Abstract:Penyalahgunaan narkoba menjadi salah satu tantangan besar di Indonesia, khususnya bagi warga binaan pemasyarakatan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran diri dan ketahanan pribadi warga binaan melalui pendekatan…
ekatan psikoedukasi. Kegiatan dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Makassar dalam bentuk webinar yang melibatkan 30 warga binaan kasus narkoba. Program ini mencakup sesi pembukaan, ice breaking, penyampaian materi, diskusi, dan refleksi mandiri. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai dampak negatif narkoba serta munculnya kesadaran terhadap potensi diri untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan mampu merefleksikan sisi negatif serta positif dari diri mereka sebagai langkah awal transformasi pribadi. Psikoedukasi terbukti efektif sebagai intervensi psikologis dalam membangun pola pikir positif, pengelolaan emosi, dan kesiapan kembali ke masyarakat. Dengan demikian, program ini menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan dapat berfungsi sebagai wadah rehabilitasi mental melalui pendekatan edukatif yang terstruktur.
Abstract:Korban kekerasan, baik perempuan maupun anak-anak, sering mengalami dampak psikologis yang memerlukan penanganan awal sebelum intervensi lanjutan. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah Psychological First Aid…
d (PFA) atau pertolongan pertama psikologis. Kegiatan ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pelatihan PFA dalam meningkatkan pemahaman petugas layanan di UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Provinsi Sulawesi Selatan terkait penanganan awal kondisi psikologis korban. Kegiatan pelatihan dilakukan melalui metode ceramah dan roleplay. Sebanyak 10 petugas layanan UPT PPA mengikuti pelatihan PFA, dan efektivitasnya diukur melalui hasil pre-test dan post-test. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi (2-tailed) sebesar 0.005 < 0.05. Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara pengetahuan peserta sebelum dan sesudah pelatihan. Temuan ini membuktikan bahwa pelatihan PFA dapat meningkatkan pemahaman peserta terhadap prinsip dan langkah-langkah dalam memberikan dukungan psikologis awal. Pelatihan ini diharapkan memperkuat keterampilan dasar petugas layanan dalam merespons kondisi psikologis korban secara cepat dan tepat. Implikasi kegiatan ini menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di lembaga layanan kekerasan melalui pelatihan berbasis kompetensi psikologis seperti PFA.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan asertif (assertive training) dalam meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal pada aparatur sipil negara (ASN) di UPT Penilaian Potensi dan Kompetensi,…
Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Komunikasi interpersonal yang efektif sangat penting dalam lingkungan kerja birokrasi guna mendukung koordinasi dan produktivitas. Metode penelitian yang digunakan adalah pre-eksperimental dengan desain One-Group Pretest-Posttest. Sebanyak 20 orang ASN berpartisipasi dalam program pelatihan yang dilaksanakan selama satu hari dan terdiri atas ceramah, pelatihan, permainan peran (roleplay), serta relaksasi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala komunikasi interpersonal yang diberikan sebelum dan sesudah pelatihan. Hasil analisis menggunakan perangkat lunak SPSS menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata dari pretest (M = 70.60) ke posttest (M = 77,75). Uji Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,013(p < 0,05), yang mengindikasikan bahwa pelatihan asertif secara signifikan efektif dalam meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal para pegawai. Penelitian ini merekomendasikan pelatihan asertif sebagai salah satu bentuk intervensi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas hubungan kerja di lingkungan birokrasi pemerintahan.
Abstract:Stres merupakan salah satu permasalahan psikologis yang banyak dialami oleh guru sekolah dasar, terutama akibat beban kerja yang tinggi, tuntutan administratif, serta tekanan lingkungan kerja. Ketidakmampuan dalam mengelola…
ola stres dapat berdampak pada penurunan kualitas pengajaran dan kesehatan mental guru. Kegiatan Psikoedukasi ini bertujuan untuk memberikan intervensi berupa pelatihan Emotional Freedom Technique (EFT) sebagai metode praktis dalam membantu guru mengelola stres secara mandiri. Metode yang digunakan adalah quasi-eksperimen dengan desain One Group Pre-Test and Post-Test terhadap 11 guru di SD Negeri Mamajang II Kota Makassar. Teknik pengumpulan data menggunakan skala Perceived Stress Scale (PSS) dan dianalisis dengan uji Paired Sample t-Test melalui SPSS versi 26. Hasil menunjukkan bahwa skor rata-rata stres partisipan menurun dari 24,91 menjadi 17,64 setelah mengikuti pelatihan EFT. Selain itu, tidak ada lagi partisipan yang berada pada kategori stres tinggi setelah intervensi, dan sebagian besar mengalami penurunan ke kategori stres sedang dan rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa EFT efektif sebagai strategi psikoedukatif dalam mengurangi stres guru dan dapat diterapkan dalam program kesejahteraan mental di lingkungan pendidikan dasar.
