Search Articles & Publications

Showing 1953 articles found for "Main"

Hubungan Antara Status Gizi Dan Tingkat Aktivitas Fisik Dengan Keluhan CTS Pada Mahasiswa UKM UNESA Esport

Ayuwaskitowati, Beta, Cleonara Yanuar Dini
Abstract: Carpal tunnel syndrome (CTS) merupakan kondisi gangguan neuropati yang terjadi akibat penekanan saraf medianus pada carpal tunnel di pergelangan tangan dengan gejalanya yaitu nyeri, mati rasa, dan kesemutan. CTS juga merupakan… upakan salah satu cedera yang dapat dialami oleh para gamer di seluruh dunia akibat gerakan pergelangan tangan yang menekuk dan dipertahankan dalam waktu lama serta gerakan jari yang berulang. Pada beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa pemain game online mengalami keluhan CTS dikarenakan aktivitas fisik yang berat, durasi bermain lebih dari dua jam dengan frekuensi bermain lebih dari dua kali dalam seminggu dan melakukan ≥ 30 kali per menit gerakan repetitif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan tingkat aktivitas fisik dengan keluhan CTS pada mahasiswa UKM UNESA Esport. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Responden penelitian ini adalah mahasiswa anggota UKM UNESA Esport sebanyak 85 orang. Instrumen penelitian ini menggunakan kuisioner identitas responden, kuesioner aktivitas fisik International Physical Activity Questionnare Long Form (IPAQ-LF) dan kuisioner keluhan CTS yaitu Boston Carpal Tunnel Syndrom Questionnaire (BCTSQ). Analisis data yang digunakan adalah univariat dan bivariat menggunakan uji spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan keluhan CTS (p = 0,258). Sedangkan, untuk tingkat aktivitas fisik dengan keluhan CTS terdapat hubungan yang signifikan (p = 0,001). Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan keluhan CTS dan terdapat hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan keluhan CTS.

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Cerdik Dalam Upaya Pencegahan Hipertensi Pada Lansia Di Puskesmas Lubuk Buaya Kota Padang Tahun 2025

Selsa Fadilla, Wilda Tri Yuliza, Afzahul Rahmi
Abstract: Hipertensi merupakan penyebab utama komplikasi serius seperti stroke dan gagal ginjal yang banyak menyerang lansia. Salah satu strategi pencegahan adalah penerapan perilaku CERDIK (Cek kesehatan, Enyahkan asap rokok, Rajin… in aktivitas fisik, Diet sehat, Istirahat cukup, dan Kelola stres), belum semua lansia menerapkan perilaku CERDIK secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku CERDIK dalam upaya pencegahan hipertensi pada lansia di Puskesmas Lubuk Buaya Kota Padang. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi adalah seluruh lansia yang berumur 60-74 tahun yang berkunjung ke  Puskesmas Lubuk Buaya Kota Padang dengan sampel sebanyak 96 orang dipilih secara accidental sampling. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-Agustus, pengumpulan data pada tanggal 26 Mei - 5 Juni 2025. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner melalui wawancara langsung dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 45,8% lansia memiliki perilaku CERDIK kurang baik, 37,5% lansia memiliki tingkat pengetahuan rendah, 47,9% lansia memiliki akses informasi yang kurang baik dan 37,5% lansia memiliki dukungan keluarga yang kurang baik. Hasil uji statistik  didapatkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan (p = 0,00) dan akses informasi (p = 0,026) dengan perilaku CERDIK. Namun, tidak terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku CERDIK (p = 0,669). Tingkat pengetahuan dan akses informasi merupakan faktor yang berhubungan dengan perilaku CERDIK dalam upaya pencegahan hipertensi pada lansia. Diperlukan peningkatan edukasi dan penyediaan informasi kesehatan yang mudah diakses bagi keluarga lansia sebagai bagian dari intervensi promotif di tingkat puskesmas.   Kata Kunci : Hipertensi,  lansia, perilaku CERDIK   Abstract   Hypertension is a non-communicable disease that often attacks the elderly and is the main cause of serious complications such as stroke and kidney failure. One of the prevention strategies recommended by the government is the implementation of CERDIK behavior (Check health, Eliminate cigarette smoke, Be diligent in physical activity, Healthy diet, Get enough rest, and Manage stress). However, not all elderly people implement this behavior optimally. This study aims to determine the factors related to CERDIK behavior in efforts to prevent hypertension in the elderly at the Lubuk Buaya Health Center, Padang City.This research is a quantitative study with a cross sectional design. The population was all elderly people aged 60-74 years and over who visited the Lubuk Buaya Health Center, Padang City with a sample of 96 elderly people selected by accidental sampling. The research was conducted in March-August. Data collection was carried out on 25 Mei – 6 Juni 2025. Data were collected using a questionnaire through direct interviews and analyzed using univariate and bivariate analysis with the chi-square test.The results of the study showed that 45.8% of elderly people had poor CERDIK behavior, 37.5% of elderly people had low levels of knowledge, 47.9% of elderly people had poor access to information and 37.5% of elderly people had poor family support. The results of statistical tests showed that there was a relationship between the level of knowledge (p = 0.000) and access to information (p = 0.026) with CERDIK behavior. However, there was no relationship between family support and CERDIK behavior (p = 0.669). Knowledge and access to information are factors associated with CERDIK behaviors in preventing hypertension in the elderly. Improved education and the provision of easily accessible health information for families of the elderly are needed as part of promotive interventions at the community health center level.

