraan dengan BMT setempat. Metode pelaksanaan meliputi survei pendahuluan, penyuluhan dan sosialisasi melalui ceramah interaktif, diskusi tanya jawab, serta pembahasan contoh perjanjian kerja sama akad musyarakah. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap konsep akad musyarakah, manfaat kemitraan modal berbasis syariah, serta mekanisme bagi hasil yang adil dan transparan. Kegiatan ini diharapkan mendorong terbentuknya sinergi antara perguruan tinggi, pelaku UMKM, dan BMT dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kuliner yang inklusif, berkeadilan, dan berbasis prinsip syariah.
Culinary Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in Tebing Tinggi City hold significant potential to drive the local economy. However, many business owners still face capital constraints that hinder business expansion. One Sharia-compliant financing solution is the musyarakah contract a form of capital partnership between two or more parties involving profit and risk sharing based on mutual agreement. Unfortunately, culinary MSME owners often lack understanding of the musyarakah concept and its mechanisms; consequently, this Sharia-based financing scheme remains underutilized, including opportunities for capital partnerships with Baitul Maal wat Tamwil (BMT) local Sharia microfinance institutions. This community service initiative aims to educate culinary MSME owners in Tebing Tinggi City on the concepts, principles, and application of musyarakah contracts as an alternative for strengthening Sharia-based capital partnerships, while also raising awareness about partnership opportunities with local BMTs. The implementation method involved a preliminary survey, educational outreach via interactive lectures and Q&A sessions, and a review of sample musyarakah cooperation agreements. The results indicate an improved understanding among participants regarding the musyarakah concept, the benefits of Sharia-based capital partnerships, and fair, transparent profit-sharing mechanisms. This activity is expected to foster synergy among universities, MSME owners, and BMTs, thereby supporting the growth of a culinary economy that is inclusive, equitable, and grounded in Sharia principles.
Abstract:Indonesia memiliki potensi energi panas bumi yang sangat besar karena berada pada jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Salah satu daerah yang memiliki potensi tersebut adalah Desa Tawa, Kecamatan Bacan Timur Tengah,…
Kabupaten Halmahera Selatan. Namun, hasil observasi awal menunjukkan bahwa peserta didik di SMA Nurul Hasan Bacan Tawa masih memiliki pemahaman yang terbatas mengenai potensi dan pemanfaatan energi panas bumi sebagai sumber energi terbarukan. Selama ini, pembelajaran di sekolah lebih banyak berfokus pada konsep-konsep umum sehingga belum memanfaatkan potensi lokal sebagai sumber belajar yang kontekstual. Kondisi tersebut menyebabkan peserta didik belum mampu menghubungkan materi yang dipelajari dengan potensi sumber daya alam yang ada di lingkungan sekitar. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan literasi energi panas bumi, menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, serta memperkuat pemahaman peserta didik tentang pentingnya energi terbarukan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Kegiatan dilaksanakan pada 23 Maret 2026 di SMA Nurul Hasan Bacan Tawa dengan melibatkan 32 peserta yang terdiri atas 26 siswa dan 6 guru. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif-edukatif melalui tahapan persiapan, penyampaian materi, diskusi interaktif, tanya jawab, observasi, dan evaluasi menggunakan angket. Materi yang diberikan mencakup konsep dasar energi panas bumi, potensi panas bumi di Indonesia dan Desa Tawa, manfaat energi panas bumi sebagai energi terbarukan, serta kontribusinya terhadap pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman peserta didik mengenai potensi energi panas bumi di daerahnya. Peningkatan tersebut terlihat dari partisipasi peserta yang lebih aktif selama diskusi, kemampuan mengaitkan konsep energi terbarukan dengan kondisi lingkungan sekitar, serta tumbuhnya kesadaran untuk menjaga dan memanfaatkan sumber daya alam secara bertanggung jawab. Selain itu, kegiatan ini turut memperkuat pembelajaran kontekstual melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam mengembangkan pendidikan berbasis potensi lokal. Dengan demikian, sosialisasi energi panas bumi berbasis potensi lokal menjadi salah satu strategi yang efektif untuk meningkatkan literasi energi, memperkuat kepedulian terhadap lingkungan, dan mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan di kalangan generasi muda.
Indonesia has enormous geothermal energy potential due to its location along the Pacific Ring of Fire. One of the regions with this potential is Tawa Village, East Central Bacan District, South Halmahera Regency. However, preliminary observations revealed that students at SMA Nurul Hasan Bacan Tawa had limited understanding of the potential and utilization of geothermal energy as a renewable energy source. Learning activities at the school have primarily focused on general theoretical concepts and have not optimally integrated local potential as a contextual learning resource. Consequently, students have not been able to relate the knowledge acquired in the classroom to the natural resources available in their surrounding environment. This Community Service Program aimed to enhance students' geothermal energy literacy, foster environmental awareness, and strengthen their understanding of the importance of renewable energy in supporting sustainable development. The program was conducted on March 23, 2026, at SMA Nurul Hasan Bacan Tawa and involved 32 participants, consisting of 26 students and 6 teachers. The program employed a participatory-educational approach through preparation, material presentation, interactive discussions, question-and-answer sessions, observations, and questionnaire-based evaluations. The learning materials covered the basic concepts of geothermal energy, geothermal potential in Indonesia and Tawa Village, the benefits of geothermal energy as a renewable energy source, and its contribution to environmental conservation and sustainable development. The results demonstrated an improvement in students' knowledge and understanding of the geothermal energy potential in their region. This improvement was reflected in more active participation during discussions, a greater ability to relate renewable energy concepts to their local environment, and increased awareness of the importance of protecting and utilizing natural resources responsibly. Furthermore, the program strengthened contextual learning through collaboration between the university and the school in developing education based on local potential. Therefore, local potential-based geothermal energy outreach can serve as an effective strategy for improving energy literacy, promoting environmental awareness, and supporting sustainable development among young generations.