Abstract:Permasalahan manajemen waktu di lingkungan kerja masih menjadi tantangan yang berdampak signifikan terhadap kualitas kehidupan kerja karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan psikoedukasi sebagai metode intervensi…
rvensi guna meningkatkan pemahaman dan keterampilan karyawan dalam mengelola waktu secara efektif. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain pre-test dan post-test. Peserta dalam kegiatan ini adalah 25 orang karyawan PT Pos Indonesia (Persero) Regional VI Makassar 90004. Hasil analisis data menggunakan uji non-parametrik Wilcoxon Signed Rank menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman peserta mengenai manajemen waktu setelah diberikan materi psikoedukasi, dengan skor rata-rata pre-test sebesar 80.2 meningkat menjadi 92.2 pada post-test. Nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar <.001 menunjukkan bahwa program psikoedukasi ini efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mengenai manajemen waktu sebagai sarana untuk memperbaiki kualitas hidup. Seminar psikoedukasi ini juga mendapatkan respons positif dari para peserta, yang menilai kegiatan ini bermanfaat dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif, seimbang, dan memuaskan.
Abstract:Permasalahan rendahnya self-esteem dan self-image merupakan salah satu hambatan psikologis yang dialami oleh klien rehabilitasi penyalahguna narkotika, terutama akibat adanya stigma sosial. Pengabdian masyarakat ini bertujuan…
ujuan untuk memberikan intervensi psikoedukatif yang mampu meningkatkan pemahaman dan kesadaran diri klien terhadap harga diri dan citra diri positif. Kegiatan dilakukan pada klien rehabilitasi rawat jalan di Badan Narkotika Nasional Provinsi Sulawesi Selatan (BNNP Sulsel) melalui pendekatan partisipatif yang terdiri dari sesi pre-test, penyampaian materi, diskusi interaktif, dan post-test. Materi disampaikan oleh psikolog klinis dengan metode aktif-reflektif, termasuk penulisan versi terbaik diri dan aktivitas eksplorasi kekuatan personal. Hasil uji statistik menunjukkan peningkatan skor rata-rata dari pre-test sebesar 1,50 menjadi 3,56 pada post-test. Uji paired sample t-test menunjukkan signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), menandakan adanya peningkatan pemahaman peserta yang signifikan setelah mengikuti psikoedukasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa psikoedukasi merupakan pendekatan non-medis yang efektif dalam mendukung pemulihan psikologis klien dan dapat dijadikan strategi intervensi alternatif dalam proses rehabilitasi narkotika.
Abstract:Karyawan merupakan aset penting dalam organisasi yang memilikih kebutuhan psikologis termauk kemampuan mengelolah emosi dan berkomunikasi secara efektif dilingkungan kerja. Berdasrkan need assessment dan observasi terhadap…
ap karyawan PT. Primafood Internasional, ditemukan bahwa sebagian besar mengalami kesulitan dalm regulasi emosi yang berdampak pada efektifitas komunikasi. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan psikoedukasi mengenai regulasi emosi untuk meningkatkan komunikasi efektifitas di lingkungan kerja. Metode yang digunakan adalah seminar psikoedukatif dengan pendekatan non pelatihan yang dilengkapi pre-test dan post-test pada peserta sebanyak 16 orang karyawan. Kegiatan dilaksanakan dalam beberapa tahapan yang dimulai dari identifikasi masalah hingga pelaksanaan seminar. Hasil analisis data menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada rata-rata skor pre-test adalah 0,00 menjadi 8,50 pada skor post-test dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara pemahaman peserta sebelum dan sesudah pelatihan.Temuan ini menunjukkan bahwa seminar psikoedukatif efektif dalam meningkatkan pemahaman karyawan mengenai strategi regulasi emosi dan keterampilan komunikasi.