Tinjauan Hukum Administrasi Negara Terhadap Efektivitas Pemungutan Retribusi Sampah Berdasarkan Perda Bangkalan No. 1 Tahun 2024

Fitron, Dimas Fian Wahyu Mahardika
Abstract: AbstrakPenelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas pemungutan retribusi pelayanan persampahan di Kabupaten Bangkalan pasca berlakunya Peraturan Daerah Kabupaten Bangkalan Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi… ribusi Daerah. Melalui pendekatan Hukum Administrasi Negara, kajian ini membedah keabsahan wewenang, instrumen yuridis, dan hambatan operasional Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bangkalan. Analisis dilakukan dengan menerapkan teori kewenangan Philipus M. Hadjon, teori instrumen pemerintahan Ridwan HR, serta teori efektivitas hukum Soerjono Soekanto. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa rencana penerapan retribusi sampah bagi dapur Program Makan Bergizi Gratis sebesar dua ratus ribu rupiah per bulan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2024 dan Peraturan Bupati Nomor 9 Tahun 2025 belum berjalan efektif. Tingkat kepatuhan wajib retribusi sangat rendah karena hanya sekitar dua puluh pelaksana yang melakukan pembayaran. Penyebab utama meliputi ketidakjelasan skema pelayanan akibat tarif yang tidak mencakup biaya pengangkutan sampah, kelumpuhan infrastruktur di Tempat Pemrosesan Akhir Buluh, dan lemahnya penegakan sanksi administratif oleh aparat pemungut. Situasi ini memicu tindakan kedinasan non-prosedural serta konflik sosial-ekologis dengan masyarakat desa setempat. Guna menyelesaikan permasalahan tersebut, diperlukan klarifikasi skema pelayanan yang mencakup seluruh komponen biaya, rehabilitasi infrastruktur pemrosesan sampah, serta penguatan penegakan sanksi administratif untuk meningkatkan kepatuhan dan efektivitas pemungutan retribusi. Kata Kunci: Hukum Administrasi Negara; Retribusi Sampah; Efektivitas Hukum; Kabupaten Bangkalan. AbstractThis study aims to examine the effectiveness of waste service retribution collection in Bangkalan Regency following the enactment of Bangkalan Regency Regional Regulation Number 1 of 2024 concerning Regional Taxes and Retributions. Using an Administrative Law approach, this research analyzes the legitimacy of authority, juridical instruments, and operational obstacles faced by the Environmental Agency of Bangkalan Regency. The analysis applies Philipus M. Hadjon’s theory of authority, Ridwan HR’s theory of government instruments, and Soerjono Soekanto’s theory of legal effectiveness. The findings reveal that the planned implementation of a waste retribution fee of two hundred thousand rupiah per month for kitchens under the Free Nutritious Meals Program (Program Makan Bergizi Gratis), based on Regional Regulation Number 3 of 2024 and Regent Regulation Number 9 of 2025, has not been effective. The level of compliance among retribution payers remains very low, with only approximately twenty operators making payments. The main causes include unclear service schemes due to tariffs that do not cover waste transportation costs, the dysfunction of infrastructure at the Buluh Final Processing Site (Tempat Pemrosesan Akhir Buluh), and weak enforcement of administrative sanctions by collection officers. This situation has triggered non-procedural administrative actions and socio-ecological conflicts with local village communities. To address these issues, it is necessary to clarify the service scheme to include all cost components, rehabilitate waste processing infrastructure, and strengthen the enforcement of administrative sanctions in order to improve compliance and the overall effectiveness of retribution collection. Keywords: Administrative Law; Waste Retribution; Legal Effectiveness; Bangkalan Regency.