Abstract:Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance) merupakan aspek krusial dalam menunjang kesejahteraan karyawan dan mendukung peningkatan kinerja mereka. PT. Kalla Inti Karsa menghadapi beban…
an kerja yang cukup tinggi, yang berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan dalam kehidupan para karyawannya. Dalam rangka menjawab permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman serta kesadaran karyawan terhadap pentingnya work-life balance melalui pendekatan psikoedukatif menggunakan media poster. Metode yang digunakan meliputi distribusi poster secara daring, disertai dengan pelaksanaan pre-test sebelum intervensi dan post-test sesudahnya untuk melihat perubahan tingkat pengetahuan peserta. Poster yang disebarkan memuat penjelasan mengenai pengertian work-life balance, penyebab ketidakseimbangan, ciri-ciri work-life balance yang sehat, serta cara meningkatkan work-life balance yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebanyak 62 karyawan turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Hasil pre-test memperlihatkan bahwa sebagian besar karyawan mengalami tekanan, keterbatasan waktu untuk diri sendiri, dan kurangnya fleksibilitas kerja. Pasca intervensi, sebanyak 95,2% menyatakan lebih memahami konsep work-life balance, 85,5% mulai menerapkan pengaturan waktu kerja dan pribadi agar lebih seimbang, dan 74,2% merasa lebih tenang. Sebagian besar juga menganggap informasi dalam poster jelas dan bermanfaat. Temuan ini mengindikasikan bahwa psikoedukasi visual efektif dalam meningkatkan kesadaran serta membentuk perilaku kerja yang lebih sehat. Kegiatan ini terbukti memberi kontribusi positif bagi kesejahteraan psikologis karyawan di lingkungan kerja.
Abstract:Work engagement menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang produktif dan bermakna. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Sulawesi…
awesi Selatan, ditemukan bahwa beberapa pegawai masih menunjukkan tingkat keterlibatan kerja yang rendah, seperti kurangnya pemahaman terhadap tugas, rendahnya semangat kerja, dan etos kerja yang belum optimal. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan kerja pegawai melalui kegiatan psikoedukasi yang disampaikan oleh psikolog industri dan organisasi. Kegiatan dilakukan dalam bentuk seminar interaktif dengan pre-test dan post-test kepada 50 dari 67 peserta yang hadir. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara skor pre-test dan post-test (p = 0.038), yang mengindikasikan peningkatan tingkat work engagement setelah mengikuti seminar. Selain itu, hasil evaluasi menunjukkan bahwa 100% peserta memahami materi yang diberikan, dengan 42.6% menyatakan sangat paham dan 57.4% menyatakan paham. Temuan ini menunjukkan bahwa psikoedukasi dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan work engagement pegawai.
Abstract:Rendahnya efektivitas kerja sama tim merupakan salah satu permasalahan utama yang dihadapi oleh organisasi, termasuk di lingkungan UPT Penilaian Potensi dan Kompetensi Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.…
Masalah ini berdampak pada terhambatnya penyelesaian tugas, ketidakseimbangan beban kerja, dan meningkatnya miskomunikasi antarpegawai. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diterapkan metode Leaderless Group Discussion (LGD), yaitu metode diskusi kelompok tanpa pemimpin formal yang mendorong keterlibatan setara antaranggota tim. Kegiatan dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar peserta menunjukkan kemampuan kerja sama tim yang baik, sesuai indikator yang dikemukakan oleh Davis (2014) mencakup tujuan yang sama, antusiasme, peran dan tanggung jawab, komunikasi efektif, resolusi konflik, pembagian kekuasaan (share power), dan keahlian anggota. Meski masih ditemukan individu yang kurang aktif, secara keseluruhan kegiatan ini berhasil meningkatkan kesadaran akan pentingnya kolaborasi, partisipasi aktif, dan tanggung jawab bersama. Dengan demikian, metode LGD dapat menjadi strategi yang relevan dalam membentuk budaya kerja yang lebih kolaboratif dan partisipatif di instansi pemerintahan.