Moderasi Beragama dan Pendidikan Islam Multikultural pada Tradisi Kejawen Kutorojo

Ceren Desta Joina, Anggun Setiani, M. Irfansyah Afsalu Ramedhon, Muhammad Fajrul Falah, Siti Mutmainah, Alis Kholisoh, Nisfu Istiqomah, Wildan Khairil Anam, Arditya Prayogi
Abstract: Artikel ini mengkaji praktik moderasi beragama pada komunitas Islam Kejawen di Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, serta relevansinya bagi penguatan pendidikan Islam multikultural. Kutorojo menarik ditelaah… laah karena telah ditetapkan sebagai Kampung Moderasi Beragama dan dihuni oleh masyarakat Islam, Hindu, penghayat kepercayaan, serta penganut tradisi Kejawen. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif lapangan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan kepala desa, pemangku adat Kejawen, dan warga. Data dianalisis melalui reduksi, penyajian, dan penarikan makna berdasarkan fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kejawen di Kutorojo diterima sebagai warisan budaya lokal, bukan sebagai ancaman sosial-keagamaan. Nilai moderasi tampak pada toleransi terhadap perbedaan praktik, keterlibatan lintas kelompok dalam Nyadran, Ruwat Bumi, Suronan, gotong royong, serta kebijakan desa yang memberi ruang setara bagi kelompok minoritas. Temuan ini memperlihatkan bahwa pendidikan Islam multikultural dapat bertolak dari pengalaman sosial masyarakat, terutama melalui pembelajaran tentang penghormatan terhadap budaya lokal, dialog, anti-diskriminasi, dan tanggung jawab menjaga kerukunan.

Analisis Etos Patos Dan Logos Dalam Ceramah Ustaz Abdul Somad Tentang Pentingnya Menjaga Akhlak

Wiji Rahayu, Rhani Febria
Abstract: This study aims to describe, identify, and analyze in depth the manifestation of ethos, pathos, and logos in Ustaz Abdul Somad's lecture on the importance of maintaining morals. The research method applied is a qualitative… ve approach with a descriptive type to systematically outline linguistic facts and communication strategies. The data collection process relies on literature review techniques to gather trusted supporting scientific literature. Data reduction, data presentation, and conclusion drawing are utilized as analytical stages to dissect the entire lecture recording based on Aristotle's rhetorical triangle theory. The results show that the element of ethos or credibility is built through the adjustment of local sarong clothing, a humble attitude toward elders, respectful etiquette toward Madurese kiai, and authoritative hadith references. The element of pathos or emotional appeal is manifested through dramatic narratives of a mother's struggle in giving birth, the physical sacrifice of a father in the orchard, the story of his own mother's passing, and the analogy of an old Quranic mushaf for the elderly to arouse the congregation's pity and regret. The element of logos or logical argument is proven through the syllogism of moral priority over material wealth, the law of direct causal retribution for rebellious children, and textual historical proof regarding the inclusivity of the prophet's social relations with non-Muslims. The synchronization of these three rhetorical elements successfully packages weighty morality material into a logical yet deeply touching spiritual presentation for the congregation.

Klasifikasi dan Pemanfaatan Media Pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam

Nuryatin, Elia, Mutmainnah, Diva Harfi, Mulyana, Anida Zahra, Wahyudin, Muhammad Hafidz, Saefullah, Agus Susilo
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai macam dan aplikasi media pembelajaran di kelas Pendidikan Agama Islam (PAI). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui tinjauan pustaka, penelitian ini mengumpulkan… pulkan data dari jurnal, buku, dan publikasi ilmiah. Temuan menunjukkan bahwa media pembelajaran PAI mencakup jenis audio, visual, audio-visual, dan digital interaktif. Bukti menunjukkan bahwa alat-alat ini efektif meningkatkan keterlibatan, motivasi, pemahaman, dan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran. Namun, tantangan tetap ada, termasuk fasilitas yang tidak memadai dan kemampuan teknologi guru yang terbatas. Untuk mengoptimalkan penggunaannya, peningkatan keterampilan pendidik dan penguatan infrastruktur menjadi hal yang penting.

Efforts To Preserve Local Wisdom In The Hape Nulif Tradition In Duawutun Village, Nagawutung District, Lembata District

St. Sara N.K. Ladopurap, Darman Manda
Abstract: The research findings indicate that community participation from Duawutun and Wuakerong villages in the Hape Nulif tradition extends beyond mere physical presence, manifesting as structured and active involvement throughout… out every stage of the ritual. The community demonstrates a high spirit of gotong royong (mutual cooperation), reflected in the clear distribution of roles among traditional leaders, youth figures, and women. This collective cooperation encompasses everything from ritual logistical preparations to the execution of core processions, which directly strengthens social cohesion and solidarity among residents. Substantially, this tradition serves as a space for articulating local cultural identity, bridging material and spiritual dimensions where reverence for ancestors and nature remains a central value. The intergenerational distribution of responsibilities ensures that every community member feels a profound sense of belonging toward the preservation of this local wisdom. Consequently, the Hape Nulif ritual becomes a crucial instrument in bolstering cultural resilience amidst modernization, while reaffirming the position of the Duawutun community as one that steadfastly upholds noble human values and togetherness within a sacred traditional framework.

Tudang Sipulung Custom In Marannu Village Maros District

Hasriani, Jumadi Sahabuddin
Abstract: The Tudang Sipulung tradition represents the crystallization of deliberative consensus values that persist within the agrarian communities of South Sulawesi. This study aims to describe and analyze the implementation process… cess of the Tudang Sipulung custom in Marannu Village, Maros Regency. Employing a qualitative research method with a distinct anthropological approach, data were gathered through participant observation and in-depth interviews with key informants. The findings reveal that the execution of Tudang Sipulung in Marannu Village is not merely a ceremonial ritual but a structured forum for collective decision-making. This procession involves a synergy between traditional leaders, village government officials, agricultural extension workers, and the farming community, particularly in preparation for the rice planting season. The primary agenda includes determining planting schedules, selecting seed varieties, and managing irrigation systems to minimize the risk of crop failure. Anthropologically, this tradition serves as a medium for social integration, bridging local wisdom with technical government policies. This study concludes that the sustainability of Tudang Sipulung is a crucial factor in maintaining food security and social harmony within the Marannu Village community.

Social Reality of Employment in Bengkulu Province: Policy Analysis of Programs, Obstacles, and Challenges

Reza Oktaviani, Ahnaf, Nugraha, Santi, Jannah, Diah Nadiatul
Abstract: Employment is an activity undertaken by individuals to earn income in order to sustain a decent standard of living. Employment relationships are established through agreements between employers and workers, and such agreements… ements should ensure decent work conditions. However, in reality, there is insufficient government supervision in ensuring the fulfillment of workers’ rights in accordance with Law No. 13 of 2003. The distribution of rights for female workers is also not optimally implemented. In addition, workforce skills remain a concern, as many workers only possess primary to junior secondary education. Furthermore, freelance work has become increasingly popular due to its flexibility in time and location. Therefore, solutions are needed to address employment issues in Bengkulu Province. Data collection in this study was conducted through interviews with the Bengkulu Provincial Manpower Office. Data analysis employed a qualitative approach. The findings indicate that many workers are engaged in seasonal sectors with unstable income. The Bengkulu Provincial Manpower Office has implemented programs such as job fairs, vocational training and education, and occupational health and safety socialization. Generation Z is perceived as less loyal and tends to frequently change jobs, showing a strong preference for freelance work due to its flexibility. Policy development is needed to provide legal protection for workers. Recommended actions include stricter enforcement against companies violating labor rights, particularly those committing violence against female workers, conducting awareness programs in collaboration with the Ministry of Women’s Empowerment and Child Protection and labor protection institutions, and optimizing integrated reporting systems to accelerate the resolution of such cases.

Analisis Pengaruh Faktor Religiusitas, Sosial, dan Budaya Terhadap Keputusan Konsumsi Produk Halal di DKI Jakarta

Tsaniyah Izzati Muthmainnah, Sutan Emir Hidayat
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor religiusitas, sosial, dan budaya terhadap keputusan konsumsi produk halal di kalangan masyarakat DKI Jakarta. Produk halal kini tidak hanya dianggap sebagai kebutuhan… utuhan spiritual, tetapi juga bagian dari gaya hidup masyarakat Muslim urban yang semakin sadar akan nilai-nilai keislaman, kualitas, dan keamanan produk. Namun, meskipun mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, tidak semua individu memiliki pola konsumsi halal yang konsisten. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk memahami sejauh mana ketiga faktor tersebut memengaruhi preferensi konsumsi. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner yang disebarkan kepada 402 responden Muslim di enam wilayah administratif DKI Jakarta. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) berbasis Partial Least Square (PLS) melalui aplikasi SmartPLS 4. Uji yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji validitas (Convergent Validity), uji reliabilitas (Cronbach’s Alpha dan Composite Reliability), uji R-square, serta uji hipotesis, baik secara parsial (uji-t) maupun simultan (uji-F). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, hanya faktor religiusitas yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumsi produk halal. Sedangkan faktor sosial dan budaya tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Namun, secara simultan, ketiga faktor tersebut mampu menjelaskan sebesar 80,5% variasi dalam keputusan konsumsi. Hasil ini menegaskan bahwa religiusitas menjadi faktor utama dalam perilaku konsumsi produk halal masyarakat urban, serta menjadi acuan penting dalam penyusunan strategi pemasaran dan edukasi halal di wilayah perkotaan.